Rabu, 15 Desember 2010

95. BENCANA ALAM , PERINGATAN ATAU UJIAN?

Pada bulan Oktober 2010, kita dikejutkan oleh kejadian-kejadian yang menggetarkan hati dan berakibat kesengsaraan yang memilukan, yaitu bencana alam menimpa saudara-saudara kita, berupa banjir bandang dan tanah longsor di Wasior, Papua, pada tanggal 4 Oktober yang menelan korban jiwa 156 orang, puluhan lainnya dinyatakan hilang, sementara ratusan rumah dan bangunan luluh-lantak.

Belum tuntas pemerintah mengevakuasi dan menangani akibat bencana ini mendadak kita dikejutkan dengan gempa tektonik berkekuatan 7,2 SR yang diikuti tsunami di Mentawai pada tanggal 25 Oktober dengan jumlah korban jiwa sampai saat ini tercatat 447 orang, ratusan orang luka parah / ringan dan lebih dari 250 orang hilang.

Kemudian hanya selang waktu satu hari yaitu tanggal 26 Oktober jam 17.00 gunung Merapi di Jawa tengah meletus, dan diikuti letusan-letusan berikutnya yang lebih dahsyat pada tanggal 28, 29 Oktober, 4 dan 5 November, hingga sampai naskah ini ditulis telah menelan korban jiwa 270 orang, ratusan orang terluka dan lebih dari 200 ribu penduduk terpaksa diungsikan.

Sementara itu di salah satu lokasi wisata di Jawa Timur, yaitu gunung Bromo aktivitasnya meningkat dengan mengeluarkan debu vulkanik dan letusan minor, sehingga status siaga dinaikkan menjadi awas mulai tanggal 23 November 2010, dan kembali menurun menjadi siaga pada tanggal 6 Desember 2010.

Kejadian fenomena alam tersebut telah menyisakan akibat yang sangat dahsyat karena hanya dalam sekejap merubah keadaan yang semula tenang, aman dan damai dengan suasana sejuk oleh nyanyian rumpun bambu, pohon-pohon dengan margasatwanya serta desir ombak dipantai bersama angin menyapunya, menjadi suasana kacau, jerit tangis minta tolong karena tidak kuasa menahan penderitaan yang menimpanya, juga para orang tua yang kehilangan anak dan anggota keluarganya. Akibat dan dampak peristiwa di atas masih terus berlangsung sekarang sampai waktu yang tidak kita ketahui ujungnya. Trauma dan kepedihan akan kehilangan keluarga, harta benda dan mata pencaharian masih berlangsung lama, dan memerlukan uluran bantuan kita dan saudara-saudara kita yang bernasib lebih baik serta masih longgar baik waktu, kemampuan maupun rejekinya.

Subhanallah, demikian kata-kata yang pertamakali kita ucapkan sebagai seorang Muslim mendengar terjadinya bencana, karena hanya kepada Allah kita bersandar dan mengakui betapa besar kekuasaanNya. Allah menguasai alam dan seluruh isinya serta mengendalikannya. Selanjutnya patut kita memohon ampun dengan mengucap astaghfirullah sambil mengintrospeksi diri kita akan dosa-dosa yang kita perbuat, apakah kita lalai dalam melakukan kewajiban kita beribadah dan beramal shaleh dengan melanggar larangan-Nya, atau tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepada kita bahkan berbuat khianat atas amanah yang diberikan kepada kita sehingga membuat kerusakan di dunia ini.

Kalau kita memperhatikan musibah dan bencana alam yang terjadi menimpa saudara-saudara kita itu, kita merasa kecil dan tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan dahsyatnya tenaga kekuatan alam berupa banjir, gempa, tsunami dan gunung berapi, sungguh manusia tidak berdaya, dan benar-benar tiada kekuatan dari kita kecuali diberikan oleh Allah, la haula wa la quwwata illa billah.

Bencana, adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan atau ulah manusia yang menimbulkan korban dan penderitaan manusia yang berskala luas, mengakibatkan gangguan terhadap stabilitas dan kelangsungan tata kehidupan serta penghidupan masyarakat.

Kriteria peristiwa yang disebut bencana adalah: banyaknya korban dan nilai kerugian; lumpuhnya roda pemerintahan, sarana dan prasarana umum; luasnya kerusakan wilayah dan lingkungan; terganggunya sebagian besar aspek kehidupan masyarakat; tingginya tingkat kesulitan penanggulangan; menimbulkan dampak traumatik; mengundang solidaritas kemanusiaan masyarakat luas.

Sebagai Muslim kita menyikapi kejadian bencana itu sebagai suatu peringatan, namun sekaligus sebagai cobaan / ujian atas kesabaran dan keimanan kita kepada Tuhan. Bencana alam atau musibah menjadi peringatan Allah kepada manusia akan kekuasaanNya, agar jangan bersikap sombong di atas dunia, atau tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah, seperti firmanNya dalam Al-Qur’an: Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (QS Ibrahim 14: 7).

Apakah bencana alam yang terjadi di sekitar kita merupakan siksa yang diturunkan Allah di dunia, hanya Allah yang mengetahuinya. Namun kita tidak boleh berburuk sangka kepada Allah, tapi harus yakin bahwa musibah yang terjadi bukan tidak ada hikmahnya.

Suatu hal yang menarik untuk disimak dari kalimat ayat di atas adalah kesyukuran dihadapkan dengan janji yang pasti lagi tegas dan bersumber dari-Nya langsung. Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa; itupun tidak ditegaskan bahwa ia pasti akan menimpa yang tidak bersyukur.

Kalau bencana terjadi karena ulah manusia, ini berarti manusia telah berbuat melampaui batas, akibat sifat rakus ingin mendapatkan kekuasaan yang besar dan congkak karena merasa hebat di atas dunia, maka bencana yang terjadi merupakan akibat langsung dari kecerobohannya. “Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya berlimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak bekerja untuk menampakkannya) nikmat-nikmat Allah (yang terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan.” (QS An-Nahl 16: 112).

Pengalaman pahit yang dilukiskan Allah ini, telah terjadi pada banyak masyarakat bangsa, antara lain, kaum Shaba, suatu bangsa yang hidup di Yaman dan yang pernah dipimpin oleh seorang Ratu yang amat bijaksana, yaitu Ratu Balqis. Negeri mereka dilukiskan oleh Al-Qur’an sebagai negeri yang makmur, sejahtera, diberkahi dan diridlai Alllah (baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur). Merekalah yang diperintahkan dalam ayat-ayat tersebut untuk bersyukur, tetapi mereka berpaling dan enggan, sehingga akhirnya mereka berserak-serakan, tanahnya berubah menjadi gersang, komunikasi dan transportasi antar kota-kotanya yang semula lancar menjadi terputus, yang ada hanya tinggal buah bibir orang saja. Demikian uraian Al-Qur’an, dalam konteks keadaan mereka, Allah berfirman; Demikianlah Kami memberikan balasan kepada mereka disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada orang-orang yang kufur.” (QS Saba 34: 17).

Bencana juga menjadi ujian bagi manusia beriman, bahkan sebagai kesempatan bagi seorang Mukmin meningkatkan keimanannya. Allah memberikan ujian bagi hambanya berupa penderitaan atau kesenangan.

Bukankah Allah SWT telah berfirman: Sungguh Kami akan menimpakan cobaan / ujian kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah 2: 155). Manusia akan semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah setelah melampaui berbagai ujian dengan sabar dan tawakal.

Demikian juga pengakuan Nabi Sulaiman yang diabadikan dalam Al-Qur’an: Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur”. (QS An Naml 27: 40).

Bagaimana menghadapi kejadian bencana alam ini?. Begitu terjadi bencana apapun bentuknya, maka penanganan kedaruratan atau pengelolaan tanggap darurat harus segera dilakukan, baik oleh badan pemerintah, pelaku yang berkaitan langsung dengan tugas penanganan bencana, atau semua pihak sesuai peran dan kedudukannya yang terpanggil ikut membantu penanganan kedaruratan ini. Semua ini dilaksanakan melalui analisis, perencanaan, pengambilan keputusan, dan penempatan sumberdaya yang sesuai untuk mencegah, mensiagakan, menanggulangi dan memulihkan akibat suatu keadaan bahaya atau bencana, dengan tujuan menyelamatkan jiwa manusia, melindungi harta benda, dan menjaga lingkungan. Unit Pelayanan Darurat, terdiri dari unit-unit departemen dari pemerintah setempat yang siaga dan mempunyai kapabilitas tindakan darurat 24 jam setiap hari.

Pemimpin penanganan kedaruratan mempunyai tanggung jawab sehari-hari dalam seluruh kegiatan dan program penanganan kedaruratan sesuai skala dan tingkat bencana. Sumber daya termasuk masyarakat, organisasi, program, peralatan dan dana yang dapat digalang dan digunakan untuk mendukung seluruh aspek dari penanganan kondisi darurat. Dalam kondisi ini tidaklah pada tempatnya saling menyalahkan pihak lain, melemparkan tanggung jawab penyebab bencana, sementara penanganan korban makin terabaikan dan pertolongan tidak segera tertangani. Semua yang berperan dalam penanganan kedaruratan, baik pemerintah, maupun sektor swasta, antara lain organisasi sosial pelayanan darurat, seperti, lembaga Palang Merah atau organisasi yang khusus bergerak dalam bidang penanggulangan kedaruratan dan penyelamatan termasuk para relawan.

Sangat dihargai upaya anggota masyarakat, organisasi atau perusahaan yang jauh dari lokasi bencana, namun peduli dengan menggalang dana dan bantuan berupa bahan makanan, obat-obatan, maupun peralatan untuk membantu kehidupan para korban bencana atau pengungsi. Semua ini akan mempunyai nilai bagi kemanusiaan dan ibadah bila dilakukan disertai keikhlasan.

Tidak kalah pentingnya adalah penanganan pasca bencana pada fase pemulihan, yang dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama, yaitu membangun kembali komunitas sehingga kebutuhan seseorang, masyarakat, dan pemerintah dapat berfungsi kembali, ke keadaan normal, dan menghindari dari kemungkinan bahaya yang akan datang.

Selain peran pemerintah dalam membangun kembali sarana dan prasarana fisik, tempat ibadah, bangunan, fasilitas umum dan sekolahan, juga peran para pendidik, guru dan da’i untuk memberikan semangat dan kepercayaan masyarakat untuk bangkit kembali dan menghilangkan trauma kepedihan yang telah menimpanya karena kehilangan anggota keluarga, rumah dan harta benda yang dimilikinya.

Dalam kondisi normal, upaya pencegahan, dengan kegiatan-kegiatan yg berkelanjutan untuk mengurangi atau menghindari risiko jangka lama terhadap masyarakat dan hartabenda dari ancaman bahaya serta pengaruhnya. Tujuannya adalah, melindungi manusia dan strukutur bangunan dan mengurangi biaya untuk penanggulangan darurat dan pemulihannya. Hal ini dilakukan melalui penyebaran petunjuk dan sosialisasi tentang kemungkinan bencana, pengetahuan tentang peta bencana, dan cara mengurangi risiko bencana sesuai jenisnya.

Mengingat negara kita berada dalam wilayah rawan bencana, karena berada pada jalur yang disebut “ring of fire” yang berpotensi mengalami gempa bumi maupun bahaya gunung berapi, mulai dari ujung pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara sampai Maluku dan sebagian Indonesia bagian Timur, maka upaya kewaspadaan dan pencegahan perlu dipahami dan disosialisaikan.

Sementara upaya kesiap-siagaan, menyiapkan fungsi-fungsi penanganan darurat untuk menghadapi dan menanggulangi bahaya yg terjadi serta pemulihannya, antara lain dengan mempelajari cara-cara dan melakukan latihan menghadapi kejadian-kejadian bahaya yang mungkin terjadi dengan memperhatikan pengalaman kejadian di tiap lokasi.

Agama Islam bukan hanya mengatasi persoalan moral, tetapi juga menyangkut kemampuan untuk mengelola alam dan sosial, termasuk mengelola bencana alam yang kini semakin menjadi keseharian dalam kehidupan kita. Realitas mengajarkan bahwa bangsa yang kuat umumnya adalah bangsa yang mampu mengelola alamnya yang garang.

Kaum Qureisy sejak masa Nabi Ibrahim AS mampu bertahan hidup karena kemampuannya menghadapi alam yang keras. Ketika Mekkah dingin mereka pergi ke Yaman yang lebih panas. Di saat Mekkah sangat panas, mereka pergi ke Syria yang lebih dingin. Hal itu yang membuat mereka menjadi pribadi sekaligus pedagang yang kuat hingga sekarang. Daulah Abbasiyah berjaya di abad ke-8, karena kepiawaiannya mengelola alam. Mereka mengirim tim peneliti untuk tinggal dua tahun penuh di wilayah bekas kekuasaan Persia, mencatat keadaan cuaca, aliran air, dan bahkan angin setiap hari untuk membangun kota Baghdad yang mencengangkan dunia saat itu.

Di zaman modern ini, bangsa-bangsa Barat dan Asia Timur menjadi kuat karena tempaan iklim ekstrem. Musim dingin telah menjadikan mereka lebih berdisiplin mengelola hidup dan lingkungannya. Hingga kini mereka terlatih untuk mengantisipasi masa-masa sulit, termasuk menyediakan kotak makanan yang isinya selalu diperbarui sebelum kedaluwarsa, menyediakan kebutuhan darurat sewaktu-waktu terjadi bencana, dan menentukan ke arah mana harus menyelamatkan diri. Dengan begitu setidaknya dapat mengurangi timbulnya korban manusia dan kerugian lainnya.

Demikian, dengan memahami bencana dan siklusnya, kita dapat menyikapinya dengan ikut berperan menanganinya di manapun kita berada dan kapanpun situasinya, dengan semangat ibadah karena Allah (lillahi ta’ala). Tulisan ini semoga bermanfaat untuk pembaca, selain menjadi peringatan bagi kita semua bahwa bencana alam atau musibah lainnya dapat terjadi sewaktu-waktu baik karena fenomena alam maupun karena ulah manusia, dapat terjadi dengan berbagai skalanya. Selain upaya manusia dengan mencegah, siap siaga menghadapinya melalui cara dan pengetahuan yang makin maju, tetap kita sebagai insan wajib selalu menyandarkan diri dan berdoa kepada Allah SWT agar selau terhindar dari bencana. Namun bencana perlu kita sikapi sebagai peringatan dan cobaan / ujian atas keimanan dan kesabaran, semoga kita menjadi orang kuat iman, teruji dan tawakal dan tetap menjadi termasuk orang-orang yang pandai bersyukur dan beramal shaleh.

Sebagai penutup tulisan ini kami lampirkan ayat Al-Qur’an; Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali jika ia beriman dan beramal shaleh, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan berwasiat dengan kesabaran”. (QS Al-Ashr )

(Muhammad Kamal)

2 komentar:

  1. Saya sering mendengar dan membaca bahwa Islam memberikan tuntunan dalam menyikapi musibah termasuk bencana alam dan kematian yang dialami seseorang, berupa istirja (mengembalikan segalanya kepada Allah SWT), dengan mengucapkan: "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Pada tulisan ini, kok tidak disebut. Apakah ada alasan tertentu? Mohon klarifikasi. Terimakasih. Wassalam

    BalasHapus
  2. @nurdin: Terima kasih, anda benar. Di samping semua di atas, kita menyikapi kejadian bencana dengan mengembalikan segalanya kepada Allah SWT, dengan mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raa ji'uun". Wassalam.

    BalasHapus