Dari Aisyah RA berkata: “Nabi SAW, ditanya: Amal apa yang paling dicintai? Nabi SAW, menjawab: berkelanjutan meskipun sedikit. Lakukanlah dari amal yang kamu sanggup kerjakan.” [HR Bukhari]. Demikian Khotib mengawali khotbahnya pada suatu shalat Jum’at di Masjid Pondok Hijau, Ciputat, yang letaknya berdekatan dengan kantor sekretariat Al Mustaqiim. Khotib adalah Ustadz Hasan Basri Tanjung MA, Ketua ‘Yayasan Dinamika Umat’ / Dosen UNIDA, Bogor. Pada kesempatan tersebut telah dibagikan buletin dakwah ‘Dinamika News’ yang diasuhnya, yaitu Edisi 26/Th.Ke-3/X/2009), yang memuat materi khotbahnya. Berikut ini adalah kutipan bebas dari bagian utama tulisan tersebut.
AMAL YANG PALING DICINTAI. Ketika Nabi SAW ditanya oleh Sahabat tentang amal apa yang paling dicintai Allah, beliau menjawab singkat: “adwamuha wa inqolla” (berkelanjutan meski sedikit). Barangkali, dalam kenyataannya kita termasuk orang yang beramal: 1) sedikit dan jarang, atau 2) banyak tapi jarang, atau 3) sedikit tapi terus menerus, 4) banyak dan terus menerus. Kategori 1 dan 2 adalah amal orang kebanyakan, kategori 3 adalah amal Muttaqiin, dan yang ke-4 adalah amal para Nabi dan Shalihin.
Kenapa Nabi SAW memberikan jawaban yang ke-3 bagi Sahabat yang bertanya tersebut? Nabi SAW memiliki kearifan dalam memberikan jawaban yang sesuai dengan kapasitas dan keadaan orang yang bertanya. Jangankan kategori ke-4 yang sangat istimewa, jika kita mampu melakukan amal perbuatan kategori ke 3 saja pun sudah luar biasa. Di sinilah tampak kearifan beliau sebagai Da’i sejati dalam memberikan jawaban optimis dan memudahkan.
Lalu ada apa dengan mudawamah? Mengapa menjadi istimewa sekali di hadapan Allah SWT? Mudawamah diambil dari kata dawam (dalam teks hadits di atas disebutkan dengan adwam) yang bermakna terus menerus (berkelanjutan) sehingga menjadi kebiasaan. Jika suatu pekerjaan / perbuatan sudah menjadi kebiasaan, maka ia akan menjadi karakter dan kebribadian. Menjadikan suatu kebiasaan baik menjadi suatu kebiasaan bukanlah hal yang mudah.
Namun dalam setiap kesulitan ada kemuliaan. Semakin tinggi nilai sesuatu, maka semakin banyak kesukaran (jalan mendaki) yang mesti dijalani. Karenanya, tidak banyak orang yang berkenan menempuhnya. Sehingga tidak banyak pula orang yang menggapai kemuliaan itu. Demikian juga dengan mudawamah. Ia adalah karakter dan kepribadian mulia yang tidak banyak orang mampu menggapainya. Paling tidak ada 3 kata kunci untuk menjawab pertanyaan di atas.
1. MUJAHADAH. Mudawamah menjadi mulia karena di dalamnya ada mujahadah, yakni perjuangan yang sungguh-sungguh. Menjadikan mudawamah sebagai karakter dan kepribadian Muttaqin, dibutuhkan kesungguhan dan perjuangan besar. Terutama dalam melawan dan mengendalikan hawa nafsu kerakusan, kebakhilan, keangkuhan dan lain-lain (jihad an nafs).
Misalnya dalam hal bersedekah, tidak mudah menjadikan kebiasaan bersedekah karena syeitan selalu membisikkan dalam hati akan kekhawatiran jatuh miskin. Segala cara akan dilakukannya agar kita tidak terus menerus bersedekah, atau paling tidak berhenti sejenak, karena banyak keperluan lain yang mendesak. Sama halnya dengan menjaga puasa Senin-Kamis, shalat Tahajjud, shalat Dhuha, Tadarus Al Qur’an, membaca buku dan ibadah sunnah lainnya. Bila tidak mampu men-dawam-kan, sedemikian banyak ibadah tersebut, pesan Nabi SAW adalah memilih mana yang relatif mudah. Tapi harus ada amal shalih yang yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan. Sehingga melekat dalam diri kita sebagai kepribadian Muttaqin.
2. ISTIQOMAH. Mengapa mudawamah menjadi istimewa? Karena di dalamnya ada pekerjaan besar dan berat, yang bernama istiqomah (konsisten). Boleh jadi kita mampu melakukan sebuah pekerjaan besar, spektakuer, menolong orang banyak yang kesusahan, berinfak untuk pendidikan yatim dan dhuafa, membantu korban bencana alam, dan seterusnya. Tapi belum tentu kita mampu menjaga keberlanjutan kebaikan itu sepanjang mereka membutuhkan. Padahal mereka membutuhkan kebaikan kita tidak hanya sekali, atau di bulan Ramadhan saja.
Tentu baik mengeluarkan zakat, infak / sedekah dalam jumlah besar meski hanya sekali. Tapi, dalam rangka program pembinaan, jumlah yang lebih sedikit namun terus menerus, jauh lebih baik, prospektif dan efektif. Tidak mudah menjaga konsistensi dalam kebaikan, karena problema hidup yang fluktuatif, rezki yang turun naik, lapang dan sempit. Kita harus yakin bahwa dengan mengeluarkan zakat, infak / sedekah secara istiqomah, kita tidak akan pernah mengalami kesulitan atau kemiskinan, justru sebaliknya jumlah zakat dan infak yang kita berikan Insya Allah akan terus bertambah.
3. MAHABBAH. Mengapa mudawamah menjadi mulia? Karena di dalamnya ada mahabbah (cinta Ilahi). Cinta adalah anugerah Ilahi yang sangat besar bagi setiap insan. Cinta yang dipupuk akan terus menggelora dan bersemi di hati yang paling dalam. Bila cinta tumbuh subur,akan mampu menggairahkan hidup seseorang. Hidup yang gelap menjadi terang, yang pahit menjadi manis, yang susah menjadi mudah, yang jauh menjadi dekat. Semua menjadi indah, karena wujud cinta adalah keindahan dan kelembutan. Orang yang sedang dilanda cinta, akan senantiasa mengunjungi kekasihnya setiap waktu, sesering mungkin meskipun hanya sesaat. Ia akan selalu berupaya untuk berada di sisinya dan melakukan apa saya yang disenanginya.
Demikian pula dengan mudawamah. Hanya orang ang memiliki cinta Ilahi yang mampu melakukan suatu amal terus menerus, meski dalam keadaan sulit maupun lapang. Ia yakin bahwa dengan infak yang sedikit kepada orang-orang hancur hatinya, akan membuatnya bisa mendekatkan (taqarrub) kepada-Nya. Orang yang memiliki cinta Ilahi akan menghampiri Kekasihnya sendirian di tengah malam dengan Tahajjud di saat orang lain tertidur pulas. Hanya orang yang dilanda cinta Ilahi yang merasakan kesyahduan dan kerinduan ketika membaca ‘Surat-Surat Cinta’ yang dirimkan Kekasihnya melalui Al Qur’an. Bahkan tidak cukup sekali, disimpan dan dibaca kembali, di dekap sambil menikmati keindahannya dengan derai air mata. Karena itulah mudawamah menjadi mulia dan tidak banyak orang mampu melaksanakannya, kecuali orang yang dilanda asmara cinta Ilahi.
KHATIMAH. Allah SWT senang kepada berbuatan baik yang dilakukan saat kita hidup lapang (as sarrai). Tetapi Allah lebih lebih mencita yang sedikit tapi terus menerus, bahkan pada waktu kita kesulitan (adh dharrai). Karena itu Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang Arab Badui tentang ajaran Islam yang bisa memasukkannya ke dalam surga. Rasulullah menjawab: “Berimanlah kamu kepada Allah, lalu istiqomah.” [HR Bukhari]. Justru kunci keimanan kita adalah pada konsisrensi. Karena tanpa konsistensi, yang ada adalah pengkhianatan. Keyakinan dan Iman tidaklah cukup untuk menyatakan kecintaan dan kepatuhan kepada Allah, tanpa konsisten terhadasp makna keyakinan dan keimanan itu.
Dalam mujahadah, istiqomah dan mahabbah, makna mudawamah menjadi relevan. Banyak orang yang, yang bisa melakukan kebaikan besar, tetapi sedikit orang yang mampu melakukannya terus menerus. Semoga kita termasuk orang yang sedikit itu, yakni orang-orang yang bertakwa dan bersyukur.
>> Demikian pokok-pokok materi yang dikemukakan Ustadz HB Tanjung. Sebagai resonansi atas penjelasan bagus tersebut, kami ingin pula menekankan pentingnya mujahadah dalam kegiatan sehari-hari, misalnya dalam melaksanakan suatu pekerjaan, hendaknya kita bekerja bersungguh-sungguh. Banyak orang yang bekerja mencari nafkah dengan motivasi semata-mata untuk mendapatkan imbalan seperti yang mereka harapkan, sehingga melupakan tanggungjawab atas hasil pekerjaannya.
Seseorang harus menjadikan mujahadah termasuk kesungguhan bekerja sebagai karakter dan kepribadian. Dengan demikian dia akan melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan dengan tekun, meninjau kembali apakah pekerjaannya sudah benar. Dengan meninjau kembali itu, setidaknya dia makin menguasai hal ikhwal pekerjaan itu dengan lebih baik. Dengan menguasai pekerjaannya maka dia akan menjadi seorang yang profesional. Dalam pekerjaan di bidang apapun, agar dicapai hasil yang bagus, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang profesional, yang harus dimiliki setiap Muslim. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah itu mencintai hamba-Nya yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya. [HR Thabrani].
Menyempurnakan pekerjaan adalah keniscayaan untuk menjadikan seseorang profesional. Lebih dari itu, Islam mengajarkan perlunya tenaga spesialis, yang menguasai pekerjaan tertentu secara matang dan mendalam, sebagaimana firman Allah SWT: “Katakan )Muhammad: (‘Masing-masing dari kita bekerja menurut jalan (bidangnya) yang dipilih, Tuhanmu Maha Tahu siapa di antara kita yang menempuh jalan paling benar [QS Al Israa’ (17): 84].
Jadi melakukan suatu pekerjaan secara mujahadah adalah keniscayaan dalam setiap amalan, baik di bidang ubudiah maupun muamalah. Profesionalisme bukan hanya mengandalkan kecerdasan dan kepandaian seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan juga harus bisa melakukannya dengan ‘CERIA’, yaitu; 1. Cepat dalam bertindak, tidak menunda pekerjaan yang bisa dikerjakan sekarang, 2. Efisien dalam melakukan tindakan, dan tidak melakukan pemborosan, 3. Ramah-tamah dan sopan santun dalam etika, 4. Informatif dalam memberikan pelayanan dan penjelasan, bukan asal bicara, melainkan apa yang sebenarnya, dan 5. Akurat dalam melaksanakan pekerjaan secara rinci, memeriksa kembali hasil pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.
AMAL YANG PALING DICINTAI. Ketika Nabi SAW ditanya oleh Sahabat tentang amal apa yang paling dicintai Allah, beliau menjawab singkat: “adwamuha wa inqolla” (berkelanjutan meski sedikit). Barangkali, dalam kenyataannya kita termasuk orang yang beramal: 1) sedikit dan jarang, atau 2) banyak tapi jarang, atau 3) sedikit tapi terus menerus, 4) banyak dan terus menerus. Kategori 1 dan 2 adalah amal orang kebanyakan, kategori 3 adalah amal Muttaqiin, dan yang ke-4 adalah amal para Nabi dan Shalihin.
Kenapa Nabi SAW memberikan jawaban yang ke-3 bagi Sahabat yang bertanya tersebut? Nabi SAW memiliki kearifan dalam memberikan jawaban yang sesuai dengan kapasitas dan keadaan orang yang bertanya. Jangankan kategori ke-4 yang sangat istimewa, jika kita mampu melakukan amal perbuatan kategori ke 3 saja pun sudah luar biasa. Di sinilah tampak kearifan beliau sebagai Da’i sejati dalam memberikan jawaban optimis dan memudahkan.
Lalu ada apa dengan mudawamah? Mengapa menjadi istimewa sekali di hadapan Allah SWT? Mudawamah diambil dari kata dawam (dalam teks hadits di atas disebutkan dengan adwam) yang bermakna terus menerus (berkelanjutan) sehingga menjadi kebiasaan. Jika suatu pekerjaan / perbuatan sudah menjadi kebiasaan, maka ia akan menjadi karakter dan kebribadian. Menjadikan suatu kebiasaan baik menjadi suatu kebiasaan bukanlah hal yang mudah.
Namun dalam setiap kesulitan ada kemuliaan. Semakin tinggi nilai sesuatu, maka semakin banyak kesukaran (jalan mendaki) yang mesti dijalani. Karenanya, tidak banyak orang yang berkenan menempuhnya. Sehingga tidak banyak pula orang yang menggapai kemuliaan itu. Demikian juga dengan mudawamah. Ia adalah karakter dan kepribadian mulia yang tidak banyak orang mampu menggapainya. Paling tidak ada 3 kata kunci untuk menjawab pertanyaan di atas.
1. MUJAHADAH. Mudawamah menjadi mulia karena di dalamnya ada mujahadah, yakni perjuangan yang sungguh-sungguh. Menjadikan mudawamah sebagai karakter dan kepribadian Muttaqin, dibutuhkan kesungguhan dan perjuangan besar. Terutama dalam melawan dan mengendalikan hawa nafsu kerakusan, kebakhilan, keangkuhan dan lain-lain (jihad an nafs).
Misalnya dalam hal bersedekah, tidak mudah menjadikan kebiasaan bersedekah karena syeitan selalu membisikkan dalam hati akan kekhawatiran jatuh miskin. Segala cara akan dilakukannya agar kita tidak terus menerus bersedekah, atau paling tidak berhenti sejenak, karena banyak keperluan lain yang mendesak. Sama halnya dengan menjaga puasa Senin-Kamis, shalat Tahajjud, shalat Dhuha, Tadarus Al Qur’an, membaca buku dan ibadah sunnah lainnya. Bila tidak mampu men-dawam-kan, sedemikian banyak ibadah tersebut, pesan Nabi SAW adalah memilih mana yang relatif mudah. Tapi harus ada amal shalih yang yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan. Sehingga melekat dalam diri kita sebagai kepribadian Muttaqin.
2. ISTIQOMAH. Mengapa mudawamah menjadi istimewa? Karena di dalamnya ada pekerjaan besar dan berat, yang bernama istiqomah (konsisten). Boleh jadi kita mampu melakukan sebuah pekerjaan besar, spektakuer, menolong orang banyak yang kesusahan, berinfak untuk pendidikan yatim dan dhuafa, membantu korban bencana alam, dan seterusnya. Tapi belum tentu kita mampu menjaga keberlanjutan kebaikan itu sepanjang mereka membutuhkan. Padahal mereka membutuhkan kebaikan kita tidak hanya sekali, atau di bulan Ramadhan saja.
Tentu baik mengeluarkan zakat, infak / sedekah dalam jumlah besar meski hanya sekali. Tapi, dalam rangka program pembinaan, jumlah yang lebih sedikit namun terus menerus, jauh lebih baik, prospektif dan efektif. Tidak mudah menjaga konsistensi dalam kebaikan, karena problema hidup yang fluktuatif, rezki yang turun naik, lapang dan sempit. Kita harus yakin bahwa dengan mengeluarkan zakat, infak / sedekah secara istiqomah, kita tidak akan pernah mengalami kesulitan atau kemiskinan, justru sebaliknya jumlah zakat dan infak yang kita berikan Insya Allah akan terus bertambah.
3. MAHABBAH. Mengapa mudawamah menjadi mulia? Karena di dalamnya ada mahabbah (cinta Ilahi). Cinta adalah anugerah Ilahi yang sangat besar bagi setiap insan. Cinta yang dipupuk akan terus menggelora dan bersemi di hati yang paling dalam. Bila cinta tumbuh subur,akan mampu menggairahkan hidup seseorang. Hidup yang gelap menjadi terang, yang pahit menjadi manis, yang susah menjadi mudah, yang jauh menjadi dekat. Semua menjadi indah, karena wujud cinta adalah keindahan dan kelembutan. Orang yang sedang dilanda cinta, akan senantiasa mengunjungi kekasihnya setiap waktu, sesering mungkin meskipun hanya sesaat. Ia akan selalu berupaya untuk berada di sisinya dan melakukan apa saya yang disenanginya.
Demikian pula dengan mudawamah. Hanya orang ang memiliki cinta Ilahi yang mampu melakukan suatu amal terus menerus, meski dalam keadaan sulit maupun lapang. Ia yakin bahwa dengan infak yang sedikit kepada orang-orang hancur hatinya, akan membuatnya bisa mendekatkan (taqarrub) kepada-Nya. Orang yang memiliki cinta Ilahi akan menghampiri Kekasihnya sendirian di tengah malam dengan Tahajjud di saat orang lain tertidur pulas. Hanya orang yang dilanda cinta Ilahi yang merasakan kesyahduan dan kerinduan ketika membaca ‘Surat-Surat Cinta’ yang dirimkan Kekasihnya melalui Al Qur’an. Bahkan tidak cukup sekali, disimpan dan dibaca kembali, di dekap sambil menikmati keindahannya dengan derai air mata. Karena itulah mudawamah menjadi mulia dan tidak banyak orang mampu melaksanakannya, kecuali orang yang dilanda asmara cinta Ilahi.
KHATIMAH. Allah SWT senang kepada berbuatan baik yang dilakukan saat kita hidup lapang (as sarrai). Tetapi Allah lebih lebih mencita yang sedikit tapi terus menerus, bahkan pada waktu kita kesulitan (adh dharrai). Karena itu Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang Arab Badui tentang ajaran Islam yang bisa memasukkannya ke dalam surga. Rasulullah menjawab: “Berimanlah kamu kepada Allah, lalu istiqomah.” [HR Bukhari]. Justru kunci keimanan kita adalah pada konsisrensi. Karena tanpa konsistensi, yang ada adalah pengkhianatan. Keyakinan dan Iman tidaklah cukup untuk menyatakan kecintaan dan kepatuhan kepada Allah, tanpa konsisten terhadasp makna keyakinan dan keimanan itu.
Dalam mujahadah, istiqomah dan mahabbah, makna mudawamah menjadi relevan. Banyak orang yang, yang bisa melakukan kebaikan besar, tetapi sedikit orang yang mampu melakukannya terus menerus. Semoga kita termasuk orang yang sedikit itu, yakni orang-orang yang bertakwa dan bersyukur.
>> Demikian pokok-pokok materi yang dikemukakan Ustadz HB Tanjung. Sebagai resonansi atas penjelasan bagus tersebut, kami ingin pula menekankan pentingnya mujahadah dalam kegiatan sehari-hari, misalnya dalam melaksanakan suatu pekerjaan, hendaknya kita bekerja bersungguh-sungguh. Banyak orang yang bekerja mencari nafkah dengan motivasi semata-mata untuk mendapatkan imbalan seperti yang mereka harapkan, sehingga melupakan tanggungjawab atas hasil pekerjaannya.
Seseorang harus menjadikan mujahadah termasuk kesungguhan bekerja sebagai karakter dan kepribadian. Dengan demikian dia akan melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan dengan tekun, meninjau kembali apakah pekerjaannya sudah benar. Dengan meninjau kembali itu, setidaknya dia makin menguasai hal ikhwal pekerjaan itu dengan lebih baik. Dengan menguasai pekerjaannya maka dia akan menjadi seorang yang profesional. Dalam pekerjaan di bidang apapun, agar dicapai hasil yang bagus, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang profesional, yang harus dimiliki setiap Muslim. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah itu mencintai hamba-Nya yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya. [HR Thabrani].
Menyempurnakan pekerjaan adalah keniscayaan untuk menjadikan seseorang profesional. Lebih dari itu, Islam mengajarkan perlunya tenaga spesialis, yang menguasai pekerjaan tertentu secara matang dan mendalam, sebagaimana firman Allah SWT: “Katakan )Muhammad: (‘Masing-masing dari kita bekerja menurut jalan (bidangnya) yang dipilih, Tuhanmu Maha Tahu siapa di antara kita yang menempuh jalan paling benar [QS Al Israa’ (17): 84].
Jadi melakukan suatu pekerjaan secara mujahadah adalah keniscayaan dalam setiap amalan, baik di bidang ubudiah maupun muamalah. Profesionalisme bukan hanya mengandalkan kecerdasan dan kepandaian seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan juga harus bisa melakukannya dengan ‘CERIA’, yaitu; 1. Cepat dalam bertindak, tidak menunda pekerjaan yang bisa dikerjakan sekarang, 2. Efisien dalam melakukan tindakan, dan tidak melakukan pemborosan, 3. Ramah-tamah dan sopan santun dalam etika, 4. Informatif dalam memberikan pelayanan dan penjelasan, bukan asal bicara, melainkan apa yang sebenarnya, dan 5. Akurat dalam melaksanakan pekerjaan secara rinci, memeriksa kembali hasil pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.
Seorang profesional sejati tidak semata-mata mengkaitkan kemampuannya dengan upah. Upah tinggi tidak menjamin kinerja seseorang. Upah diberikan pemberi pekerjaan sesuai perjanjian kerja ditambah bonus atas prestasi yang dicapai seseorang. Jangan seperti yang dilakukan para elite bangsa kita, seperti para wakil rakyat di lembaga legislatif, yang lebih banyak bicara, tetapi bekerja asal-asalan, sering membolos, tidur ketika bersidang, dan sebagainya. Mereka hanya memikirkan kekuasaan dan kekayaan daripada amanat yang harus diembannya. Sebaiknya untuk mereka itu disediakan kursi tanpa sandaran, supaya tidak tidur.
Dalam kaitan zakat / infak / sedekah, kita perlu senantiasa mengingat firman Allah SWT: “Ingat kamu adalah orang yang diajak membelanjakan harta di jalan Allah.” [QS Muhammad (47): 38]. Kewajiban membayar zakat bagi kaum Muslimin adalah keniscayaan, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an antara lain dalam; [QS Al Baqarah (2): 43], [QS Al Baqarah (2): 254], [QS Al Baqarah (2): 277], [QS Ali Imran (3): 180], dan [QS At Taubah (9): 18].
Jika 20% dari ummat Islam Indonesia (± 180 juta orang) yaitu 36 juta saja di antaranya mau berwakaf tunai Rp. 100 ribu setiap bulan secara istiqomah, maka jumlah yang terkumpul setiap bulan sekitar Rp. 3,6 trilyun, atau Rp. 43 trilyun per tahun. Tidak dapat dibayangkan bagaimana dahsyatnya wakaf tunai tersebut. Untuk itu, pemerintah harus secara serius memikirkan penggalian potensi wakaf tunai ini. Lahir dan tumbuhnya Badan Wakaf Indonesia (BWI) merupakan suatu kebutuhan dan keharusan. Jika jumlah ummat Islam yang berwakaf itu makin banyak dan nilai wakafnya makin besar, maka bangsa Indonesia tidak perlu berutang kepada negara-negara kaya. [Editor]
Dalam kaitan zakat / infak / sedekah, kita perlu senantiasa mengingat firman Allah SWT: “Ingat kamu adalah orang yang diajak membelanjakan harta di jalan Allah.” [QS Muhammad (47): 38]. Kewajiban membayar zakat bagi kaum Muslimin adalah keniscayaan, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an antara lain dalam; [QS Al Baqarah (2): 43], [QS Al Baqarah (2): 254], [QS Al Baqarah (2): 277], [QS Ali Imran (3): 180], dan [QS At Taubah (9): 18].
Jika 20% dari ummat Islam Indonesia (± 180 juta orang) yaitu 36 juta saja di antaranya mau berwakaf tunai Rp. 100 ribu setiap bulan secara istiqomah, maka jumlah yang terkumpul setiap bulan sekitar Rp. 3,6 trilyun, atau Rp. 43 trilyun per tahun. Tidak dapat dibayangkan bagaimana dahsyatnya wakaf tunai tersebut. Untuk itu, pemerintah harus secara serius memikirkan penggalian potensi wakaf tunai ini. Lahir dan tumbuhnya Badan Wakaf Indonesia (BWI) merupakan suatu kebutuhan dan keharusan. Jika jumlah ummat Islam yang berwakaf itu makin banyak dan nilai wakafnya makin besar, maka bangsa Indonesia tidak perlu berutang kepada negara-negara kaya. [Editor]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar