Kamis, 05 Maret 2015

AL-QUR’AN DAN MODERNISASI

Sebagai petunjuk Allah untuk manusia, Islam bukanlah agama universal jika tidak bisa menjawab pertanyaan seberapa jauh ajaran Al-Qur’an tetap relevan di zaman modern ini. Baik Al-Qur’an maupun modernisasi, keduanya sangat mengutamakan akal pikiran atau dimensi rasionalitas. Perbedaannya, modernisasi mengutamakan akal pikiran secara absolut, sedangkan dalam Al-Qur’an akal pikiran memperoleh bimbingan wahyu.

Pada tulisan 2-004 kita telah mempelajari Al-Qur’an melalui pemaparan yang rasional tentang agama Islam, sehingga kita mudah memahami materi yang terkandung dalam tulisan-tulisan tersebut. Hal ini berarti agama Islam erat hubungannya dengan ilmu (pengetahuan), karena modernisasi adalah sebuah era tercapainya kemajuan ilmu dan teknologi yang sangat penting untuk diapresiasi oleh seluruh ummat manusia, khususnya ummat Islam.

Dalam modernisasi, yang penting adalah bagaimana melakukan transformasi ilmu dan teknologi modern guna menalar Al-Qur’an secara historis. Al-Qur’an memiliki dimensi historis, ruang, dan waktu yang berbeda. Karena itu bacaan kita terhadap Al-Qur’an membutuhkan pengetahuan yang bersifat interdisipliner, terutama jika kita berupaya mencari korelasi antara Al-Qur’an dengan modernisasi. maka untuk mencari pertautan antara keduanya bukanlah hal yang mudah. Al-Qur’an merupakan kalam Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril.

Salah satu fungsi Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi ummat manusia dan orang-orang yang bertakwa terutama untuk mengetahui dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an: “Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al-Baqarah 2: 2). Namun, sebagai petunjuk, Al-Qur’an hanya bersifat umum, sehingga, jika ada persoalan kehidupan yang penjelasannya tidak ditemukan di dalam Al-Qur’an, maka tugas manusia itu sendiri untuk mencari jawa-bannya. Dengan kata lain, Al-Qur’an hanya memberi landasan-landasan moral atau petunjuk yang bersifat global. Secara historis Al-Qur’an turun untuk merespons berbagai masalah sosial kehidupan yang terjadi di dalam masyarakat Arab saat itu, untuk memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau memberi ketetapan hukum sebagai doktrin theologis yang harus ditaati. Proses turunnya Al-Qur’an, melalui dua tahapan, yaitu; turun secara serentak dan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.

Di antara hikmah turunnya Al-Qur’an secara bertahap ini agar materi hukum Tuhan itu dapat diterapkan secara evolutif sesuai dengan kondisi objektif sosio-kultural masyarakat. Pada sisi yang lain, secara teknis materi Al-Qur’an akan lebih mudah dipahami, dihafalkan, maupun proses penerapan hukum-hukumnya akan lebih mudah untuk diterima. Ini adalah argumen logis bahwa Tuhan dalam konsep Islam tidak menghendaki sesuatu yang menyulitkan kehidupan ummat manusia. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an QS Al-Baqarah 2: 185 yang menyatakan: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesu-karan bagimu. “

Meskipun Al-Qur’an tidak memberikan penjelasan secara rinci tentang sistem-sistem dan mekanisme ekonomi, politik, sosial, budaya dan sebagainya, bukan berarti sistem-sistem itu tidak ada di dalamnya. Karena Al-Qur’an memberikan rangsangan berkembangnya kecerdasan intelektualitas atau terciptanya dinamika sosial kehidupan. Terbatasnya ayat-ayat yang mengatur mekanisme sosial berarti Tuhan memberi peluang kepada akal pikiran manusia untuk mengatur dan menentukan model-model relasi sosial kehidupannya yang lebih luas sesuai dengan perkembangan sosio-kultural dan peradabannya.

Al-Qur’an bukanlah dokumen yang sarat dengan rincian-rincian hukum sosial melainkan sebuah kitab yang mengandung prinsip-prinsip dasar dan moralitas kemanusiaan universal. Penting kita ketahui bahwa semakin banyak hukum absolut yang mengatur pola kehidupan, maka ritme peradaban manusia akan menjadi sangat kaku dan statis. Dalam perspektif ini sesungguhnya Al-Qur’an bukan sumber dari segalanya yang sarat dengan teori-teori ilmu pengetahuan. Menurut penelitian para ahli, ayat Al-Qur’an yang menyebut tentang ilmu pengetahuan hanya terdapat sekitar 150 ayat. Menurut pandangan ini, ayat-ayat tersebut secara paradigmatik tidak cukup untuk dijadikan dasar pemikiran bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang sarat dengan teori ilmu pengetahuan, apalagi teknologi modern yang di dalamnya sarat dengan rincian-rincian. Lebih tepat, jika dikatakan bahwa Al-Qur’an itu mengandung motivasi atau prinsip-prinsip moral yang bersifat normatif untuk melakukan aktivitas ilmu dan teknologi.

Misalnya, mengenai perhitungan tahun, Al-Qur’an menjelaskan: “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (QS Al-Israa’ 17: 12). Demikian pula tentang matahari dan bulan Al-Qur’an menjelaskan: Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’aam 6: 96).

