Setelah kita membahas tulisan-tulisan utama yang ditampilkan selama ini, maka tulisan-tulisan yang berkaitan dengan khazanah muamalah akan berkurang, sedangkan tulisan-tulisan untuk mempelajari, memahami dan menghayati agama Islam akan bertambah. Urutan penampilan semacam ini memang kami sengaja, agar supaya kita bisa melakukan muhasabah setelah melihat fenomena yang terjadi di lingkungan kehidupan kita masing-masing.
Dengan melakukan muhasabah kita akan mengetahui ketaatan maupun kemaksiatan yang telah kita kerjakan. Sehingga, apabila kita melakukan ketaatan, hendaklah diteruskan. Dan apabila melakukan kemaksiatan, maka wajib untuk berhenti dan meninggalkannya. Muhasabah juga sangat membantu kita istiqamah di jalan Allah SWT, sehingga para salaf berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah ta’ala.” Barangsiapa yang dihisab oleh Allah, sungguh ia akan mendapatkan siksa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada ‘Aisyah RA; “Barangsiapa yang dihisab oleh Allah, maka sesungguhnya Allah akan mengadzabnya”. Berhati-hatilah kita!
Dalam kehidupan sehari-hari, kadang-kadang kita tidak tahu dari amalan-amalan selama ini, adakah masih dilandasi nash Al Qur’an dan didukung Hadis yang shahih atau tidak. Yang pasti, kita pada umumnya mengikuti amaliah pendahulu kita dan orang-orang di sekitar kita yang tanpa sempat kita tanyakan dasar-dasarnya. Banyak di antara kita tidak tahu menahu tentang hal ini, bahkan boleh dikata untuk urusan ini tidak mau ambil pusing, tidak mau tahu. Itu disebabkan karena pada umumnya manusia selalu dalam kesibukan duniawi masing-masing.
Semua manusia mempunyai rasa cinta kepada diri sendiri. Namun, supaya cinta ini tidak menjurus ke arah ‘mendewakan’ atau ‘mentuhankan’ diri sendiri, maka manusia harus muhasabah, harus tahu siapa diri kita masing-masing, apa fungsi dan status kita di dunia ini, dan hendak ke mana kita pergi.
Kita hendaknya senantiasa melihat kepada diri kita masing-masing, sejauh mana telah beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dengan benar. Perilaku kita dalam hidup dan kehidupan sehari-hari harus menunjukkan bahwa shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya bisa kita terapkan untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Jika tidak, ibadah yang kita lakukan tersebut hanya ritual belaka.
Tidak sedikit di antara kita yang secara samar-samar, menyadari bahwa segala amalan kita harus berdasarkan nash Al Qur’an dan Hadis. Di antara kita ada yang hanya berkutat dalam pemahaman lama tentang syariat Islam sebagaimana yang mereka dapatkan dari leluhur, guru tradisional, secara turun-temurun, tidak mau bergeming setapakpun, pokoknya yang jadi patokan adalah manusia itu, baik itu tokoh maupun orang biasa.
Sementara ada pula yang kritis, suka berpikir (tafakkur) ingin memperbaiki pemahamannya sesuai informasi mutakhir yang mereka peroleh, terutama tentang ibadah yang bersandarkan hadis-hadis yang shahih, mutawattir, paling tidak hasan. Tiada lain karena adanya ‘ancaman’ dari Rasulullah SAW bahwa pengamalan yang tiada dasar nash dari Al Qur’an dan Hadis yang shahih, maka amalan itu tertolak, bahkan pengamalnya diancam adzab neraka.
Hal ini penting untuk kita pahami, untuk menjaga kemurnian akidah dan syariat supaya tidak dicampuri rekayasa manusia. Allah SWT telah menjamin bahwa agama Islam telah sempurna sebagaimana firman-Nya: “Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [QS Al Maaidah (5): 3].
Kita masing-masing telah hidup dalam khazanah hidup yang berbeda-beda, tergantung di mana saat ini kita berada. Bahwa banyak di antara kita yang kemudian menyerahkan diri bulat-bulat kepada lingkungan masing-masing. Itu wajar-wajar saja. Corak berpikir kita – sadar atau tidak – akan terwarnai oleh kehidupan di mana kita ‘berkubang’ tersebut. Kehidupan manusia kebanyakan tidak seperti ‘ikan hidup’ di laut yang walaupun air di sekelilingnya asin, namun tubuhnya tidak ikut menjadi asin, sebab ikan mempunyai sistem yang menetralisir ‘racun’ tersebut. Sebaliknya kehi-dupan manusia kebanyakan seperti ‘ikan mati’, tergantung pada ‘koki’ yang memberi bumbu ketika memasak.
Dan tak dapat disangkal bahwa ‘koki’ sebagian besar ummat Islam saat ini telah ‘memasak’ dengan menu yang dianggap paling lezat, yaitu ‘masakan’ yang datangnya dari Barat. Betapa sebagian di antara kita adalah pemuja Barat yang fanatik, dan hakikatnya ‘kiblat’ mereka telah berubah mengarah ke ’Barat’ bukan ‘Ka’bah’. Kita memang tidak boleh mengharamkan segala sesuatu yang datangnya dari Barat, misalnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dari Barat, akan tetapi dalam beberapa hal hendaknya tidak menjiplak secara membabi buta, apalagi megembangkannya secara keliru.
Kita perlu menyadari, alangkah naifnya apabila seseorang yang sekian lama berkecimpung dalam kegiatan masjid misalnya, dan berkesempatan berdiskusi dan berdialog dari ‘tangan pertama’ tentang agama, tidak berusaha menimba ilmu dari mereka. Dia tidak mau menyelami kehidupan hari ini dan makna kehidupan di akhirat kelak. Misalnya datang ke masjid karena ingin dilihat dan mendapat pujian dari orang lain (riya).
Di sisi lain ada pula sebagian orang yang kesehariannya bergaul dengan kaum sekuler (yang berpendapat bahwa harus ada pemisahan antara pengamalan agama dengan kehidupan sehari-hari, agama hanya diberlakukan di lingkungan masjid). Di antara mereka adalah ahli maksiat, orang-orang yang akidahnya berseberangan dengan akidah Islam, yang memandang dosa sebagai hal yang lumrah dan ‘manusiawi’, waktunya diisi untuk memenuhi keinginan nafsu, mengisi waktu dengan menikmati kegiatan yang tiada nilai ibadah.
Kita harus waspada terhadap lingkungan seperti itu. Mendekati kaum yang kegiatannya demikian, hendaknya kita mengambil jarak, tanpa memusuhi. Begitulah kepada kita diajarkan agar kita mawas diri, dan waspada terhadap lingkungan. Jangan sampai kita terpengaruh, dan kehilangan arah dalam kegelapan.
Karena itu kita perlu mengenal diri sendiri, bahwasanya manusia terdiri dari badan kasar sebagai komponen jasmani yang terlihat, dan roh / jiwa sebagai komponen rohani yang tak terlihat, tetapi ada, yang menjadikan semuanya berfungsi. Berkenaan dengan jasmani, dengan kemampuan akalnya manusia bisa mempelajari, namun tentang roh, sesungguhnya ilmu manusia sangat sedikit dan dangkal, dibandingkan dengan ilmu Allah SWT, sebagaimana firman-Nya kepada Rasulullah SAW; “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, maka jawablah; “Roh itu urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi ilmu tentang roh kecuali sedikit saja”. [QS Al Israa’ (17): 85].
Tentang keberadaan dan perjalanan roh, Allah SWT berfirman; “Itulah Allah yang mengambil nyawa seseorang bila ajalnya tiba, dan yang belum tiba ajalnya sewaktu tidur dan Dia tahan nyawa orang yang ditetapkan kematiannya dan dilepas kembali nyawa yang lain sampai waktu tertentu, yang demikian merupakan ayat-ayat bagi orang-orang yang mau berpikir.” [QS Az Zumar (39):42]. Jadi Allah SWT telah memberi petunjuk kepada kita yang mau berpikir dan mau meneliti tentang dirinya sendiri, bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur, yaitu jasmani dan rohani.
Demikianlah pentingnya kita mengenal diri kita sendiri itu juga dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut ini; ”Apakah mereka tidak berpikir tentang diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya itu, kecuali dengan haq dan dalam waktu ditentukan. Sungguh kebanyakan manusia itu kufur terhadap pertemuan dengan Tuhan-nya.” [QS Ar Ruum (30): 8].
Maka Allah SWT telah memberi petunjuk kepada kita yang mau berpikir dan mau meneliti tentang dirinya sendiri, bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Mengenal diri sendiri itu juga berarti mensyukuri apa saja yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada kita agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan di akhirat tanpa melupakan mencari kebahagiaan dari kenikmatan duniawi di saat kita sekarang hidup. Dengan demikian kita bisa memadukan jasmani dan rohani itu secara harmonis, agar sepanjang hidup kita, keduanya dapat berinteraksi dan berfungsi dengan baik dalam menjalani kehidupan di dunia menuju kehidupan akhirat sesuai tuntunan Al Qur’an dan Hadis.
Dalam mengenal diri sendiri, kita juga perlu mengenal kekuatan dahsyat yang menguasai diri kita yaitu nafsu. Kekuatan itu harus kita kenali, agar kita bisa mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pengabdian kita kepada Allah SWT. Pada umumnya nafsu diartikan sebagai emosi yang menyuruh manusia untuk melakukan keburukan. Akan tetapi, dengan memanfaatkan kecerdasan emosionalnya, manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan membunuhnya. Nafsu sangat kita butuhkan, sebab dia merupakan salah satu faktor yang mendorong terlaksananya tugas kekhalifahan, yakni untuk membangun dunia sesuai kehendak dan tuntunan Ilahi.
Nafsu dari sisi dzatnya adalah satu, sedangkan dari sisi sifatnya ada tiga; 1) Jika nafsu memerintahkan keburukan dan maksiat, maka dinamakan amaratun bissuu', 2) jika memerintahkan kebaikan dan ketaatan, maka dinamakan muthmainnah, dan 3) Jika memerintahkan sesuatu lalu mencelanya, itu disebut lawwamah. Jika yang dicela itu perbuatan buruk, maka ia terpuji, dan jika yang dicela perbuatan baik, maka ia tercela.
Meskipun demikian, secara umum nafsu memerintahkan kepada keburukan dan kemaksiatan. Nafsu pada umumnya menyuruh melakukan apa-apa yang enak dan menyenangkan. Ini merupakan salah satu tipu dayanya. Andaikan kita memberi keleluasaan kepadanya, maka dia akan menyelipkan keburukan, dan tidak akan berhenti memerintahkan keburukan kepada kita. Namun dengan kecerdasan emosional, manusia mampu mengendalikan nafsunya ke arah positif, agar tidak terjerumus ke dalam kegiatan negatif.
Nafsu tidak akan mampu berubah dengan sendirinya tanpa perjuangan serta usaha yang sungguh-sungguh dari kita sendiri (manusia) dan pertolongan Allah SWT. Nafsu menghiasi kita dengan kemaksiatan seakan-akan baik dan indah, menganjurkan melakukan dan membiasakannya. Firman Allah SWT dalam [QS Yuusuf (12): 53] menyebutkan pengakuan Nabi Yuusuf AS sbb: ”Aku tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh nafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”
Faktor pendorong terbesar gejolak nafsu buruk adalah kebodohan (aj-jahl) dan kezhaliman (az-zhulm). Dari dua faktor ini muncul perilaku dan perkataan yang buruk. Tetapi, dengan per-tolongan Allah SWT nafsu dapat berubah. Yaitu dengan cara menggunakan ilmu yang bermanfaat dan beramal shaleh. Ilmu yang bermanfaat adalah segala yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Sedangkan amal shalih adalah amal yang memenuhi dua syarat yaitu ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti apa saja yang telah diajarkan Rasulullah SAW). Sedangkan yang tidak mencontoh Rasulullah SAW dinamakan bid'ah.
Adapun nafsu muthmainnah adalah nafsu yang telah ditundukkan oleh pemiliknya, sehingga sifat ammaratun bissuu' telah mati dan tunduk di jalan Allah. Maka jadilah nafsu itu penyuruh dan pembisik kebaikan. Orang yang imannya kuat, bisa mengelola nafsunya secara muthmainah. Iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan dan perbuatan anggota badan. Iman dapat bertambah (yazdadu) apabila kita taat kepada Allah SWT, dan berkurang (yanqushu) apabila kita melakukan keburukan, kemaksiatan, dan kemungkaran lainnya.
Dengan mengenal nafsu, kita akan lebih baik mengenal diri kita sendiri. Karena nafsu itu pada umumnya konotasinya negatif, maka kita harus mengendalikan hawa nafsu itu agar menjadi kekuatan yang positif. Bukan membiarkan nafsu tidak terkendali, sehingga kita mudah dipengaruhi oleh syeitan, yaitu golongan jin dan manusia yang sombong, fasik dan durhaka. Syeitan adalah mahluk yang telah dikutuk Allah dan akan memperoleh kehinaan kelak diakhirat sebagaimana firman-Nya; “Barangsiapa menjadikan syeitan itu temannya, maka syeitan adalah teman yang seburuk-buruknya. [QS An Nisaa’ (4):38]. Allah SWT telah memperingatkan manusia dengan jelas agar tidak berteman dengan syeitan yang bisa menjerumuskan manusia ke lembah kemaksiatan, kejahatan, dan syirik yang akan membawa manusia ke dalam neraka. [Hermanto]
Dengan melakukan muhasabah kita akan mengetahui ketaatan maupun kemaksiatan yang telah kita kerjakan. Sehingga, apabila kita melakukan ketaatan, hendaklah diteruskan. Dan apabila melakukan kemaksiatan, maka wajib untuk berhenti dan meninggalkannya. Muhasabah juga sangat membantu kita istiqamah di jalan Allah SWT, sehingga para salaf berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah ta’ala.” Barangsiapa yang dihisab oleh Allah, sungguh ia akan mendapatkan siksa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada ‘Aisyah RA; “Barangsiapa yang dihisab oleh Allah, maka sesungguhnya Allah akan mengadzabnya”. Berhati-hatilah kita!
Dalam kehidupan sehari-hari, kadang-kadang kita tidak tahu dari amalan-amalan selama ini, adakah masih dilandasi nash Al Qur’an dan didukung Hadis yang shahih atau tidak. Yang pasti, kita pada umumnya mengikuti amaliah pendahulu kita dan orang-orang di sekitar kita yang tanpa sempat kita tanyakan dasar-dasarnya. Banyak di antara kita tidak tahu menahu tentang hal ini, bahkan boleh dikata untuk urusan ini tidak mau ambil pusing, tidak mau tahu. Itu disebabkan karena pada umumnya manusia selalu dalam kesibukan duniawi masing-masing.
Semua manusia mempunyai rasa cinta kepada diri sendiri. Namun, supaya cinta ini tidak menjurus ke arah ‘mendewakan’ atau ‘mentuhankan’ diri sendiri, maka manusia harus muhasabah, harus tahu siapa diri kita masing-masing, apa fungsi dan status kita di dunia ini, dan hendak ke mana kita pergi.
Kita hendaknya senantiasa melihat kepada diri kita masing-masing, sejauh mana telah beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dengan benar. Perilaku kita dalam hidup dan kehidupan sehari-hari harus menunjukkan bahwa shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya bisa kita terapkan untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Jika tidak, ibadah yang kita lakukan tersebut hanya ritual belaka.
Tidak sedikit di antara kita yang secara samar-samar, menyadari bahwa segala amalan kita harus berdasarkan nash Al Qur’an dan Hadis. Di antara kita ada yang hanya berkutat dalam pemahaman lama tentang syariat Islam sebagaimana yang mereka dapatkan dari leluhur, guru tradisional, secara turun-temurun, tidak mau bergeming setapakpun, pokoknya yang jadi patokan adalah manusia itu, baik itu tokoh maupun orang biasa.
Sementara ada pula yang kritis, suka berpikir (tafakkur) ingin memperbaiki pemahamannya sesuai informasi mutakhir yang mereka peroleh, terutama tentang ibadah yang bersandarkan hadis-hadis yang shahih, mutawattir, paling tidak hasan. Tiada lain karena adanya ‘ancaman’ dari Rasulullah SAW bahwa pengamalan yang tiada dasar nash dari Al Qur’an dan Hadis yang shahih, maka amalan itu tertolak, bahkan pengamalnya diancam adzab neraka.
Hal ini penting untuk kita pahami, untuk menjaga kemurnian akidah dan syariat supaya tidak dicampuri rekayasa manusia. Allah SWT telah menjamin bahwa agama Islam telah sempurna sebagaimana firman-Nya: “Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [QS Al Maaidah (5): 3].
Kita masing-masing telah hidup dalam khazanah hidup yang berbeda-beda, tergantung di mana saat ini kita berada. Bahwa banyak di antara kita yang kemudian menyerahkan diri bulat-bulat kepada lingkungan masing-masing. Itu wajar-wajar saja. Corak berpikir kita – sadar atau tidak – akan terwarnai oleh kehidupan di mana kita ‘berkubang’ tersebut. Kehidupan manusia kebanyakan tidak seperti ‘ikan hidup’ di laut yang walaupun air di sekelilingnya asin, namun tubuhnya tidak ikut menjadi asin, sebab ikan mempunyai sistem yang menetralisir ‘racun’ tersebut. Sebaliknya kehi-dupan manusia kebanyakan seperti ‘ikan mati’, tergantung pada ‘koki’ yang memberi bumbu ketika memasak.
Dan tak dapat disangkal bahwa ‘koki’ sebagian besar ummat Islam saat ini telah ‘memasak’ dengan menu yang dianggap paling lezat, yaitu ‘masakan’ yang datangnya dari Barat. Betapa sebagian di antara kita adalah pemuja Barat yang fanatik, dan hakikatnya ‘kiblat’ mereka telah berubah mengarah ke ’Barat’ bukan ‘Ka’bah’. Kita memang tidak boleh mengharamkan segala sesuatu yang datangnya dari Barat, misalnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dari Barat, akan tetapi dalam beberapa hal hendaknya tidak menjiplak secara membabi buta, apalagi megembangkannya secara keliru.
Kita perlu menyadari, alangkah naifnya apabila seseorang yang sekian lama berkecimpung dalam kegiatan masjid misalnya, dan berkesempatan berdiskusi dan berdialog dari ‘tangan pertama’ tentang agama, tidak berusaha menimba ilmu dari mereka. Dia tidak mau menyelami kehidupan hari ini dan makna kehidupan di akhirat kelak. Misalnya datang ke masjid karena ingin dilihat dan mendapat pujian dari orang lain (riya).
Di sisi lain ada pula sebagian orang yang kesehariannya bergaul dengan kaum sekuler (yang berpendapat bahwa harus ada pemisahan antara pengamalan agama dengan kehidupan sehari-hari, agama hanya diberlakukan di lingkungan masjid). Di antara mereka adalah ahli maksiat, orang-orang yang akidahnya berseberangan dengan akidah Islam, yang memandang dosa sebagai hal yang lumrah dan ‘manusiawi’, waktunya diisi untuk memenuhi keinginan nafsu, mengisi waktu dengan menikmati kegiatan yang tiada nilai ibadah.
Kita harus waspada terhadap lingkungan seperti itu. Mendekati kaum yang kegiatannya demikian, hendaknya kita mengambil jarak, tanpa memusuhi. Begitulah kepada kita diajarkan agar kita mawas diri, dan waspada terhadap lingkungan. Jangan sampai kita terpengaruh, dan kehilangan arah dalam kegelapan.
Karena itu kita perlu mengenal diri sendiri, bahwasanya manusia terdiri dari badan kasar sebagai komponen jasmani yang terlihat, dan roh / jiwa sebagai komponen rohani yang tak terlihat, tetapi ada, yang menjadikan semuanya berfungsi. Berkenaan dengan jasmani, dengan kemampuan akalnya manusia bisa mempelajari, namun tentang roh, sesungguhnya ilmu manusia sangat sedikit dan dangkal, dibandingkan dengan ilmu Allah SWT, sebagaimana firman-Nya kepada Rasulullah SAW; “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, maka jawablah; “Roh itu urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi ilmu tentang roh kecuali sedikit saja”. [QS Al Israa’ (17): 85].
Tentang keberadaan dan perjalanan roh, Allah SWT berfirman; “Itulah Allah yang mengambil nyawa seseorang bila ajalnya tiba, dan yang belum tiba ajalnya sewaktu tidur dan Dia tahan nyawa orang yang ditetapkan kematiannya dan dilepas kembali nyawa yang lain sampai waktu tertentu, yang demikian merupakan ayat-ayat bagi orang-orang yang mau berpikir.” [QS Az Zumar (39):42]. Jadi Allah SWT telah memberi petunjuk kepada kita yang mau berpikir dan mau meneliti tentang dirinya sendiri, bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur, yaitu jasmani dan rohani.
Demikianlah pentingnya kita mengenal diri kita sendiri itu juga dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut ini; ”Apakah mereka tidak berpikir tentang diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya itu, kecuali dengan haq dan dalam waktu ditentukan. Sungguh kebanyakan manusia itu kufur terhadap pertemuan dengan Tuhan-nya.” [QS Ar Ruum (30): 8].
Maka Allah SWT telah memberi petunjuk kepada kita yang mau berpikir dan mau meneliti tentang dirinya sendiri, bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Mengenal diri sendiri itu juga berarti mensyukuri apa saja yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada kita agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan di akhirat tanpa melupakan mencari kebahagiaan dari kenikmatan duniawi di saat kita sekarang hidup. Dengan demikian kita bisa memadukan jasmani dan rohani itu secara harmonis, agar sepanjang hidup kita, keduanya dapat berinteraksi dan berfungsi dengan baik dalam menjalani kehidupan di dunia menuju kehidupan akhirat sesuai tuntunan Al Qur’an dan Hadis.
Dalam mengenal diri sendiri, kita juga perlu mengenal kekuatan dahsyat yang menguasai diri kita yaitu nafsu. Kekuatan itu harus kita kenali, agar kita bisa mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pengabdian kita kepada Allah SWT. Pada umumnya nafsu diartikan sebagai emosi yang menyuruh manusia untuk melakukan keburukan. Akan tetapi, dengan memanfaatkan kecerdasan emosionalnya, manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan membunuhnya. Nafsu sangat kita butuhkan, sebab dia merupakan salah satu faktor yang mendorong terlaksananya tugas kekhalifahan, yakni untuk membangun dunia sesuai kehendak dan tuntunan Ilahi.
Nafsu dari sisi dzatnya adalah satu, sedangkan dari sisi sifatnya ada tiga; 1) Jika nafsu memerintahkan keburukan dan maksiat, maka dinamakan amaratun bissuu', 2) jika memerintahkan kebaikan dan ketaatan, maka dinamakan muthmainnah, dan 3) Jika memerintahkan sesuatu lalu mencelanya, itu disebut lawwamah. Jika yang dicela itu perbuatan buruk, maka ia terpuji, dan jika yang dicela perbuatan baik, maka ia tercela.
Meskipun demikian, secara umum nafsu memerintahkan kepada keburukan dan kemaksiatan. Nafsu pada umumnya menyuruh melakukan apa-apa yang enak dan menyenangkan. Ini merupakan salah satu tipu dayanya. Andaikan kita memberi keleluasaan kepadanya, maka dia akan menyelipkan keburukan, dan tidak akan berhenti memerintahkan keburukan kepada kita. Namun dengan kecerdasan emosional, manusia mampu mengendalikan nafsunya ke arah positif, agar tidak terjerumus ke dalam kegiatan negatif.
Nafsu tidak akan mampu berubah dengan sendirinya tanpa perjuangan serta usaha yang sungguh-sungguh dari kita sendiri (manusia) dan pertolongan Allah SWT. Nafsu menghiasi kita dengan kemaksiatan seakan-akan baik dan indah, menganjurkan melakukan dan membiasakannya. Firman Allah SWT dalam [QS Yuusuf (12): 53] menyebutkan pengakuan Nabi Yuusuf AS sbb: ”Aku tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh nafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”
Faktor pendorong terbesar gejolak nafsu buruk adalah kebodohan (aj-jahl) dan kezhaliman (az-zhulm). Dari dua faktor ini muncul perilaku dan perkataan yang buruk. Tetapi, dengan per-tolongan Allah SWT nafsu dapat berubah. Yaitu dengan cara menggunakan ilmu yang bermanfaat dan beramal shaleh. Ilmu yang bermanfaat adalah segala yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Sedangkan amal shalih adalah amal yang memenuhi dua syarat yaitu ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti apa saja yang telah diajarkan Rasulullah SAW). Sedangkan yang tidak mencontoh Rasulullah SAW dinamakan bid'ah.
Adapun nafsu muthmainnah adalah nafsu yang telah ditundukkan oleh pemiliknya, sehingga sifat ammaratun bissuu' telah mati dan tunduk di jalan Allah. Maka jadilah nafsu itu penyuruh dan pembisik kebaikan. Orang yang imannya kuat, bisa mengelola nafsunya secara muthmainah. Iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan dan perbuatan anggota badan. Iman dapat bertambah (yazdadu) apabila kita taat kepada Allah SWT, dan berkurang (yanqushu) apabila kita melakukan keburukan, kemaksiatan, dan kemungkaran lainnya.
Dengan mengenal nafsu, kita akan lebih baik mengenal diri kita sendiri. Karena nafsu itu pada umumnya konotasinya negatif, maka kita harus mengendalikan hawa nafsu itu agar menjadi kekuatan yang positif. Bukan membiarkan nafsu tidak terkendali, sehingga kita mudah dipengaruhi oleh syeitan, yaitu golongan jin dan manusia yang sombong, fasik dan durhaka. Syeitan adalah mahluk yang telah dikutuk Allah dan akan memperoleh kehinaan kelak diakhirat sebagaimana firman-Nya; “Barangsiapa menjadikan syeitan itu temannya, maka syeitan adalah teman yang seburuk-buruknya. [QS An Nisaa’ (4):38]. Allah SWT telah memperingatkan manusia dengan jelas agar tidak berteman dengan syeitan yang bisa menjerumuskan manusia ke lembah kemaksiatan, kejahatan, dan syirik yang akan membawa manusia ke dalam neraka. [Hermanto]
Assalamu'alaikum Editor. Urutan tulisan utama di Al Mustaqiim sangat bagus. Kini adalah saat kita harus melakukan musahabah, bukan hanya pribadi kita masing-masing, tetapi juga sebagai bangsa yang mayoritas Islam, apalagi ummat Islam terbesar di dunia. Kita harus menyadari bahwa kita telah salah menerapkan demokrasi yang asalnya dari Barat. Di negeri asalnya sendiri demokrasi diterapkan dengan benar. Tetapi di negeri kita, sebagian besar para elite politik telah mengajarkan keburukan moral kepada rakyat. Frustasi akibat kalah dalam Pileg adalah perwujudan dari kegagalan mereka meraih kekuasaan dan kekayaan. Sungguh menjijikkan. Mereka adalah adalah teman-teman setan. Mereka sesunguhnya adalah orang-orang munafiq yang akan ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Wassalam. Zulfikar
BalasHapusCaleg di Indonesia hanya melihat enaknya kalau sudah terpilih. Kalau kalah, mengamuk, stress, gantung diri, karena kecewa gagal meraih penghasilan Rp. 46 juta per bulan. Itu semua pertanda mereka orang-orang tak beriman kepada Allah, karena agama mereka adalah uang dan kehormatan mereka adalah kekayaan. Di sisi lain, ada beberapa caleg dari kalangan selebriti terpilih hanya dengan modal hura-hura di acara hiburan di teve. Bangsa ini bukan hanya perlu melakukan muhasabah, lebih dari itu mesti “diformat ulang”, baik caleg maupun rakyatnya. Itu tugas Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama. Kalau tidak bisa, bubarkan saja kedua departemen itu.
BalasHapusSalam nyaman saudaraku...
BalasHapusSilahkan kunjungi kami di http://airsetitik.tk
Wassalam,
Airsetitik Team