Minggu, 15 Februari 2015

AL-QUR’AN, PETUNJUK ALLAH UNTUK MANUSIA

Allah Swt menciptakan miliaran jenis makhluk, dan menetapkan ukuran dan sifat setiap makhluk-Nya dengan sempurna (QS Al-Furqaan 25: 2). Untuk matahari Dia menentukan bentuk dan volumenya, zat-zat yang menyusunnya, energi yang dipancarkannya setiap detik. Untuk planet-planet Dia tetapkan garis edarnya dan kecepatan masing-masing dalam mengelilingi matahari melalui lintasannya itu.

Untuk bumi Dia tetapkan porsi zat padat, zat cair, dan gas di dalamnya, suhu dan gravitasinya. Untuk benda-benda yang ada di bumi Dia tetapkan titik leburnya, titik didih dan titik bekunya. Untuk aneka jenis flora Dia tetapkan cara memasukkan zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhannya, dan cara pembiakannya, yang vegetatif dan yang generatif.

Demikian pula Allah menetapkan aturan-aturan yang tetap dan pasti untuk manusia. Manusia adalah makhluk khusus sebaik-baik ciptaan-Nya (QS At-Tiin 95: 4). Manusia diciptakan Allah Swt sebagai mahluk berakal, sadar diri, berkehendak dan diberi kebebasan untuk mewujudkan kehendaknya. Manusia adalah makhluk budaya yang mampu mengembangkan cara dan sarana hidupnya.

Allah Pencipta manusia Maha Tahu bahwa seandainya makhluk ini dibiarkan beraktivitas dengan mengandalkan naluri dan akalnya semata, dia berpotensi untuk menghancurkan dirinya sendiri dan alam lingkungannya. Maka selaku yang Maha Bijaksana, Allah menurunkan ketetapan-ketetapan khusus yang serasi dengan penerimanya, yaitu yang ditawarkan untuk dipilih, dan disertai argumen untuk dianalisis dan dipertimbangkan. Ketetapan tersebut dikemas dalam bentuk wahyu; maka Allah menunjuk orang-orang tertentu dari tiap-tiap masyarakat di tiap-tiap kurun waktu, untuk menjadi Nabi - penerima wahyu (naba) kemudian menugasinya sebagai Rasul (utusan), untuk menyampaikan wahyu itu kepada masyarakat lingkungannya (QS Yunus 10: 47) dan (QS An-Nahl 16: 63). Nabi dan Rasul terakhir yang diturunkan Allah Swt adalah Muhammad Saw; beliau dibekali Al-Qur’an, petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk-petunjuk itu, dan pemisah antara yang benar dengan yang salah (QS Al-Baqarah 2: 185).

Al-Qur’an bukanlah sekedar shuhuf atau ketetapan untuk menyelesaikan masalah tertentu, tetapi sebuah Kitab, yaitu himpunan wahyu yang lengkap sebagai sebuah sistem. Al-Qur’an menyatakan ten-tang dirinya sendiri sebagai acuan untuk menjelaskan segala sesutu, menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (QS An-Nahl 16: 89). Subsistem pokok yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah Aqidah (dasar-dasar keyakinan) Syari’ah (ketetapan hukum, dan Akhlaq (pedoman berperilaku). Semua itu dikemukakan langsung oleh Allah Swt, satu-satunya yang mempunyai pengetahuan sempurna tentang manusia, baik individunya maupun masyarakatnya.

Oleh karena itu hendaknya orang tidak ragu-ragu melaksanakan semua ketetapan Allah Swt di dalam Al-Qur’an (QS Al-Baqarah 2: 147), tidak memilah kemudian memilih dan hanya menunaikan ketetapan yang disenanginya; dengan mengambil sebagian saja dari Al-Qur’an dan mencampakkan sebagian yang lain. Yang berbuat demikian adalah orang-orang yang mengikuti perbuatan syeitan (QS Al-Baqarah 2: 208).  Al-Qur’an adalah wahana komunikasi Allah kepada manusia. Karena itu supaya in tune dengan penerimanya, maka Kitab ini bukan hanya meng-gunakan perkataan dan kalimat yang biasa digunakan manusia di dalam berbahasa, tetapi juga mengikuti kebiasaan-kebiasaan manusia ketika berkomunikasi.

Di dalam menyampaikan informasi, biasanya Kitab Allah ini menggunakan pendekatan lugas sehingga cepat dan mudah dipahami. Marilah kita perhatikan ayat-ayat berikut: “Katakanlah: ‘Dialah Allah yang Maha Esa.” (QS Al-Ikhlas 112: 1), “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian; dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik, dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya).” (QS Al-Jaatsiyah 45: 16). Tetapi tidak jarang Allah Swt menggunakan matsal - metaphora atau perumpamaan. Pendekatan ini digunakan terutama ketika membicarakan masalah yang abstrak atau rumit agar supaya mudah dipahami. Misalnya dalam (QS An-Nuur 24: 35) Allah berfirman: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah mem-bimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perum-pamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Al-Qur’an menyatakan keyakinan yang tidak berlandaskan tauhid adalah keyakinan yang rapuh, tetapi orang yang meyakininya tidak menyadari hal tersebut. Menggambarkan keadaan demikian itu tidak mudah, terutama terhadap orang awam. Maka Al-Qur’an meng-umpakannya seperti sarang laba-laba, yang segera hancur bila ditiup angin yang agak besar, atau tertimpa sesuatu yang agak berat (QS Al-‘Ankabuut 29: 41).

Dalam Al-Qur’an disebutkan, membaca Kitab Allah tetapi tidak mengamalkannya, adalah perbuatan sia-sia, bahkan menjadi beban belaka. Hal itu digambarkan seperti seekor keledai yang memikul banyak kitab di punggungnya (QS Al-Jumu’ah 62: 5). Penggunaan metafora mewujudkan komunikasi yang efektif, tetapi orang-orang bodoh tidak memahami tujuan tersebut; mereka bahkan mengolok-oloknya (QS Al-‘Ankabut 29: 43).

Pendekatan lain yang digunakan Al-Qur’an untuk memudahkan orang mengerti adalah dengan menceritakan kisah-kisah masa lalu, terutama mengenai sikap dan perbuatan para Rasul. Pemaparan kisah-kisah tersebut bukan sekedar menerangkan sebuah kejadian. Kitab ini dengan jelas mengemukakan empat tujuan (QS Huud 11: 120).

Pertama, untuk meneguhkan kepercayaan ummat, bahwa Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah Swt, karena meskipun penyampainya - Nabi Muhammad Saw - seorang yang tuna aksara dan tidak pernah bergaul dengan sejarawan, tetapi Kitab yang dibacakannya memaparkan dengan rinci riwayat para Nabi; Adam. Nuh, Ibrahim, Musa, Dawud, sampai dengan Maryam dan ‘Isa As.

Kedua, untuk meluruskan kekeliruan dan pemalsuan sejarah. Kenyataan menunjukkan bahwa telah terjadi penyimpangan sejarah, baik disengaja maupun tidak. Ketika Nabi Musa As meninggalkan ummat beliau selama 40 malam untuk menerima Kitab Taurat, Bani Israil menyembah patung anak sapi. Yahudi pada masa Rasulullah Saw menduga yang menjadi provokatornya adalah Nabi Harun. Padahal penganjur perilaku syirik itu adalah Samiri, penduduk asli Mesir yang karena sesuatu hal turut serta dalam rombongan besar Bani Israil (QS Thaahaa 20: 85-97). Banyak orang yang memahami bahwa Nabi ‘Isa As menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Maka Al-Qur’an mengutip pernya-taan beliau: “Sesungguhnya Allah-lah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang benar”. (QS Ali ‘Imraan 3: 51).

Ketiga, menjadikan kisah-kisah yang diriwayatkannya sebagai pengajaran bagi para pembaca Al-Qur’an. Sejarah manusia mempunyai pola yang berulang, karena itu generasi yang kemudian seharusnya mengikuti pola yang benar dan meninggalkan pola yang salah. Kaum Nabi Nuh As adalah orang-orang yang cerdas, kreatif dan pekerja keras. Karena itu mereka mampu mengembangkan budayanya, jauh lebih tinggi dan maju dibanding bangsa-bangsa lain pada masanya. Tetapi mereka kemudian menjadi sombong dan menutup pintu hatinya dari suara kebenaran yang belum mereka kenal, yaitu yang disampaikan oleh Rasul Allah. Mereka bukan hanya menolak tetapi juga mengejek, men-cerca dan menghalangi dakwah Nabi Nuh.

Akhirnya bangsa yang pernah sangat berjaya itu punah ditelan banjir besar yang melanda seluruh negeri. Mestinya generasi sesudah Nuh belajar dari sejarah sehingga tidak mengulang kesalahannya. Tetapi kaum ‘Ad, ummat Nabi Hud As tidak berbuat demikian. Mereka justru melakukan kesalahan generasi pendahulunya itu; maka merekapun merasakan azab serupa. Demikian pula kaum Tsamud, ummat Nabi Shaleh As Karena itu ummat Muhammad Saw harus berusaha keras untuk membina diri menjadi orang yang beriman, tawaddhu’’ - rendah hati, dan qana’ah - merasa puas dengan segala karunia Allah.

Keempat, menyampaikan peringatan kepada ummat penerima Al-Qur’an agar menjauhi dan menangkis godaan syeitan, yang selalu membujuk dan merayu untuk melakukan kesalahan dan kedurhakaan. Kitab Allah yang terakhir ini menampilkan tokoh-tokoh pelaku keburukan, seperti Azar ayah Ibrahim As yang mengusir anak kesayangannya sendiri karena menyampaikan kebenaran kepadanya. Begitu pula Fir’aun penguasa Mesir yang sangat sombong dan kejam sehingga dengan menganggap dirinya sebagai Tuhan yang maha tinggi dia bermaksud hendak menghabisi seluruh Bani Israil. Demikian pula Abu Lahab yang menentang keras dakwah kemenakannya, Muhammad Saw. Sejarah orang-orang tersebut dipaparkan dalam Al-Qur’an sebagai peringatan agar orang-orang yang telah membacanya tidak merasakan azab Allah seperti yang telah dan akan ditimpakan Allah kepada mereka.

Demikian beberapa pendekatan Al-Qur’an dalam menyampaikan berbagai informasi yang diperlukan manusia. Tetapi tidak semua masa-lah diterangkan oleh Kitab Allah ini. Banyak hal yang diserahkan kepada manusia sendiri untuk memperolehnya. Akal yang merupakan salah satu anugerah besar dari Allah Swt ini tidak hanya menghasilkan berbagai pengetahuan, tetapi juga sistem berpikir untuk menata pengetahuan-pengetahuan tersebut sehingga menjadi ilmu. Pada saat yang sama akal juga mampu menemukan dan mengembangkan teknologi, yaitu peman-faatan ilmu untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Al-Qur’an tidak membicarakan isi ilmu maupun teknologi, karena hal itu masuk ke ranah akal. Akan tetapi Al-Qur’an mendorong manusia untuk mengusahakan ilmu dan teknologi setinggi-tingginya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt. Dalam beberapa hal, Kitab Allah ini juga memberikan isyarat-isyarat yang mengarahkan akal untuk menyelidiknya secara intensif. Ada pula hal-hal yang orang ingin mengetahuinya sedangkan akal tidak dapat memperolehnya sendiri, meskipun demikian Al-Qur’an juga tidak menerangkannya.

Ada beberapa informasi yang Allah Swt tidak berkenan membagi pengetahuan-Nya dengan manusia, misalnya tentang Ruh dan tentang saat terjadinya Kiamat. Tentang ruh Al-Qur’an menegaskan sbb: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan mengenai ruh kecuali sedikit saja." (QS Al-Israa’ 17: 85). Sedangkan mengenai Kiamat, Al-Qur’an menegaskan sbb: “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.” (QS Al-A’raaf 7: 187). Penegasan tersebut di atas membawa kita kepada kesimpulan bahwa Al-Qur’an benar-benar petunjuk Allah Swt untuk manusia.

Maka supaya petunjuk Allah tersebut bermanfaat, orang yang mengimani Al-Qur’an harus melakukan empat hal. 1) Membaca Kitab Allah ini dengan bacaan yang sebaik-baiknya. Al-Qur’an adalah himpunan firman Allah, maka membacanya berarti memasukkan firman Allah ke dalam hati. Para ulama sepakat bahwa membaca Al-Qur’an walaupun tidak mengetahui maknanya, merupakan ibadah kepada Allah. 2) Mempelajari maknanya agar dapat memahami keterangan, petunjuk, dan hukum-hukum Allah. 3) Melaksanakan setiap ayat Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya. 4) Menyampaikan pengetahuan mengenai Al-Qur’an kepada orang-orang lain, terutama kepada anggota keluarga sendiri. Itulah empat langkah yang benar dalam menghormati Al-Qur’an, firman Allah Swt yang merupakan petunjuk bagi akal dan hati manusia.

Sakib Machmud
No. 2-004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar