Sabtu, 19 Desember 2009

61. ALMANAK HIJRIYAH

Kita telah memasuki bulan Muharam 1431 tahun Hijriah menurut Kalender atau Almanak Hijriyah. Almanak Islam ini sering dilupakan oleh kaum Muslimin sendiri, padahal almanak ini sangat penting. Begitu pentingnya, Khalifah Ummar bin Khatthab, memandang perlu membuat sebuah almanak yang dimulai sejak Rasulullah SAW berhijrah dari Mekkah pada tanggal 12 Shaffar ke Yatsrib (Madinah) dan tiba di sana tanggal 12 Rabi’ul Awal.

Sejak saat itulah, seluruh almanak yang ada disatukan kemudian ditetapkanlah Almanak Hijriyah, yang terdiri dari 12 bulan. Hal ini sesuai firman Allah SWT: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, … [At Taubah (9): 36]

Nama bulan-bulan dalam Almanak Hijriyah adalah: 1. Muharam, 2. Shaffar, 3. Rabi’ul Awal, 4. Rabi’ul Akhir, 5. Jumadi Awal, 6. Jumadi Akhir, 7. Rajab, 8. Sya’ban, 9. Ramadhan, 10. Syawal, 11. Dzul Qo’idah, 12. Dzul Hijjah. Di samping itu Almanak Hijriyah juga menetapkan nama-nama 7 hari, yaitu: 1. Ahad, 2. Itsnain, 3. Tsalatsa, 4. Arba’a, 5. Khamis, 6. Jumu’ah, 7. Sabtu.

Di antara hari yang tujuh itu, hari Jumu’ah mengandung banyak kelebihan dan keutamaan. Pada hari iru Allah SWT mengutus para malaikat-Nya untuk berdiri di depan pintu-pintu masjid guna mencatat setiap orang yang masuk untuk menunaikan shalat Jum’at. Sesudah khatib naik mimbar, para malaikat menutup catatannya, dan turut mendengarkan khutbah. Maka orang-orang yang datang ke mesjid sesudah itu, hanya turut shalat semata, tanpa tercatat oleh malaikat.

Penamaan bulan-bulan dalam Tahun Hijriyah, disesuaikan dengan masa yang dialami oleh bangsa Arab. Misalnya Ramadhan, bulan kesembilan. Artinya sangat panas. Bulan Ramadhan adalah satu-satunya yang disebut dalam Al Qur’an. Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian dan aneka keistimewaan.

Hal ini dikarenakan peristiwa-peristiwa sebagai berikut: 1. Pertama kali Allah menurunkan ayat-ayat Al Qur’an. 2. Salah satu malam di bulan ini dijadikan malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah. 3. Bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib. 4. Pada bulan ini kaum Muslimin bisa menaklukkan kaum Musyrik dalam perang Badar Kubra. 5. Pada bulan ini juga Nabi Muhammad SAW berhasil mengambil kota Mekkah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan kaum Musryik.

Dilihat dari fungsinya, bulan Ramadhan memiliki beberapa nama, antara lain: 1. Syahrul Qur’an, adalah bulan pertama ayat-ayat Al Qur’an diturunkan. 2. Syahrul Tilawah, adalah bulan pembacaan Al Qur’an, yakni bulan untuk memperbanyak waktu dengan membaca dan mempelajari Al Qur’an. 3. Syahrul Shiyam, adalah bulan diwajibkan puasa bagi ummat Islam. 4. Syahrul Sabri, adalah bulan untuk melatih kesabaran. 5. Syahrul Najah, adalah bulan pelepasan dari azab neraka (pengampunan). 6. Syahrur Rahmah, adalah bulan yang penuh limpahan rahmat. 7. Syahrul Ala’i, adalah bulan yang penuh kenikmatan dan limpahan karunia.

Misal yang lain adalah Dzulhijjah, nama bulan keduabelas. Penamaan Dzulhijjah, karena di bulan itu ummat Islam menunaikan ibadah haji.

Tahun Hijriyah, dasarnya adalah: perputaran bulan (qamariyah) mengelilingi bumi dalam waktu 29½ hari. Karena itu Almanak Hijriah juga sering disebut Almanak Qamariyah. Tergantung hasil perhitungan setiap bulannya, kadang-kadang jumlah hari ada yang 29 hari atau 30 hari. Misalnya pada bulan Ramadhan, jika pada akhir Ramadhan tanggal 29 hilal (awal bulan) bisa terlihat, maka berpuasa hanya sampai hari itu, sedangkan jika tidak terlihat karena mendung atau ragu-ragu, maka puasa digenapkan 30 hari.

Penentuan tahun hijrah sebagai tahun Islam, adalah karena makna hijrah itu sendiri. Hijrah bermakna berpindah, baik berpindah tempat tinggalnya maupun hatinya. Dalam pengertian hijrah ini, sebenarnya yang lebih penting bukan perpindahan badan kita, tetapi hati kita (hijrah fil qalbi), artinya hati dan fikiran kita siap berhijrah meninggalkan yang bathil berpindah menuju yang haq, karena inti pokok ajaran Rasulullah SAW adalah amar ma’ruf nahi munkar..

Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan (mereka) itu lah yang mendapatkan kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat-Nya, keridhaan dan syurga-Nya, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.” [QS At Taubah (9): 20-21].

Makna ayat tersebut sudah jelas dan mudah kita pahami. Dalam pengertian ini tentunya hijrah fil qalbi, jihad dalam arti berjuang menegakkan kebenaran, yang haq, termasuk menegakkan ajaran Islam, dan tidak harus bermakna angkat senjata atau perang. Jadi iman sebagai landasan sangat ditekankan, karena bila kita bersedia berhijrah dan berjihad, tetapi bukan berdasarkan iman, maka hal itu akan sia-sia, tanpa makna.

Allah berfirman: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang, apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka, dan kepada Allah lah mereka bertawakkal” [QS Al Anfaal (8): 2]. Dalam kaitan ini Rasulullah SAW pernah menegaskan: “Iman, ialah meyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengerjakan dengan anggota badan.” [HR Muslim].

Setiap ummat manusia sangat membutuhkan almanak, yakni perhitungan waktu, baik perhitungan hari, minggu, bulan maupun tahun. Dengan almanak manusia bisa menentukan rencana kerja di waktu mendatang, mengingat perisitwa yang telah terjadi pada masa lalu. Dalam Islam almanak dipandang sangat penting, karena dengan almanak ummat dapat mengetahui hari-hari yang dianjurkan Allah SWT untuk beribadah.

Untuk itu Islam mendasarkan penanggalan harinya kepada perjalanan bulan, agar mudah menghitungnya, sedangkan ketentuan ibadah juga didasarkan pada hitungan bulan. Maka sangatlah rugi orang yang tidak memperhitungkan waktu dalam hidupnya dalam rangka beribadah kepada Allah SWT sebagaimana ditegaskan dalam firmannya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [QS Al ‘Ashr (103): 1-3].

Pada masa kejayaan Islam, almanak Hijriyah pernah mendunia menjadi almanak internasional. Di Indonesia almanak Hijriyah pernah menjadi ‘almanak nasional’, terutama di pulau Jawa, Sumatera dan Sekitarnya, yakni di masa Kerajaan Samudera Pasai di Aceh dan Kerajaan Islam Mataram di Jawa. Tetapi setelah Belanda menjajah Indonesia, almanak Hijriyah ikut terjajah dan berganti dengan almanak Masehi, sehingga ummat Islam Indonesia sampai sekarang lebih menyukai Almanak Masehi, bahkan banyak Almanak Masehi yang tidak mencantumkan Almanak Hijriyah di sampingnya.

Banyak ummat Islam yang kurang menyadari pentingnya hari-hari berpuasa dari puasa wajib di bulan Ramadhan, puasa-puasa sunnah pada; setiap Senin dan Kamis, tiga hari di pertengahan bulan, puasa sunnah Muharram, puasa sunnah Sya’ban, puasa sunnah Syawal, dan puasa sunnah di awal bulan Dzulhijjah.

Di samping itu Almanak Hijriyah juga penting untuk memperingati hari-hari besar Islam seperti: 1 Muharram; Tahun Baru Hijriyah, 10 Muharram; Hari Asyura, 12 Rabiul Awal; Hari Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW, 27 Rajab; Hari Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW, 15 Sya’ban; Hari yang pada malam harinya dibukakan 300 pintu rahmat dan pengampunan bagi orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, 17 Ramadhan; Hari Nuzulul Qur’an, 1 Syawal; Hari Raya Idul Fitri, 10 Dzulhijjah; Hari Raya Idul Adha.

Allah menciptakan manusia untuk mengabdi kepada-Nya, karena itu dia menciptakan hari dan bulan erat hubungannya dengan waktu ibadah. Banyak orang tidak menyadari bahwa wajah bulan dari pandangan manusia di bumi berbeda-beda dari bentuk sabit sampai bulan purnama yang indah, kemudian kembali ke bentuk sabit lagi hingga genap lamanya antara 29 hingga 30 hari.

Allah SWT berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; … “ [QS Al Baqarah (2): 189]. Yang demikian itu agar manusia dapat menghitung hari dari awal hingga akhir bulan dan peralihannya, serta di hari dan bulan apa mereka diperintah untuk beribadah. [Hermanto]



PENGURUS ‘JAMA'ATUSH SHIRAATHAL MUSTAQIIM’

PENGASUH MEDIA DAKWAH ‘AL MUSTAQIIM’

MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU 1431 HIJRIYAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar