Allah
Swt menciptakan miliaran jenis makhluk, dan menetapkan ukuran dan sifat setiap
makhluk-Nya dengan sempurna (QS Al-Furqaan 25: 2). Untuk matahari Dia
menentukan bentuk dan volumenya, zat-zat yang menyusunnya, energi yang
dipancarkannya setiap detik. Untuk planet-planet Dia tetapkan garis edarnya dan
kecepatan masing-masing dalam mengelilingi matahari melalui lintasannya itu.
Untuk
bumi Dia tetapkan porsi zat padat, zat cair, dan gas di dalamnya, suhu dan
gravitasinya. Untuk benda-benda yang ada di bumi Dia tetapkan titik leburnya,
titik didih dan titik bekunya. Untuk aneka jenis flora Dia tetapkan cara
memasukkan zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhannya, dan cara pembiakannya,
yang vegetatif dan yang generatif.
Demikian
pula Allah menetapkan aturan-aturan yang tetap dan pasti untuk manusia. Manusia
adalah makhluk khusus sebaik-baik ciptaan-Nya (QS At-Tiin 95: 4). Manusia
diciptakan Allah Swt sebagai mahluk berakal, sadar diri, berkehendak dan diberi
kebebasan untuk mewujudkan kehendaknya. Manusia adalah makhluk budaya yang
mampu mengembangkan cara dan sarana hidupnya.
Allah Pencipta manusia Maha Tahu bahwa seandainya makhluk
ini dibiarkan beraktivitas dengan mengandalkan naluri dan akalnya semata, dia
berpotensi untuk menghancurkan dirinya sendiri dan alam lingkungannya. Maka
selaku yang Maha Bijaksana, Allah menurunkan ketetapan-ketetapan khusus yang
serasi dengan penerimanya, yaitu yang ditawarkan untuk dipilih, dan disertai
argumen untuk dianalisis dan dipertimbangkan. Ketetapan tersebut dikemas dalam
bentuk wahyu; maka Allah menunjuk orang-orang tertentu dari tiap-tiap
masyarakat di tiap-tiap kurun waktu, untuk menjadi Nabi - penerima wahyu (naba)
kemudian menugasinya sebagai Rasul (utusan), untuk menyampaikan wahyu itu
kepada masyarakat lingkungannya (QS Yunus 10: 47) dan (QS An-Nahl 16: 63). Nabi
dan Rasul terakhir yang diturunkan Allah Swt adalah Muhammad Saw; beliau
dibekali Al-Qur’an, petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk-petunjuk
itu, dan pemisah antara yang benar dengan yang salah (QS Al-Baqarah 2: 185).
Al-Qur’an bukanlah sekedar shuhuf atau ketetapan
untuk menyelesaikan masalah tertentu, tetapi sebuah Kitab, yaitu
himpunan wahyu yang lengkap sebagai sebuah sistem. Al-Qur’an menyatakan
ten-tang dirinya sendiri sebagai acuan untuk menjelaskan segala sesutu, menjadi
petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (QS An-Nahl
16: 89). Subsistem pokok yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah Aqidah
(dasar-dasar keyakinan) Syari’ah (ketetapan hukum, dan Akhlaq (pedoman
berperilaku). Semua itu dikemukakan langsung oleh Allah Swt, satu-satunya yang
mempunyai pengetahuan sempurna tentang manusia, baik individunya maupun
masyarakatnya.
Oleh karena itu hendaknya orang tidak ragu-ragu
melaksanakan semua ketetapan Allah Swt di dalam Al-Qur’an (QS Al-Baqarah 2:
147), tidak memilah kemudian memilih dan hanya menunaikan ketetapan yang
disenanginya; dengan mengambil sebagian saja dari Al-Qur’an dan mencampakkan
sebagian yang lain. Yang berbuat demikian adalah orang-orang yang mengikuti
perbuatan syeitan (QS Al-Baqarah 2: 208).
Al-Qur’an adalah wahana komunikasi Allah kepada manusia. Karena itu
supaya in tune dengan penerimanya, maka Kitab ini bukan hanya
meng-gunakan perkataan dan kalimat yang biasa digunakan manusia di dalam berbahasa,
tetapi juga mengikuti kebiasaan-kebiasaan manusia ketika berkomunikasi.
Di
dalam menyampaikan informasi, biasanya Kitab Allah ini menggunakan pendekatan
lugas sehingga cepat dan mudah dipahami. Marilah kita perhatikan ayat-ayat
berikut: ▪ “Katakanlah: ‘Dialah Allah yang Maha Esa.” (QS Al-Ikhlas
112: 1), ▪ “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil
Al-Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian; dan Kami berikan kepada mereka
rezeki-rezeki yang baik, dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada
masanya).” (QS Al-Jaatsiyah 45: 16). Tetapi tidak jarang Allah Swt
menggunakan matsal - metaphora atau perumpamaan. Pendekatan ini
digunakan terutama ketika membicarakan masalah yang abstrak atau rumit agar
supaya mudah dipahami. Misalnya dalam (QS An-Nuur 24: 35) Allah berfirman: “Allah
(Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah
seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.
Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya)
seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak
berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu)
dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir
menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allah mem-bimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah
memperbuat perum-pamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.”
Al-Qur’an menyatakan keyakinan yang tidak berlandaskan tauhid
adalah keyakinan yang rapuh, tetapi orang yang meyakininya tidak menyadari hal
tersebut. Menggambarkan
keadaan demikian itu tidak mudah, terutama terhadap orang awam. Maka Al-Qur’an
meng-umpakannya seperti sarang laba-laba, yang segera hancur bila ditiup angin
yang agak besar, atau tertimpa sesuatu yang agak berat (QS Al-‘Ankabuut 29:
41).
Dalam
Al-Qur’an disebutkan, membaca Kitab Allah tetapi tidak mengamalkannya, adalah
perbuatan sia-sia, bahkan menjadi beban belaka. Hal itu digambarkan seperti
seekor keledai yang memikul banyak kitab di punggungnya (QS Al-Jumu’ah 62: 5).
Penggunaan metafora mewujudkan komunikasi yang efektif, tetapi orang-orang
bodoh tidak memahami tujuan tersebut; mereka bahkan mengolok-oloknya (QS
Al-‘Ankabut 29: 43).
Pendekatan
lain yang digunakan Al-Qur’an untuk memudahkan orang mengerti adalah dengan
menceritakan kisah-kisah masa lalu, terutama mengenai sikap dan perbuatan para
Rasul. Pemaparan kisah-kisah tersebut bukan sekedar menerangkan sebuah
kejadian. Kitab ini dengan jelas mengemukakan empat tujuan (QS Huud 11: 120).
Pertama, untuk meneguhkan
kepercayaan ummat, bahwa Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah Swt, karena meskipun
penyampainya - Nabi Muhammad Saw - seorang yang tuna aksara dan tidak pernah
bergaul dengan sejarawan, tetapi Kitab yang dibacakannya memaparkan dengan
rinci riwayat para Nabi; Adam. Nuh, Ibrahim, Musa, Dawud, sampai dengan
Maryam dan ‘Isa As.
Kedua, untuk meluruskan kekeliruan dan pemalsuan
sejarah. Kenyataan menunjukkan bahwa telah terjadi penyimpangan sejarah, baik
disengaja maupun tidak. Ketika Nabi Musa As meninggalkan ummat beliau selama 40
malam untuk menerima Kitab Taurat, Bani Israil menyembah patung anak sapi.
Yahudi pada masa Rasulullah Saw menduga yang menjadi provokatornya adalah Nabi
Harun. Padahal penganjur perilaku syirik itu adalah Samiri, penduduk asli Mesir
yang karena sesuatu hal turut serta dalam rombongan besar Bani Israil (QS Thaahaa
20: 85-97). Banyak orang yang memahami bahwa Nabi ‘Isa As menyatakan dirinya
sebagai Tuhan. Maka Al-Qur’an mengutip pernya-taan beliau: “Sesungguhnya
Allah-lah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang
benar”. (QS Ali ‘Imraan 3: 51).
Ketiga, menjadikan
kisah-kisah yang diriwayatkannya sebagai pengajaran bagi para pembaca
Al-Qur’an. Sejarah
manusia mempunyai pola yang berulang, karena itu generasi yang kemudian
seharusnya mengikuti pola yang benar dan meninggalkan pola yang salah. Kaum
Nabi Nuh As adalah orang-orang yang cerdas, kreatif dan pekerja keras. Karena
itu mereka mampu mengembangkan budayanya, jauh lebih tinggi dan maju dibanding
bangsa-bangsa lain pada masanya. Tetapi mereka kemudian menjadi sombong dan
menutup pintu hatinya dari suara kebenaran yang belum mereka kenal, yaitu yang
disampaikan oleh Rasul Allah. Mereka bukan hanya menolak tetapi juga mengejek,
men-cerca dan menghalangi dakwah Nabi Nuh.
Akhirnya
bangsa yang pernah sangat berjaya itu punah ditelan banjir besar yang melanda
seluruh negeri. Mestinya generasi sesudah Nuh belajar dari sejarah sehingga
tidak mengulang kesalahannya. Tetapi kaum ‘Ad, ummat Nabi Hud As tidak berbuat
demikian. Mereka justru melakukan kesalahan generasi pendahulunya itu; maka
merekapun merasakan azab serupa. Demikian pula kaum Tsamud, ummat Nabi Shaleh
As Karena itu ummat Muhammad Saw harus berusaha keras untuk membina diri
menjadi orang yang beriman, tawaddhu’’ - rendah
hati, dan qana’ah - merasa puas dengan segala karunia Allah.
Keempat, menyampaikan
peringatan kepada ummat penerima Al-Qur’an agar menjauhi dan menangkis godaan
syeitan, yang selalu membujuk dan merayu untuk melakukan kesalahan dan
kedurhakaan. Kitab Allah yang terakhir ini menampilkan tokoh-tokoh pelaku
keburukan, seperti Azar ayah Ibrahim As yang mengusir anak kesayangannya sendiri
karena menyampaikan kebenaran kepadanya. Begitu pula Fir’aun penguasa Mesir
yang sangat sombong dan kejam sehingga dengan menganggap dirinya sebagai Tuhan
yang maha tinggi dia bermaksud hendak menghabisi seluruh Bani Israil. Demikian
pula Abu Lahab yang menentang keras dakwah kemenakannya, Muhammad Saw. Sejarah
orang-orang tersebut dipaparkan dalam Al-Qur’an sebagai peringatan agar
orang-orang yang telah membacanya tidak merasakan azab Allah seperti yang telah
dan akan ditimpakan Allah kepada mereka.
Demikian
beberapa pendekatan Al-Qur’an dalam menyampaikan berbagai informasi yang
diperlukan manusia. Tetapi tidak semua masa-lah diterangkan oleh Kitab Allah
ini. Banyak hal yang diserahkan kepada manusia sendiri untuk memperolehnya.
Akal yang merupakan salah satu anugerah besar dari Allah Swt ini tidak hanya
menghasilkan berbagai pengetahuan, tetapi juga sistem berpikir untuk menata
pengetahuan-pengetahuan tersebut sehingga menjadi ilmu. Pada saat yang sama
akal juga mampu menemukan dan mengembangkan teknologi, yaitu peman-faatan ilmu
untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Al-Qur’an tidak membicarakan isi
ilmu maupun teknologi, karena hal itu masuk ke ranah akal. Akan tetapi
Al-Qur’an mendorong manusia untuk mengusahakan ilmu dan teknologi setinggi-tingginya
sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt. Dalam beberapa hal, Kitab Allah
ini juga memberikan isyarat-isyarat yang mengarahkan akal untuk menyelidiknya
secara intensif. Ada pula hal-hal yang orang ingin mengetahuinya sedangkan akal
tidak dapat memperolehnya sendiri, meskipun demikian Al-Qur’an juga tidak
menerangkannya.
Ada
beberapa informasi yang Allah Swt tidak berkenan membagi pengetahuan-Nya dengan
manusia, misalnya tentang Ruh dan tentang saat
terjadinya Kiamat. Tentang ruh Al-Qur’an menegaskan sbb: “Dan mereka
bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku,
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan mengenai ruh kecuali sedikit saja."
(QS Al-Israa’ 17: 85). Sedangkan mengenai Kiamat, Al-Qur’an menegaskan sbb:
“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?"
Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku;
tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.” (QS
Al-A’raaf 7: 187). Penegasan tersebut di atas membawa kita kepada
kesimpulan bahwa Al-Qur’an benar-benar petunjuk Allah Swt untuk manusia.
Maka
supaya petunjuk Allah tersebut bermanfaat, orang yang mengimani Al-Qur’an harus
melakukan empat hal. 1) Membaca Kitab Allah ini dengan bacaan yang sebaik-baiknya.
Al-Qur’an adalah himpunan firman Allah, maka membacanya berarti memasukkan
firman Allah ke dalam hati. Para ulama sepakat bahwa membaca Al-Qur’an walaupun
tidak mengetahui maknanya, merupakan ibadah kepada Allah. 2) Mempelajari
maknanya agar dapat memahami keterangan, petunjuk, dan hukum-hukum Allah. 3)
Melaksanakan setiap ayat Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya. 4) Menyampaikan
pengetahuan mengenai Al-Qur’an kepada orang-orang lain, terutama kepada anggota
keluarga sendiri. Itulah empat langkah yang benar dalam menghormati Al-Qur’an,
firman Allah Swt yang merupakan petunjuk bagi akal dan hati manusia.
Sakib Machmud
No. 2-004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar