Dalam tulisan tanggal 23/11/08 disebutkan bahwa untuk membangn kekuatan ummat, pertama yang harus kita lakukan adalah membangun ukhuwah Islamiyah. Betapa ummat Islam tercerai berai telah kita ketahui. Salah satu fenomena tersebut adalah banyaknya partai-partai politik (Parpol) Islam yang ikut serta dalam pemilu legislatif (Pileg) di era reformasi.
Jika jumlah suara yang diperoleh Parpol Islam dalam Pileg yang lalu dikumpulkan, maka akan dicapai perolehan suara lebih dari 20% (dengan assumsi hasil penghitungan cepat; akurat), dan merupakan kekuatan politik terbesar yang secara spesifik membawakan aspirasi Islam. Hal ini tentu akan berpengaruh besar dalam menentukan kepemimpinan nasional pada pemilihan presiden (Pilpres) mendatang. Namun karena semangat ukhuwah Islamiyah di kalangan Parpol Islam lemah, maka secara politis kekuatan ummat Islam tidak banyak berarti.
Menjelang Pilpres mendatang, para elite politik saat ini sibuk saling melakukan komunikasi politik, namun hal itu tidak terjadi secara spesifik antar elite politik Parpol Islam. Mereka hanya mementingkan bagaimana menjalin komunikasi politik dengan 3 besar Parpol pemenang Pileg untuk menjajagi kemungkinan diikut sertakan dalam pemerintahan mendatang. Para elite Parpol Islam bukan berkomunikasi untuk memperjuangkan aspirasi Islam. Mereka mengaku pemimpin Islam tetapi tidak mengerti hakikat perjuangan Islam, di mana salah satu faktor penting dalam membangun kekuatan ummat adalah menjalin ukhuwah Islamiyah yang kuat. Mereka hanya menjadikan ummat sebagai pendukung untuk memperoleh suara.
Kita bukan hendak berpolitik praktis, tetapi politik adalah bagian dari sosiologi Islam yang perlu kita bahas sebagai salah satu subyek di mana kita perlu melakukan muhasabah.
Betapa ummat Islam telah mengabaikan pentingnya ukhuwah Islamiyah, dapat kita lihat pula dalam kehidupan sehari-hari. Bentrok antar warga sesama Muslim terjadi di mana-mana, karena kurangnya kemauan untuk menyelesaikan masalah melalui jalan musyawarah. Mereka lebih mengandalkan kekuatan fisik daripada mengendalikan diri dan menahan amarah. Padahal Islam mengajarkan kedamaian. Islam berarti juga selamat, aman dan damai.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah pertentangan di antara kamu dan bertaqwalah kepada Allah [QS Al-Hujuraat (49): 10]. Perselisihan di antara ummat Islam bukan hanya perselisihan yang berkaitan dengan penyimpangan ajaran sesat oleh sekelompok ummat, saling memfitnah dan sebagainya, melainkan juga hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari seperti perebutan lahan yang berujung dengan kericuhan bahkan sampai melakukan kekerasan dan pembunuhan. Demikian pula di bidang politik, kisruh dalam partai juga seringkali terjadi.
Lemahnya semangat bermusyawarah itu disebabkan karena mereka kurang memahami pentingnya silaturahim. Kita perlu menjalin silaturahim di kalangan ummat Islam, karena dalam Al Qur’an disebutkan bahwa menghubungkan silaturahim merupakan perintah kedua setelah perintah taqwa sebagaimana firman Allah SWT: “Bertaqwalah kamu kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu saling memohon dan peliharalah kekerabatan (silaturahim).” [QS An Nisa’ (4): 1].
Arti kata ‘silaturahim’ berasal dari kata shilat yang berarti menyambungkan atau menghimpun dan ar rahiim yang berarti kasih sayang. 'Menyambungkan' dan ‘menghimpun’ adalah suatu proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Silaturahim harus dimulai dari kalangan keluarga, dan terus dikembangkan di masyarakat yang lebih luas. Tentang silaturahim ini Rasulullah SAW bersabda: “Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” [HR Bukhari].
Kekuatan silaturahim, terutama di kalangan ummat Islam bukan sekedar saling bersalaman, menyentuhkan tangan, atau permintaan maaf, tetapi yang lebih hakiki tentang silaturahim ini adalah kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia untuk memperbaiki akhlak. Betapa pentingnya memperbaiki, yang pada hakikatnya adalah mengubah karakter dasar manusia, adalah prioritas utama dalam dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Karakter akan berubah seiring munculnya kesadaran setiap orang akan jati dirinya. Maka, menumbuhkan kesadaran adalah jihad. Kesadaran adalah sebutir mutiara yang hilang tersapu berlapis-lapis nafsu. Adalah teramat penting bagi kita untuk menyadari bahwa silaturahim tidak hanya merekayasa gerak-gerik tubuh. Kita haruslah bersungguh-sungguh menata hati agar kita mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dari apa yang dilakukan orang lain terhadap kita.
Allah Maha Mengetahui akan segala kebutuhan, harapan, dan keinginan manusia. Bahkan Allah SWT adalah pemilik segala yang kita inginkan. Dia lah penentu segala kejadian yang terbaik bagi dunia maupun akhirat kita. Allah SWT tahu persis segala sesuatu yang akan mencelakakan diri kita, dan tahu persis segala sesuatu yang akan membinasakan dunia akhirat kita.
Rasulullah SAW bersabda: ● “Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebajikan dan menghubungkan silaturahim. Sedangkan yang paling cepat mendatangkan kejahatan ialah balasan (siksaan) orang yang berbuat jahat dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR Ibnu Majah). ● ” Barang siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” [HR Bukhari-Muslim].
Bagaimanakah agar semangat ukhuwah tetap kokoh? Rahasianya ternyata adalah sejauh mana kita mampu bersungguh-sungguh menata kesadaran untuk memiliki kalbu yang bening bersih. Karena, kalbu yang kotor itu dipenuhi sifat dengki, hasut, dan buruk sangka, maka hampir dapat dipastikan akan membuat pemiliknya melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang merusak ukhuwah Islamiyah.
Mengapa? Sebab jika di antara sesama Muslim saja sudah saling berburuk sangka, saling mendengki, maka bagaimana mungkin akan tumbuh nilai-nilai persaudaraan yang indah? Kemuliaan akhlak tidak akan pernah berpadu dengan hati yang penuh iri, dengki, ujub, riya, dan takabur. Di dalam kalbu yang kusam dan busuk inilah justru tersimpan benih-benih perpecahan (tafarruq) yang mengejawantah dalam aneka bentuk permusuhan dan kebencian terhadap sesama Muslim.
Bila dua orang tak bertegur sapa, sekurang-kurangnya salah satunya telah terselimuti nafsu, sehingga menganggap permusuhan adalah satu-satunya langkah yang bisa menyelesaikan masalah. Selanjutnya, tanyakanlah kepada diri kita masing-masing, adakah kita saat ini tengah merasa tidak enak hati atau masih menyimpan kesal kepada sesama saudara sendiri, teman serukun tetangga, atau sesama jamaah masjid?
Bila demikian halnya, bagaimana bisa terketuk hati ini ketika mendengar ada seorang Muslim yang teraniaya, ada sekelompok masyarakat Muslim yang diperangi? Bagaimana kita mampu bangkit apabila hak-hak Muslim dirampas oleh kaum yang zhalim? Bagaimana mungkin kita akan mampu menata kembali kejayaan ummat Islam, jika menjadi Mukmin sejati yang mampu bersilaturahim dengan benar saja tidak bisa?
Kita harus ingat bahwa Allah SWT adalah Pelindung Yang Maha Sempurna. Jika Allah berkehendak melindungi makhluk-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi. Orang yang disayangi Allah, sempurnalah kebahagiaannya. Semua kebutuhannya terpenuhi, kesulitan akan diberi jalan keluar, bahkan akan dibela dari segala yang mengancamnya dengan pembelaan yang memuaskan.
Silaturahim yang kita laksanakan hendaknya benar-benar bukan karena mengharapkan imbalan dari manusia. Bukan berharap pujian dan penghargaan, juga bukan karena mendambakan agar mereka pun menyambungkan tali silaturahim sebagaimana yang telah kita lakukan. Melainkan semua ini kita lakukan semata-mata agar kita disayangi oleh Allah SWT. Kita merindukan pribadi-pribadi yang menorehkan keluhuran akhlak mulia seperti itu.
Para elite politik Parpol Islam hendaknya melakukan muhasabah dengan menjalin silaturahim yang kokoh dan komunikasi dialogis baik antar mereka maupun dengan masyarakat, dan hal ini hendaknya juga dijadikan budaya bangsa. Proses politik yang terjadi di semua tingkat, baik di pusat maupun di daerah juga harus memperhatikan moralitas dan etika politik. Janganlah hanya karena kepentingan politik para elite politik, maka rakyat dikorbankan.
Karena makna bersilaturahim itu menyambungkan kasih sayang secara aktif, maka marilah dari diri kita sendiri proaktif bersilaturahim kepada mereka yang pasif melakukannya, karena Islam mengajarkan bahwa yang kita lakukan itu akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Jika di antara kita sesama Muslim telah terjalin ukhuwah Islamiyah dengan baik, maka akan terpujilah kita ummat Islam yang mayoritas ini. Hal ini merupakan modal utama untuk membangun masyarakat Indonesia yang Islami.
Dalam mensyi’arkan Islam, kita tidak melakukan secara paksa, melainkan melalui pergaulan dan silaturahim yang simpatik, membangun bangsa dan negara dengan konsep-konsep yang Islami dengan menerapkan syariat Islam, dan dengan itu pula ummat lain akan terlindungi kepentingannya.
Kebanyakan manusia menerapkan makna ukhuwah dalam keadaan senang dan lapang, tetapi berat untuk menerapkannya dalam keadaan susah dan sempit. Ketika banyak saudaranya yang sulit menemukan nasi untuk makan, serta tidur beratapkan langit dan di atas kasur bumi, dia mampu membuang-buang makanan selesai pesta dan kenduri, serta tidur berlama-lama di atas kasur empuk sampai tidak bangun untuk menegakkan shalat. Inikah bentuk ukhuwah Islamiyah itu?
Rasulullah SAW bersabda: “Orang Muslim adalah saudara bagi Muslim, maka janganlah berlaku aniaya kepadanya, janganlah menelantarkannya, janganlah membohonginya, dan jangan merendahkannya. Taqwa itu di sini (beliau sambil menunjukkan kearah dadanya dan mengulanginya sampai tiga kali). Cukuplah seseorang dikategorikan jelek apabila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim. Darah, harta, dan kehormatan setiap Muslim adalah haram bagi Muslim yang lain. [HR Muslim].
Dari hadis tersebut dapat kita renungkan bahwa kita sudah menolak dan merusak ukhuwah Islamiyah ini, yaitu ketika kita merendahkan Muslim yang lain dan memperoloknya, karena hal ini akan mempermalukan dirinya dan menyakiti hatinya. Karena itu marilah kita wujudkan dan kita pelihara ukhuwah Islamiyah yang hakiki dalam rangka membangun masyarakat Islami.
Jadi menerapkan silaturahim adalah menyempurnakan akhlak, yang pada hakikatnya adalah mengubah karakter dasar manusia. Itu adalah prioritas utama dalam dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu, marilah kita wujudkan dan kita pelihara ukhuwah Islamiyah secara hakiki di antara kita dengan hati yang bening bersih dan ikhlas, semata-mata untuk disayangi Allah SWT, dan mendapatkan pahala-Nya, bukan dengan cara yang hanya berbasa-basi tanpa mendapatkan pahala.
Karakter akan berubah seiring munculnya kesadaran setiap orang akan jati dirinya. Maka, menumbuhkan kesadaran adalah jihad menyempurnakan akhlak. Kesadaran itu bagaikan sebutir mutiara yang tertimbun berlapis-lapis nafsu. Kekuatan ukhuwah Islamiyah yang hakiki adalah kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia untuk melakukan jihad menyempurnakan akhlak yang kotor menjadi bening bersih. Dengan demikian akan terwujud ukhuwah Islamiyah yang kokoh.
Dengan semangat ukhuwah Islamiyah, kita akan akan dapat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar secara lebih intensif dan efektif dalam kehidupan sosial ummat. Dalam bahasa modern, amar ma’ruf juga dapat dipahami sebagai humanisasi, yaitu pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sedangkan nahi munkar dipahami sebagai liberasi, yaitu ikhtiar membebaskan ummat dari kedzhaliman dan berbagai pelanggaran moral. Sementara itu iman bermakna seruan agar manusia tidak melupakan komitmen primordialnya dengan Tuhan.
Pada humanisasi terkandung penguatan intelektual, pada liberasi terkandung penguatan moral. Sedangkan pada iman terkandung penguatan spiritual. Inilah tiga hal, yang harus kita manfaatkan dalam membangun kekuatan ummat. Dengan tiga kekuatan ini (intelektual, moral dan spiritual), manusia sebagai individu maupun anggota masyarakat akan bertahan hidup, bahkan menjadi panjang umur dalam arti maju dan beradab. Demikian makna ukhuwah Islamiyah yang perlu kita pahami, dan selanjutnya kita laksanakan untuk membangun kekuatan ummat. [Hermanto]
Catatan: Sebagian ulama mengatakan, istilah ’silaturahim’ digunakan untuk antar kerabat (saudara dekat), sedangkan untuk kalangan yang lebih luas digunakan istilah ’silaturahmi’.
Jika jumlah suara yang diperoleh Parpol Islam dalam Pileg yang lalu dikumpulkan, maka akan dicapai perolehan suara lebih dari 20% (dengan assumsi hasil penghitungan cepat; akurat), dan merupakan kekuatan politik terbesar yang secara spesifik membawakan aspirasi Islam. Hal ini tentu akan berpengaruh besar dalam menentukan kepemimpinan nasional pada pemilihan presiden (Pilpres) mendatang. Namun karena semangat ukhuwah Islamiyah di kalangan Parpol Islam lemah, maka secara politis kekuatan ummat Islam tidak banyak berarti.
Menjelang Pilpres mendatang, para elite politik saat ini sibuk saling melakukan komunikasi politik, namun hal itu tidak terjadi secara spesifik antar elite politik Parpol Islam. Mereka hanya mementingkan bagaimana menjalin komunikasi politik dengan 3 besar Parpol pemenang Pileg untuk menjajagi kemungkinan diikut sertakan dalam pemerintahan mendatang. Para elite Parpol Islam bukan berkomunikasi untuk memperjuangkan aspirasi Islam. Mereka mengaku pemimpin Islam tetapi tidak mengerti hakikat perjuangan Islam, di mana salah satu faktor penting dalam membangun kekuatan ummat adalah menjalin ukhuwah Islamiyah yang kuat. Mereka hanya menjadikan ummat sebagai pendukung untuk memperoleh suara.
Kita bukan hendak berpolitik praktis, tetapi politik adalah bagian dari sosiologi Islam yang perlu kita bahas sebagai salah satu subyek di mana kita perlu melakukan muhasabah.
Betapa ummat Islam telah mengabaikan pentingnya ukhuwah Islamiyah, dapat kita lihat pula dalam kehidupan sehari-hari. Bentrok antar warga sesama Muslim terjadi di mana-mana, karena kurangnya kemauan untuk menyelesaikan masalah melalui jalan musyawarah. Mereka lebih mengandalkan kekuatan fisik daripada mengendalikan diri dan menahan amarah. Padahal Islam mengajarkan kedamaian. Islam berarti juga selamat, aman dan damai.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah pertentangan di antara kamu dan bertaqwalah kepada Allah [QS Al-Hujuraat (49): 10]. Perselisihan di antara ummat Islam bukan hanya perselisihan yang berkaitan dengan penyimpangan ajaran sesat oleh sekelompok ummat, saling memfitnah dan sebagainya, melainkan juga hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari seperti perebutan lahan yang berujung dengan kericuhan bahkan sampai melakukan kekerasan dan pembunuhan. Demikian pula di bidang politik, kisruh dalam partai juga seringkali terjadi.
Lemahnya semangat bermusyawarah itu disebabkan karena mereka kurang memahami pentingnya silaturahim. Kita perlu menjalin silaturahim di kalangan ummat Islam, karena dalam Al Qur’an disebutkan bahwa menghubungkan silaturahim merupakan perintah kedua setelah perintah taqwa sebagaimana firman Allah SWT: “Bertaqwalah kamu kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu saling memohon dan peliharalah kekerabatan (silaturahim).” [QS An Nisa’ (4): 1].
Arti kata ‘silaturahim’ berasal dari kata shilat yang berarti menyambungkan atau menghimpun dan ar rahiim yang berarti kasih sayang. 'Menyambungkan' dan ‘menghimpun’ adalah suatu proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Silaturahim harus dimulai dari kalangan keluarga, dan terus dikembangkan di masyarakat yang lebih luas. Tentang silaturahim ini Rasulullah SAW bersabda: “Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” [HR Bukhari].
Kekuatan silaturahim, terutama di kalangan ummat Islam bukan sekedar saling bersalaman, menyentuhkan tangan, atau permintaan maaf, tetapi yang lebih hakiki tentang silaturahim ini adalah kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia untuk memperbaiki akhlak. Betapa pentingnya memperbaiki, yang pada hakikatnya adalah mengubah karakter dasar manusia, adalah prioritas utama dalam dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Karakter akan berubah seiring munculnya kesadaran setiap orang akan jati dirinya. Maka, menumbuhkan kesadaran adalah jihad. Kesadaran adalah sebutir mutiara yang hilang tersapu berlapis-lapis nafsu. Adalah teramat penting bagi kita untuk menyadari bahwa silaturahim tidak hanya merekayasa gerak-gerik tubuh. Kita haruslah bersungguh-sungguh menata hati agar kita mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dari apa yang dilakukan orang lain terhadap kita.
Allah Maha Mengetahui akan segala kebutuhan, harapan, dan keinginan manusia. Bahkan Allah SWT adalah pemilik segala yang kita inginkan. Dia lah penentu segala kejadian yang terbaik bagi dunia maupun akhirat kita. Allah SWT tahu persis segala sesuatu yang akan mencelakakan diri kita, dan tahu persis segala sesuatu yang akan membinasakan dunia akhirat kita.
Rasulullah SAW bersabda: ● “Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebajikan dan menghubungkan silaturahim. Sedangkan yang paling cepat mendatangkan kejahatan ialah balasan (siksaan) orang yang berbuat jahat dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR Ibnu Majah). ● ” Barang siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” [HR Bukhari-Muslim].
Bagaimanakah agar semangat ukhuwah tetap kokoh? Rahasianya ternyata adalah sejauh mana kita mampu bersungguh-sungguh menata kesadaran untuk memiliki kalbu yang bening bersih. Karena, kalbu yang kotor itu dipenuhi sifat dengki, hasut, dan buruk sangka, maka hampir dapat dipastikan akan membuat pemiliknya melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang merusak ukhuwah Islamiyah.
Mengapa? Sebab jika di antara sesama Muslim saja sudah saling berburuk sangka, saling mendengki, maka bagaimana mungkin akan tumbuh nilai-nilai persaudaraan yang indah? Kemuliaan akhlak tidak akan pernah berpadu dengan hati yang penuh iri, dengki, ujub, riya, dan takabur. Di dalam kalbu yang kusam dan busuk inilah justru tersimpan benih-benih perpecahan (tafarruq) yang mengejawantah dalam aneka bentuk permusuhan dan kebencian terhadap sesama Muslim.
Bila dua orang tak bertegur sapa, sekurang-kurangnya salah satunya telah terselimuti nafsu, sehingga menganggap permusuhan adalah satu-satunya langkah yang bisa menyelesaikan masalah. Selanjutnya, tanyakanlah kepada diri kita masing-masing, adakah kita saat ini tengah merasa tidak enak hati atau masih menyimpan kesal kepada sesama saudara sendiri, teman serukun tetangga, atau sesama jamaah masjid?
Bila demikian halnya, bagaimana bisa terketuk hati ini ketika mendengar ada seorang Muslim yang teraniaya, ada sekelompok masyarakat Muslim yang diperangi? Bagaimana kita mampu bangkit apabila hak-hak Muslim dirampas oleh kaum yang zhalim? Bagaimana mungkin kita akan mampu menata kembali kejayaan ummat Islam, jika menjadi Mukmin sejati yang mampu bersilaturahim dengan benar saja tidak bisa?
Kita harus ingat bahwa Allah SWT adalah Pelindung Yang Maha Sempurna. Jika Allah berkehendak melindungi makhluk-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi. Orang yang disayangi Allah, sempurnalah kebahagiaannya. Semua kebutuhannya terpenuhi, kesulitan akan diberi jalan keluar, bahkan akan dibela dari segala yang mengancamnya dengan pembelaan yang memuaskan.
Silaturahim yang kita laksanakan hendaknya benar-benar bukan karena mengharapkan imbalan dari manusia. Bukan berharap pujian dan penghargaan, juga bukan karena mendambakan agar mereka pun menyambungkan tali silaturahim sebagaimana yang telah kita lakukan. Melainkan semua ini kita lakukan semata-mata agar kita disayangi oleh Allah SWT. Kita merindukan pribadi-pribadi yang menorehkan keluhuran akhlak mulia seperti itu.
Para elite politik Parpol Islam hendaknya melakukan muhasabah dengan menjalin silaturahim yang kokoh dan komunikasi dialogis baik antar mereka maupun dengan masyarakat, dan hal ini hendaknya juga dijadikan budaya bangsa. Proses politik yang terjadi di semua tingkat, baik di pusat maupun di daerah juga harus memperhatikan moralitas dan etika politik. Janganlah hanya karena kepentingan politik para elite politik, maka rakyat dikorbankan.
Karena makna bersilaturahim itu menyambungkan kasih sayang secara aktif, maka marilah dari diri kita sendiri proaktif bersilaturahim kepada mereka yang pasif melakukannya, karena Islam mengajarkan bahwa yang kita lakukan itu akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Jika di antara kita sesama Muslim telah terjalin ukhuwah Islamiyah dengan baik, maka akan terpujilah kita ummat Islam yang mayoritas ini. Hal ini merupakan modal utama untuk membangun masyarakat Indonesia yang Islami.
Dalam mensyi’arkan Islam, kita tidak melakukan secara paksa, melainkan melalui pergaulan dan silaturahim yang simpatik, membangun bangsa dan negara dengan konsep-konsep yang Islami dengan menerapkan syariat Islam, dan dengan itu pula ummat lain akan terlindungi kepentingannya.
Kebanyakan manusia menerapkan makna ukhuwah dalam keadaan senang dan lapang, tetapi berat untuk menerapkannya dalam keadaan susah dan sempit. Ketika banyak saudaranya yang sulit menemukan nasi untuk makan, serta tidur beratapkan langit dan di atas kasur bumi, dia mampu membuang-buang makanan selesai pesta dan kenduri, serta tidur berlama-lama di atas kasur empuk sampai tidak bangun untuk menegakkan shalat. Inikah bentuk ukhuwah Islamiyah itu?
Rasulullah SAW bersabda: “Orang Muslim adalah saudara bagi Muslim, maka janganlah berlaku aniaya kepadanya, janganlah menelantarkannya, janganlah membohonginya, dan jangan merendahkannya. Taqwa itu di sini (beliau sambil menunjukkan kearah dadanya dan mengulanginya sampai tiga kali). Cukuplah seseorang dikategorikan jelek apabila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim. Darah, harta, dan kehormatan setiap Muslim adalah haram bagi Muslim yang lain. [HR Muslim].
Dari hadis tersebut dapat kita renungkan bahwa kita sudah menolak dan merusak ukhuwah Islamiyah ini, yaitu ketika kita merendahkan Muslim yang lain dan memperoloknya, karena hal ini akan mempermalukan dirinya dan menyakiti hatinya. Karena itu marilah kita wujudkan dan kita pelihara ukhuwah Islamiyah yang hakiki dalam rangka membangun masyarakat Islami.
Jadi menerapkan silaturahim adalah menyempurnakan akhlak, yang pada hakikatnya adalah mengubah karakter dasar manusia. Itu adalah prioritas utama dalam dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu, marilah kita wujudkan dan kita pelihara ukhuwah Islamiyah secara hakiki di antara kita dengan hati yang bening bersih dan ikhlas, semata-mata untuk disayangi Allah SWT, dan mendapatkan pahala-Nya, bukan dengan cara yang hanya berbasa-basi tanpa mendapatkan pahala.
Karakter akan berubah seiring munculnya kesadaran setiap orang akan jati dirinya. Maka, menumbuhkan kesadaran adalah jihad menyempurnakan akhlak. Kesadaran itu bagaikan sebutir mutiara yang tertimbun berlapis-lapis nafsu. Kekuatan ukhuwah Islamiyah yang hakiki adalah kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia untuk melakukan jihad menyempurnakan akhlak yang kotor menjadi bening bersih. Dengan demikian akan terwujud ukhuwah Islamiyah yang kokoh.
Dengan semangat ukhuwah Islamiyah, kita akan akan dapat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar secara lebih intensif dan efektif dalam kehidupan sosial ummat. Dalam bahasa modern, amar ma’ruf juga dapat dipahami sebagai humanisasi, yaitu pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sedangkan nahi munkar dipahami sebagai liberasi, yaitu ikhtiar membebaskan ummat dari kedzhaliman dan berbagai pelanggaran moral. Sementara itu iman bermakna seruan agar manusia tidak melupakan komitmen primordialnya dengan Tuhan.
Pada humanisasi terkandung penguatan intelektual, pada liberasi terkandung penguatan moral. Sedangkan pada iman terkandung penguatan spiritual. Inilah tiga hal, yang harus kita manfaatkan dalam membangun kekuatan ummat. Dengan tiga kekuatan ini (intelektual, moral dan spiritual), manusia sebagai individu maupun anggota masyarakat akan bertahan hidup, bahkan menjadi panjang umur dalam arti maju dan beradab. Demikian makna ukhuwah Islamiyah yang perlu kita pahami, dan selanjutnya kita laksanakan untuk membangun kekuatan ummat. [Hermanto]
Catatan: Sebagian ulama mengatakan, istilah ’silaturahim’ digunakan untuk antar kerabat (saudara dekat), sedangkan untuk kalangan yang lebih luas digunakan istilah ’silaturahmi’.
Assalamu’alaikum Editor. Pesan moral yang terkandung dalam tulisan di atas, bagus. Kita memang sudah jauh meninggalkan semangat ukhuwan Islamiyah. Wassalam. Zulfikar.
BalasHapus