Manusia dapat dikategorikan sebagai modern, jika bersedia menerima dan terbuka terhadap pembaharuan atau perubahan, mampu bersikap terbuka dan bersedia menerima bentuk keragaman realitas sosial yang niscaya. Pandangan hidup masyarakat modern senantiasa difokuskan pada masa kini dan masa depan, memiliki perencanaan hidup, menjunjung tinggi kemampuan manusia, dan memperhitungkan waktu bahwa proses kehidupan ini ditentukan bukan karena nasib. Islam modernis mencoba melihat kembali persoalan-persoalan yang dihadapi ummat Islam dan bersikap apresiatif terhadap kemajuan yang dicapai dunia Barat, seperti semangat untuk mengembangkan rasionalitas, kerja keras, cinta terhadap ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya yang meru-pakan kata kunci kemajuan masyarakat Barat selama ini.

Pertanyaannya adalah mengapa ummat Islam terkesan tidak akomodatif dan bahkan antipati terhadap pola hidup dan pemikiran Barat? Padahal, semangat inilah yang pernah mengantarkan kemajuan dunia Islam pada abad pertengahan, ketika masyarakat Barat masih terbelakang. Kita harus tetap optimistis untuk masa mendatang, karena kaum Muslimin modernis semakin apresiatif terhadap perkembangan modernisasi dan ummat Islam secara umum sudah banyak yang berpendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin terbuka lebar kemungkinan negaranya menjadi maju di masa depan. Pendidikan bagi generasi penerus merupakan salah satu faktor yang memberi harapan bagi proses perubahan dan perkembangan menuju terciptanya masyarakat yang beradab.

Sesungguhnya ayat-ayat ilmiah di dalam Al-Qur’an dimaksudkan untuk menunjukkan kebesaran Allah Swt, dan mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian agar lebih menguatkan iman dan kepercayaan kepada-Nya. Mengenai hal ini, Syaikh Mahmud Syaltut mengatakan dalam tafsirnya: "Sesungguhnya Tuhan tidak menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi satu kitab yang menerangkan kepada manusia mengenai teori-teori ilmiah, masalah-masalah seni maupun aneka pengetahuan." Namun setiap fenomena di bumi dan langit dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari datang seseorang kepada Rasulullah Saw dan bertanya: "Mengapa bulan kelihatan kecil bagaikan benang, kemudian membesar sampai menjadi sempurna purnama?" Rasulullah Saw mengembalikan, jawaban pertanyaan tersebut kepada Allah Swt yang berfirman: “Mereka bertanya kepadamu perihal bulan. Katakanlah bulan itu untuk menentukan waktu bagi manusia dan mengerjakan haji.” (QS Al-Baqarah 2: 189). Mengenai ruh Al-Qur’an menjelaskan: “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan: "Ruh adalah urusan Tuhanku, kamu sekalian hanya diberi sedikit ilmu pengetahuan.” (QS Al-Israa’ 17: 85).

Penjelasan ayat-ayat ilmiah tersebut di atas, bukanlah jawaban ilmiah, tetapi sesuai dengan tujuan-tujuan pokoknya, yaitu menguatkan iman dan kepercayaan kita kepada Allah Swt, karena tujuan pokok Al-Qur’an bukan menerangkan hal-hal yang ilmiah, melainkan memberikan petunjuk kepada manusia demi kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak. Sejak pertengahan abad ke-19, ummat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya. Tantangan ini memberikan pengaruh yang sangat besar dalam pandangan hidup serta pemikiran sebagian besar ummat Islam. Di sana-sini mereka melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat. Di lain pihak mereka merasakan kelemahan ummat Islam dan kemunduran dalam kehidupan dan ilmu pengetahuan. Keadaan ini menimbulkan perasaan rendah diri atau inferiority complex pada sebagian besar kaum Muslimin. Sebagian di antara mereka terutama di kalangan cendekiawan sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan rendah diri dan berusaha mengadakan kompensasi atau melarikan diri dengan bermacam-macam cara. Salah satu cara adalah dengan mengingatkan pada kejayaan-kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang dan pengaruhnya terhadap perkem-bangan pemikiran masyarakat Islam, sangat besar dalam menafsirkan Al-Qur’an. Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam cepat-cepat berkata: “Al-Qur’an sejak lama, sejak sekian abad, telah menyatakan tentang hal itu, Al-Qur’an mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya.“ dan dalih lainnya. Semua itu hanyalah kompensasi pera-saan rendah diri tadi.

Tidak dapat diingkari bahwa mengingat kejayaan lama hanyalah merupakan ‘obat bius’ yang dapat meredakan rasa sakit, meredakan untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanyalah sekedar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat. Sebaliknya hal itu justru hanya menunjukkan kelemahan ummat Islam. Memang, mengingat kejayaan lama kadang-kadang dapat merupakan pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian masyarakat. Tetapi kita juga harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari cara demikian, yang apabila berlarut-larut, dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama memang dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi hal itu juga dapat menimbulkan negatifisme dan konservatifisme. Sementara itu kedua sifat ini tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.

Al-Qur’an di zaman modern ini, tidak meninggalkan sedikit pun dan atau lengah dalam memberikan keterangan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan-tujuan pokok Al-Qur’an, yaitu masalah-masalah aqidah, syari'ah dan akhlak. Seperti diuraikan di atas, tujuan pokok Al-Qur’an bukanlah menerangkan persoalan-persoalan ilmiah, tetapi memberikan petunjuk kepada manusia demi kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak.
  Hermanto Harsolumakso
No. 2-007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar