Pada zaman Rasulullah SAW, sebagian orang Nasrani menjalani kependetaan atau kerahiban. Al Qur’an banyak memuji mereka. Dalam QS Al Maaidah, yang mengisahkan turunnya hidangan dari langit bagi Nabi Isa AS, tertulis salah satu pujian Tuhan bagi para rahib kaum Nasrani: ”Yang demikian itu karena sebagian di antara mereka ada para pendeta dan para rahib. Sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” [QS. Al Maaidah (5): 82].
Mendengar hal itu beberapa orang sahabat berkata: “Bila begitu mulianya para rahib, mengapa Islam tidak mengajarkan kerahiban? Rasulullah SAW bersabda: “Tuhan sudah menggantikannya bagi kita dengan jihad dan takbir di setiap tempat tinggi, yakni, haji”. Jadi haji adalah kependetaan dalam Islam. Bedanya dengan kerahiban dalam agama Nasrani dan juga agama-agama lainnya ada dua hal: > Pertama, kerahiban haji ini diwajibkan kepada semua ummat Islam yang sudah memenuhi syarat. > Kedua, kerahiban ini bersifat temporer, sementara, dan pada waktu tertentu.
Allah SWT berfirman: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahui-Nya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. [QS Al Baqarah (2): 197].
Seperti para rahib, jamaah calon haji terikat dengan tiga sumpah setia: tidak rafats, tidak fusuq, tidak jidal. Menurut para ahli tafsir, rafats artinya melakukan hubungan seksual atau apa pun yang membangkitkan gairah seksual seperti bersentuhan, berpandangan, berbincang, berdua-duaan. Fusuq adalah perbuatan dan perkataan yang dimaksudkan untuk menyakiti, menyerang, merusak, mengganggu, atau merendahkan orang lain. Jidal berkaitan dengan pertengkaran atau perdebatan yang membuat orang lain marah. Dalam jidal, semua orang menganggap pendapatnya yang paling benar.
Tiga hal di atas sebagai ungkapan dari tiga kekuatan dalam batin kita: kekuatan syahwat, kekuatan ghadhab, kekuatan wahmiyah. Tiga kekuatan ini menarik kita untuk bertindak. Kekuatan syahwat menarik kita untuk mengejar kesenangan jasmaniah; makan, minum, seks, hiburan. Kekuatan ghadhab berkaitan dengan dorongan untuk mengungguli atau mengalahkan orang lain. Di dalamnya termasuk kesombongan, kedengkian, dendam kesumat, kebencian. Kekuatan wahmiyah datang dari syeitan. Inilah kekuatan ‘intelektual’ yang memberikan pembenaran untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.
Bila orang itu dikuasai oleh kekuatan syahwatnya, dalam alam ruhaniah ia tidak lagi berbentuk manusia. Ia menjadi babi. Bila ia dikendalikan oleh kekuatan ghadhabnya, ia menjadi serigala atau binatang buas lainnya. Bila ia diarahkan oleh kekuatan wahmiah ia menjadi monyet. Dalam diri kita, kata para sufi, ada sifat-sifat kebinatangan. Para tokoh ‘dunia’ sering bertengkar, menyatakan dirinya paling benar. Tidak jauh dari situ ada tokoh-tokoh ‘agama’. Mereka menggunakan ayat-ayat suci untuk membenarkan akhlaknya yang buruk. Menuding golongan lain sesat, membanggakan golongannya sebagai pilihan Tuhan untuk menyelamatkan dunia.
Mendengar hal itu beberapa orang sahabat berkata: “Bila begitu mulianya para rahib, mengapa Islam tidak mengajarkan kerahiban? Rasulullah SAW bersabda: “Tuhan sudah menggantikannya bagi kita dengan jihad dan takbir di setiap tempat tinggi, yakni, haji”. Jadi haji adalah kependetaan dalam Islam. Bedanya dengan kerahiban dalam agama Nasrani dan juga agama-agama lainnya ada dua hal: > Pertama, kerahiban haji ini diwajibkan kepada semua ummat Islam yang sudah memenuhi syarat. > Kedua, kerahiban ini bersifat temporer, sementara, dan pada waktu tertentu.
Allah SWT berfirman: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahui-Nya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. [QS Al Baqarah (2): 197].
Seperti para rahib, jamaah calon haji terikat dengan tiga sumpah setia: tidak rafats, tidak fusuq, tidak jidal. Menurut para ahli tafsir, rafats artinya melakukan hubungan seksual atau apa pun yang membangkitkan gairah seksual seperti bersentuhan, berpandangan, berbincang, berdua-duaan. Fusuq adalah perbuatan dan perkataan yang dimaksudkan untuk menyakiti, menyerang, merusak, mengganggu, atau merendahkan orang lain. Jidal berkaitan dengan pertengkaran atau perdebatan yang membuat orang lain marah. Dalam jidal, semua orang menganggap pendapatnya yang paling benar.
Tiga hal di atas sebagai ungkapan dari tiga kekuatan dalam batin kita: kekuatan syahwat, kekuatan ghadhab, kekuatan wahmiyah. Tiga kekuatan ini menarik kita untuk bertindak. Kekuatan syahwat menarik kita untuk mengejar kesenangan jasmaniah; makan, minum, seks, hiburan. Kekuatan ghadhab berkaitan dengan dorongan untuk mengungguli atau mengalahkan orang lain. Di dalamnya termasuk kesombongan, kedengkian, dendam kesumat, kebencian. Kekuatan wahmiyah datang dari syeitan. Inilah kekuatan ‘intelektual’ yang memberikan pembenaran untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.
Bila orang itu dikuasai oleh kekuatan syahwatnya, dalam alam ruhaniah ia tidak lagi berbentuk manusia. Ia menjadi babi. Bila ia dikendalikan oleh kekuatan ghadhabnya, ia menjadi serigala atau binatang buas lainnya. Bila ia diarahkan oleh kekuatan wahmiah ia menjadi monyet. Dalam diri kita, kata para sufi, ada sifat-sifat kebinatangan. Para tokoh ‘dunia’ sering bertengkar, menyatakan dirinya paling benar. Tidak jauh dari situ ada tokoh-tokoh ‘agama’. Mereka menggunakan ayat-ayat suci untuk membenarkan akhlaknya yang buruk. Menuding golongan lain sesat, membanggakan golongannya sebagai pilihan Tuhan untuk menyelamatkan dunia.
Kira-kira hampir satu abad setelah hijrah Rasulullah SAW, ummat Islam sedang melakukan wuquf di Arafah. Di situ ada cicit Nabi, Imam Ali Zainal Abidin, seorang wali Allah yang mendapat maqam imamah. Di dekatnya ada muridnya yang cerdas: Al Zuhri. Ketika Al Zuhri takjub mendengar gemuruh orang yang sedang bertalbiyah di padang Arafah, Ali Zainal Abidin bertanya: "Berapa orang yang haji sekarang menurut perkiraanmu?" Kata Al Zuhri: "Empat ratus atau lima ratus ribuan. Semuanya haji. Mereka menuju Tuhan dengan mengorbankan hartanya. Mereka berdoa dengan gemuruh suaranya."
Ali Zainal Abidin berkata: “Wahai Zuhri, betapa banyaknya teriakan dan betapa sedikitnya haji. Al Zuhri terperanjat: “Mereka ini semua haji, masa sedikit?” Kata Ali: “Hai Zuhri dekatkan mukamu kepadaku”. Ia mendekatkan mukanya. Lalu Imam mengusap mukanya seraya berkata: "Lihat". Al Zuhri menengok manusia. Tiba-tiba ia terperanjat: “Aku melihat mereka itu semua monyet saja. Tidak kulihat manusia kecuali satu orang pada setiap ribu orang.” Untuk kedua kalinya Imam Ali menyapu muka Zuhri. Kali ini ia melihat semuanya babi. Ketika untuk ketiga kalinya ia diusap, ia melihat semua yang berkumpul di Arafah itu serigala, kecuali sekelompok kecil orang. Ia berkata: “Wahai putra Rasulullah, betapa dahsyatnya pemandangan yang aku saksikan ini, demi ayah dan ibuku”
Mengapa jemaah haji itu berubah menjadi kawanan binatang? Mereka melanggar tiga sumpah setia sebagai rahib, pendeta Islam. Babi-babi itu adalah jemaah yang tidak dapat mengendalikan syahwatnya. Seperti kata Sutardji Calzum Bachri: "Lidahnya berzikir tetapi zakar juga yang terpikir". Mereka itulah yang datang ke rumah Allah tetapi tidak dapat meninggalkan sifat kebabiannya. Mereka melakukan rafats.
Serigala-serigala itu tidak sedang berzikir dan bertalbiyah. Mereka sedang melolong melengking. Mereka adalah jemaah yang masih juga senang mempergunjingkan orang lain, memaki menghardik, menyerang kehormatan orang lain. Mereka berangkat ke tanah suci dalam raganya, tetapi batinnya masih juga membuat rencana untuk merampas hak orang lain. Boleh jadi bahkan keinginannya untuk menaklukkan lawan-lawan bisnisnya masuk dalam doa-doanya. Di alam gaib sana, do’anya itu menjadi raungan serigala. Mereka melakukan fusuq.
Monyet-monyet itu adalah jemaah yang masih merasa bahwa dirinya yang paling benar. Ketika ia berhadapan dengan orang yang berasal dari mazhab lain, ia mencemoohkan mereka sebagi orang-orang yang sesat. Ia juga rajin memprotes, membantah, menunjukkan keberaniannya dalam mempertahankan pendapat. Mereka adalah orang-orang yang hadir dalam majelis dan merasa bahwa merekalah yang paling shalih. Mereka melakukan jidal.
Walhasil, haji adalah kerahiban dalam Islam. Hakikat haji ialah menyembelih segala sifat kebinatangan kita. Ironis sekali jika kita berusaha menjaga diri agar tidak selembar rambut pun jatuh pada waktu ihram, karena takut kena dam, tetapi lidah kita gampang saja menyerang orang lain, karena tidak ada dam-nya. Melihat dengan syahwat, memaki, dan bertengkar memang tidak dikenai dam. Karena orang yang melakukan ketiga hal itu dengan sendirinya hajinya batal, secara ruhaniah, ia bukan anggota jemaah haji. Ia hanyalah anggota kerumunan binatang.
Berkenaan dengan musim haji, kita perlu bercermin dan merenungkan bagaimana sebenarnya wajah kita sebagai ummat Islam. Jelas terlihat bahwa kemakmuran yang dicapai manusia lebih bersifat duniawi dan telah mencapai puncaknya sedemikian rupa, sehingga kita yang sudah mendapatkan bimbingan para rasul pun telah mendzalimi diri sendiri. Kaum Muslimin menggunakan kesempatan menunaikan rukun Islam kelima yaitu Ibadah Haji, untuk melengkapi 4 rukun Islam yang tentunya telah ditunaikan dengan baik sesuai kemampuan masing-masing. Tetapi sudahkan kita mendalami makna setiap rukun Islam itu? Mengambil hikmah dari falsafah Rukun Islam, kita bisa mengurai karakter manusia ke dalam “Lima Tipologi” dengan maksud agar kita masing-masing bercermin dan mekakukan introspeksi.
> Pertama, 'tipe syahadat'. Yakni orang yang titik berat karakternya terletak pada kemampuan berbicara. Wajahnya diwakili oleh pernyataannya. Mungkin seluruh dirinya adalah pernyataan-pernyataan itu sendiri. Pada konotasi yang positif, manusia syahadat adalah seorang yang punya keteguhan atas pendapat dan keyakinannya, sehingga menjadi landasan yang kokoh bagi perilakunya. Tapi, pada konotasi negatifnya, manusia syahadat adalah manusia suka bicara. Dia itu lebih banyak bicara, bicara dan bicara saja, belum tentu dia mengerjakannya. Dia itu bersyahadat, tapi belum tentu mewujudkannya dalam shalat dan zakat. Dalam kebudayaan modern, mereka ini semacam manusia peragawan. Dia sekedar memperagakan, entah pakaian, entah mobil, motor, entah busana muslimah, entah ayat, entah ekspresi nilai-nilai apapun. Batasnya hanya pada peragaan. Tidak usah kita tunggu pelaksanaan dan pewujudannya. Dia efektif jari juru kampanye, bintang iklan, tukang pidato atau tukang jual jamu.
> Kedua, 'tipe shalat'. Dalam ibadah ia orang yang rajin beribadah ritual dan shalat berjamaah tak pedulu shalatnya khusyuk atau tidak. Dalam pekerjaan ia orang yang rajin berupacara. Absensi di kantor tak pernah lowong. Pegawai yang tertib. Sangat diperlukan oleh birokrasi, organisasi, perusahaan, negara dan partai politik. Tenaga yang tidak boleh tidak ada. Tetapi, jangan mengharap kedalaman dan pendalaman darinya. Dia pekerja yang baik, tapi bukan kreator, dan bukan penghayat. Pokoknya kerja, tidak peduli pekerjaannya bagus atau tidak.
> Ketiga, adalah 'tipe puasa'. Resminya orang yang suka melakukan riyadhah atau menahan hawa nafsunya terhadap hal-hal yang disenanginya. Akrab dan sanggup menemukan kegembiraan dalam berpuasa. Bisa bahagia dengan berpuasa. Bisa bahagia, meskipun tidak memiliki harta. Bisa menemukan kenikmatan hidup, meskipun tidak berkuasa. Tidak berat untuk tidak korupsi. Tidak susah untuk tidak mencari kekuasaan atau mempertahankannya. Susahnya orang tipe puasa ini, sebagaimana hakikat puasa itu sendiri, adalah manusia sunyi.
Ibadah puasa itu sangat pribadi. Allah meminta puasa manusia untuk diri-Nya sendiri. Berbeda dengan pahala ibadah lain yang berlaku untuk manusia pelakunya sendiri. Puasa itu marjinal. Kesepian. Formula kenikmatan hidupnya tidak dipahami oleh kebanyakan orang. Bahkan konsep puasa itu sendiri seakan-akan anti-budaya. Wong hidup ini nikmat kok malah puasa. Bukankah semua aktivitas perdagangan, persaingan politik, perebutan kekuasaan, dan sebagainya itu, tujuannya adalah untuk 'berbuka puasa'? Lha kok ini ada orang malah puasa melulu. Maka, orang tipe puasa tidak populer. Susah mencarinya di peta kekuasaan dan konglomerasi. Jelasnya, susah mencari pemimpin yang berpuasa, yang gampang menemukannya adalah yang berbuka: makan terus, ambil ini itu, bepergian ke sana kemari.
> Keempat, 'tipe zakat'. Arti bakunya yakni orang yang suka beramal (shadaqah) kepada fakir miskin dan sesama. Ini manusia aneh bagi habitat umum. Lha yang sini setengah mati mencari harta dan menumpuk-numpuknya, kok yang situ malah membuang-buangnya. Ini juga semacam anti-ekonomi. Tapi di sinilah letak kuailtas manusia. Setiap masyarakat membutuhkan etos saling memberi, bukan tradisi saling meminta, saling menuntut, saling menagih, saling tidak terima, saling tidak rela, sebagaimana yang sekarang sedang memproses kehancuran bangsa, bahkan fakir miskin pun tak dipedulikan.
> Kelima, 'tipe haji'. Yakni orang yang sudah sampai ke makna ihram. Universalitas diri. Deprimordialisasi. Sudah di ujung tauhid. 'Menghilangkan' identitas dirinya dalam masyarakat, karena dirinya sudah lebur dalam kehendak-Nya. Sehingga amal perbuatan sehari-harinya selalu bermanfaat bagi lingkungannya. Ia manusia demokrat sejati, karena egonya sudah ia nomor-duakan. Ia pemimpin yang luas daya tampungnya. Tapi, sesudah mereka sepuluh kali naik haji, mungkin saja secara kualitatif ternyata mereka belum haji. Jumlah haji juga tidak ada kaitannya dengan tingkat kebaikan sosial di masyarakat. Semakin banyak haji, tidak semakin sehat keadaan masyarakat dan negara. Kira-kira itulah wajah masyarakat kita. [Editor]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar