Sebagai petunjuk Allah untuk manusia, Islam bukanlah agama universal
jika tidak bisa menjawab pertanyaan seberapa jauh ajaran Al-Qur’an tetap
relevan di zaman modern ini. Baik Al-Qur’an maupun modernisasi, keduanya sangat
mengutamakan akal pikiran atau dimensi rasionalitas. Perbedaannya, modernisasi
mengutamakan akal pikiran secara absolut, sedangkan dalam Al-Qur’an akal
pikiran memperoleh bimbingan wahyu.
Pada tulisan
2-004 kita telah mempelajari
Al-Qur’an melalui pemaparan yang rasional tentang agama Islam, sehingga kita
mudah memahami materi yang terkandung dalam tulisan-tulisan tersebut. Hal ini
berarti agama Islam erat hubungannya dengan ilmu (pengetahuan), karena
modernisasi adalah sebuah era tercapainya kemajuan ilmu dan teknologi yang
sangat penting untuk diapresiasi oleh seluruh ummat manusia, khususnya ummat
Islam.
Dalam modernisasi, yang penting adalah bagaimana melakukan
transformasi ilmu dan teknologi modern guna menalar Al-Qur’an secara historis. Al-Qur’an memiliki dimensi
historis, ruang, dan waktu yang berbeda. Karena itu bacaan kita terhadap
Al-Qur’an membutuhkan pengetahuan yang bersifat interdisipliner, terutama jika
kita berupaya mencari korelasi antara Al-Qur’an dengan modernisasi. maka untuk
mencari pertautan antara keduanya bukanlah hal yang
mudah. Al-Qur’an merupakan kalam Ilahi yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril.
Salah satu fungsi Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi ummat manusia
dan orang-orang yang bertakwa terutama untuk mengetahui dan membedakan antara
yang baik dan yang buruk. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an: “Kitab
(Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa.” (QS Al-Baqarah 2: 2). Namun, sebagai petunjuk, Al-Qur’an hanya bersifat
umum, sehingga, jika ada persoalan kehidupan yang penjelasannya tidak ditemukan
di dalam Al-Qur’an, maka tugas manusia itu sendiri untuk mencari jawa-bannya.
Dengan kata lain, Al-Qur’an hanya memberi landasan-landasan moral atau petunjuk
yang bersifat global. Secara historis Al-Qur’an turun untuk merespons berbagai
masalah sosial kehidupan yang terjadi di dalam masyarakat Arab saat itu, untuk
memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau
memberi ketetapan hukum sebagai doktrin theologis yang harus ditaati. Proses
turunnya Al-Qur’an, melalui dua tahapan, yaitu; turun secara serentak dan
secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.
Di antara hikmah turunnya Al-Qur’an secara bertahap ini agar materi
hukum Tuhan itu dapat diterapkan secara evolutif sesuai dengan kondisi objektif
sosio-kultural masyarakat. Pada sisi yang lain, secara teknis materi Al-Qur’an
akan lebih mudah dipahami, dihafalkan, maupun proses penerapan hukum-hukumnya
akan lebih mudah untuk diterima. Ini adalah argumen logis bahwa Tuhan dalam
konsep Islam tidak menghendaki sesuatu yang menyulitkan kehidupan ummat
manusia. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an QS Al-Baqarah 2: 185 yang
menyatakan: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesu-karan bagimu. “
Meskipun Al-Qur’an tidak
memberikan penjelasan secara rinci tentang sistem-sistem dan mekanisme ekonomi,
politik, sosial, budaya dan sebagainya, bukan berarti sistem-sistem itu tidak
ada di dalamnya. Karena Al-Qur’an memberikan rangsangan berkembangnya
kecerdasan intelektualitas atau terciptanya dinamika sosial kehidupan.
Terbatasnya ayat-ayat yang mengatur mekanisme sosial berarti Tuhan memberi
peluang kepada akal pikiran manusia untuk mengatur dan menentukan model-model
relasi sosial kehidupannya yang lebih luas sesuai dengan perkembangan sosio-kultural
dan peradabannya.
Al-Qur’an bukanlah dokumen yang sarat dengan rincian-rincian hukum
sosial melainkan sebuah kitab yang mengandung prinsip-prinsip dasar dan
moralitas kemanusiaan universal. Penting kita ketahui bahwa semakin banyak
hukum absolut yang mengatur pola kehidupan, maka ritme peradaban manusia akan
menjadi sangat kaku dan statis. Dalam perspektif ini sesungguhnya Al-Qur’an
bukan sumber dari segalanya yang sarat dengan teori-teori ilmu pengetahuan.
Menurut penelitian para ahli, ayat Al-Qur’an yang menyebut tentang ilmu
pengetahuan hanya terdapat sekitar 150 ayat. Menurut pandangan ini, ayat-ayat
tersebut secara paradigmatik tidak cukup untuk dijadikan dasar pemikiran bahwa
Al-Qur’an merupakan kitab yang sarat dengan teori ilmu pengetahuan, apalagi
teknologi modern yang di dalamnya sarat dengan rincian-rincian. Lebih tepat,
jika dikatakan bahwa Al-Qur’an itu mengandung motivasi atau prinsip-prinsip
moral yang bersifat normatif untuk melakukan aktivitas ilmu dan teknologi.
Misalnya, mengenai
perhitungan tahun, Al-Qur’an menjelaskan: “Dan Kami jadikan malam dan siang
sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang
itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui
bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu
telah Kami terangkan dengan jelas. (QS Al-Israa’ 17: 12). Demikian
pula tentang matahari dan bulan Al-Qur’an menjelaskan: Dia menyingsingkan
pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan
bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui.” (QS Al-An’aam 6: 96).
Manusia dapat dikategorikan sebagai modern, jika bersedia menerima dan
terbuka terhadap pembaharuan atau perubahan, mampu bersikap terbuka dan
bersedia menerima bentuk keragaman realitas sosial yang niscaya. Pandangan
hidup masyarakat modern senantiasa difokuskan pada masa kini dan masa depan,
memiliki perencanaan hidup, menjunjung tinggi kemampuan manusia, dan
memperhitungkan waktu bahwa proses kehidupan ini ditentukan bukan karena nasib.
Islam modernis mencoba melihat kembali persoalan-persoalan yang dihadapi ummat
Islam dan bersikap apresiatif terhadap kemajuan yang dicapai dunia Barat,
seperti semangat untuk mengembangkan rasionalitas, kerja keras, cinta terhadap
ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya yang meru-pakan kata kunci kemajuan
masyarakat Barat selama ini.
Pertanyaannya adalah mengapa ummat Islam terkesan tidak akomodatif dan
bahkan antipati terhadap pola hidup dan pemikiran Barat? Padahal, semangat
inilah yang pernah mengantarkan kemajuan dunia Islam pada abad pertengahan,
ketika masyarakat Barat masih terbelakang. Kita harus tetap optimistis untuk
masa mendatang, karena kaum Muslimin modernis semakin apresiatif terhadap
perkembangan modernisasi dan ummat Islam secara umum sudah banyak yang berpendidikan.
Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin terbuka lebar
kemungkinan negaranya menjadi maju di masa depan. Pendidikan bagi generasi
penerus merupakan salah satu faktor yang memberi harapan bagi proses perubahan
dan perkembangan menuju terciptanya masyarakat yang beradab.
Sesungguhnya ayat-ayat ilmiah di dalam Al-Qur’an dimaksudkan untuk menunjukkan kebesaran Allah Swt, dan mendorong manusia
seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian agar lebih menguatkan iman
dan kepercayaan kepada-Nya. Mengenai hal ini, Syaikh Mahmud Syaltut mengatakan
dalam tafsirnya: "Sesungguhnya Tuhan tidak menurunkan Al-Qur’an untuk
menjadi satu kitab yang menerangkan kepada manusia mengenai teori-teori ilmiah,
masalah-masalah seni maupun aneka pengetahuan." Namun setiap
fenomena di bumi dan langit dijelaskan di dalam Al-Qur’an.
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari
datang seseorang kepada Rasulullah Saw dan bertanya: "Mengapa bulan
kelihatan kecil bagaikan benang, kemudian membesar sampai menjadi sempurna
purnama?" Rasulullah Saw mengembalikan, jawaban pertanyaan tersebut kepada
Allah Swt yang berfirman: “Mereka bertanya kepadamu perihal bulan.
Katakanlah bulan itu untuk menentukan waktu bagi manusia dan mengerjakan haji.”
(QS Al-Baqarah 2: 189). Mengenai ruh Al-Qur’an menjelaskan: “Mereka
bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan: "Ruh adalah urusan Tuhanku,
kamu sekalian hanya diberi sedikit ilmu pengetahuan.” (QS Al-Israa’ 17: 85).
Penjelasan ayat-ayat
ilmiah tersebut di atas, bukanlah jawaban ilmiah, tetapi sesuai dengan
tujuan-tujuan pokoknya, yaitu menguatkan iman dan kepercayaan kita kepada Allah
Swt, karena tujuan pokok Al-Qur’an bukan menerangkan hal-hal yang ilmiah,
melainkan memberikan petunjuk kepada manusia demi kebahagiaan hidupnya di dunia
dan di akhirat kelak. Sejak pertengahan abad ke-19, ummat Islam
menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau
militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya. Tantangan ini
memberikan pengaruh yang sangat besar dalam pandangan hidup serta pemikiran
sebagian besar ummat Islam. Di sana-sini mereka melihat kekuatan dan kemajuan
ilmu pengetahuan Barat. Di lain pihak mereka merasakan kelemahan ummat Islam
dan kemunduran dalam kehidupan dan ilmu pengetahuan. Keadaan ini menimbulkan
perasaan rendah diri atau inferiority complex pada sebagian besar kaum
Muslimin. Sebagian di antara mereka terutama di kalangan cendekiawan sejak
pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan rendah diri dan berusaha mengadakan
kompensasi atau melarikan diri dengan bermacam-macam cara. Salah satu cara
adalah dengan mengingatkan pada kejayaan-kejayaan Islam dan peninggalan nenek
moyang dan pengaruhnya terhadap perkem-bangan pemikiran masyarakat Islam,
sangat besar dalam menafsirkan Al-Qur’an. Setiap ada penemuan baru, para
cendekiawan Islam cepat-cepat berkata: “Al-Qur’an sejak lama, sejak sekian
abad, telah menyatakan tentang hal itu, Al-Qur’an mendahului ilmu pengetahuan
dalam penemuannya.“ dan dalih lainnya. Semua itu hanyalah kompensasi pera-saan
rendah diri tadi.
Tidak dapat diingkari
bahwa mengingat kejayaan lama hanyalah merupakan ‘obat bius’ yang dapat
meredakan rasa sakit, meredakan untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu
hanyalah sekedar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
Sebaliknya hal itu justru hanya menunjukkan kelemahan ummat Islam. Memang,
mengingat kejayaan lama kadang-kadang dapat merupakan pendorong untuk maju ke
depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian masyarakat. Tetapi kita
juga harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari
cara demikian, yang apabila berlarut-larut, dapat membekukan pemikiran.
Membanggakan kejayaan lama memang dapat membangkitkan emosi dan memberikan
kepuasan, tetapi hal itu juga dapat menimbulkan negatifisme dan
konservatifisme. Sementara itu kedua sifat ini tidak sejalan dengan ilmu
pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
Al-Qur’an di zaman
modern ini, tidak meninggalkan sedikit pun dan atau lengah dalam memberikan
keterangan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan-tujuan pokok
Al-Qur’an, yaitu masalah-masalah aqidah, syari'ah dan akhlak. Seperti diuraikan
di atas, tujuan pokok Al-Qur’an bukanlah menerangkan persoalan-persoalan
ilmiah, tetapi memberikan petunjuk kepada manusia demi kebahagiaan hidupnya di
dunia dan di akhirat kelak.
Hermanto Harsolumakso
No. 2-007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar