Allah Swt berfirman di dalam QS Al-Ma’arij
70: 19-23:
إِنَّ
الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً ﴿١٩﴾ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً ﴿٢٠﴾ وَإِذَا
مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً ﴿٢١﴾ إِلَّا الْمُصَلِّينَ ﴿٢٢﴾ الَّذِينَ هُمْ عَلَى
صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ ﴿٢٣﴾
“Sesungguhnya manusia dicipta bersifat resah. Apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan dia sombong dan kikir, Kecuali orang-orang yang shalat, Yang mereka itu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan shalatnya, (QS Al-Ma’arij 70: 19-23).
“Sesungguhnya manusia dicipta bersifat resah. Apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan dia sombong dan kikir, Kecuali orang-orang yang shalat, Yang mereka itu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan shalatnya, (QS Al-Ma’arij 70: 19-23).
Akhir-akhir ini, setiap kali kita menonton
televisi atau membaca surat kabar, kita sangat sering menyaksikan berita-berita
tentang kekerasan yang berlangsung di mana-mana; Di pasar sesama pedagang
bertengkar dan bergelut, di jalan orang yang mencopet dihajar massa sampai tubuhnya
hancur, di dalam rumah tangga suami melakukan kekerasan kepada isterinya atau
sebaliknya. Aksi demo yang niatnya mulia yaitu mengingatkan orang yang berkuasa
akan tugas dan kewajiban yang dipikulnya, sering sekali disertai dengan
tindakan anarki. Bahkan kekerasan terjadi pula di tempat berhormat dengan
pelaku orang-orang yang berhormat pula. Kita patut bertanya-tanya mengapa
hal-hal demikian itu terjadi dan semakin sering terjadi? Jawaban sederhananya
ialah: Banyak dan semakin banyak orang yang resah, sedangkan keresahan itu
mengganggu ketenteraman jiwa sehingga orang ingin melampiaskannya dengan
berbagai cara, di antaranya melakukan kekerasan-kekerasan. Orang yang introvert
mengomel sendirian, yang lebih ekstrovert melampiaskannya dengan makian kepada
orang lain, bertengkar, dan berbuat hal-hal yang jauh dari kesantunan
dan kewajaran
Al-Qur’an memang menerangkan bahwa manusia itu berpotensi resah. QS Al-Ma’arij 70: 19-21 yang tertera di atas menyatakan: إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا – Sesungguhnya manusia itu dijadikan bersifat resah.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا – Tatkala menghadapi kesulitan dia gelisah, menggerutu, putus asa. وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا – dan ketika memperoleh kebaikan dia menjadi sombong dan kikir.
Manusia berpotensi mengidap keresahan.
Tetapi keresahan itu dapat muncul ke permukaan dan dapat pula terbenam di dasar
hati. Yang terjadi sekarang ini, keresahan bukan hanya muncul tetapi berkembang
menjadi gejala sosial yang dahsyat. Mengapa demikian? Karena ada sejumlah
pemicu dan pemacunya.
Pemicu pertama adalah kebutuhan hidup
manusia menjadi semakin banyak dan beragam. Orang tidak hanya mau makanan yang
mengenyangkan, tetapi juga perlu yang bergizi, yang lezat, yang diatur dengan
baik, bahkan yang pantas dipamerkan kepada orang lain. Orang tidak hanya perlu
pakaian penutup tubuh tetapi juga yang beragam, yang sesuai selera, yang
mengikuti trend mode, yang banyak, dan sebagainya. Belum lagi kebutuhan tempat
tinggal, sarana pendidikan, kesehatan, transportasi, hiburan, dan sebagainya.
Pemicu kedua adalah komunikasi dan
informasi yang semakin canggih, sehingga orang-orang di Sukabumi selatan
mengetahui apa yang dilakukan dan dipunyai orang di Bandung, di Jakarta, bahkan
di Singapore dan California. Informasi tersebut menjadikan orang ingin meniru
perbuatan orang-orang lain yang dianggap modern, ingin mempunyai apa yang
dimiliki oleh orang-orang yang dipandang maju. Keinginan-keinginan seperti itu
tidak selamanya dapat dipenuhi, maka muncullah stress di dalam hati,
yang tidak lain dari keresahan yang tak terlampiaskan. Sebagian orang berusaha
terus dan berusaha keras untuk mendapatkan apa yang didambakannya. Dalam proses mewujudkan apa yang diingini
itu berkembang pula permasalahan di dalam jiwa, yang apabila tidak diobati
dengan benar akan menyebabkan sakit di berbagai dimensi. Dalam situasi seperti
ini, mustahil orang menerapkan kriteria Al-Ghazali yang beliau kemukakan pada
zamannya, yaitu akhir abad sebelas Masehi, bahwa pakaian yang ma’ruf
atau pantas bagi orang beriman itu adalah dua pasang; satu dipakai dan satu
lagi dicuci. Yang berkembang adalah sikap Bani Israil
ketika dalam perjalanan hijrah dari Mesir ke Palestina. Meskipun mereka sudah
memperoleh air yang mencukupi, dan dua macam makanan yang memadai yaitu Manna
dan Salwa, mereka berkata tanpa malu-malu kepada pemimpin mereka, Musa
As: يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ
فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الأرْضُ مِنْ بَقْلِهَا
وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا -
"Hai Musa, kami tidak bisa tahan dengan satu macam makanan saja. Sebab
itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari
apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang
adas dan bawang merahnya". (QS Al-Baqarah 2: 61). Di tengah padang
pasir terik, Bani Israil meminta makanan yang beragam dan pasti sulit di dapat
di tempat itu. Sama saja bahwa dalam situasi yang tidak bagus sekarang ini
orang mengharapkan kesejahteraan pada tingkatan yang tinggi untuk dirinya
sendiri. Mereka tidak akan dapat memperoleh harapannya itu dengan cara yang
wajar. Maka orang yang mempunyai kewenangan melakukan korupsi, yang memiliki
kekuatan fisik merampok, yang tidak mempunyai apa-apa melampiaskan kekesalan
dengan berbuat anarki secara bersama-sama.
Pemicu ketiga dan yang paling penting
adalah ulah syeitan yang tidak henti-hentinya membujuk, merayu, dan menggoda
manusia, untuk menyesatkan mereka dari jalan Allah yang lurus ke jalan yang
bengkok, dari kebenaran kepada kesesatan, dari hal-hal yang diridhai Allah
kepada yang dibenci Allah. Kita tidak dapat memprotes syaithon, karena hal itu
memang menjadi profesinya. Pemimpin besar mereka iblis telah berikrar di
hadapan Allah Swt: فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ
لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ - Karena Engkau
telah mengutuk aku sebagai makhluk sesat ya Allah, gara-gara tidak mau
memberikan penghormatan kepada Adam, maka akan aku lampiaskan dendam kesumatku
kepada Adam dengan menggoda dia beserta anak keturunannya sehingga ke luar dari
jalan-Mu yang lurus. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ
بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ
وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
- Kemudian aku dan seluruh anak buahku akan mendatangi mereka dari kanan dan
dari kiri, dari depan maupun dari belakang, dan Engkau tidak akan menjumpai
banyak di antara mereka yang bersyukur. Kebanyakan dari mereka akan mengikuti
aku dan melakukan apa saja yang aku perintahkan kepadanya. (QS Al-A'raaf 7:
17).
Keresahan merupakan penyakit batin yang
menular. Para ilmuwan menerangkan bahwa kalau orang berkumpul dia membentuk
massa, maka perlakunya menjadi perilaku massa; apa yang dilakukan seseorang
diikuti oleh yang lain. Seseorang melempar maka yang lainpun melempar pula.
Seseorang membakar maka yang lain membakar pula.
Pada zaman sekarang ini, kumpulan orang
yang saling memengaruhi dengan cepat itu bukan hanya yang berkumpul secara
fisik di suatu tempat. Peralatan komunikasi telah menjadikan orang yang tersebar
di mana-mana menjadi massa dan berperilaku saling mempengaruhi dengan cepat.
Maka terjadilah apa yang kita bicarakan tadi yaitu: hilangnya kesantunan, dan
terjadinya kekerasan, baik dalam bentuk kata-kata maupun perbuatan.
Oleh karena itu kita harus berusaha dengan
sungguh-sungguh untuk menepis keresahan dan menghadirkan ketenteraman dalam
hati setiap kita. Ketenteraman itulah yang akan mengantarkan kebahagiaan; tidak
akan seseorang bahagia, betapapun banyak kekayaannya, betapapun tinggi
kedudukan sosialnya, betapapun besar kekuasaannya, bila hatinya dirundung
keresahan dan kegelisahan, sehingga tidak mampu menikmati apa yang sesungguhnya
ada pada dirinya. Yang dia rasakan hanya yang tidak ada belaka.
Al-Qur’an menyatakan bahwa ketenteraman akan diperoleh seseorang, yang
beriman kepada Allah dan senantiasa dzikrullah - mengingat Allah. QS Ar-Ra'd 13: 28 menerangkan, orang-orang yang yang akan hidup senang dan
sejahtera adalah: الَّذِينَ آمَنُوا
وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ - mereka yang beriman
dan hatinya menjadi tenteram dengan mengingat Allah. أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ - Camkanlah, bahwa dengan mengingat
Allah hati menjadi tenteram.
Yang dimaksud dengan mengingat Allah bukan hanya tahu bahwa Allah itu ada,
tetapi sadar bahwa Allah itu Mahakuasa, Mahaagung dan Mahabaik. Maka ketika dia
menghadapi bahaya, sebesar apapun bahaya itu, dia yakin kepada perlindungan
Allah; apabila Allah menghendaki dia pasti selamat. Ketika dia menghadapi
kesulitan, sepelik apapun kesulitan itu, dengan petunjuk Allah dia pasti dapat
memecahkannya. Al-Qur'an menggambarkan orang-orang yang bersikap demikian itu, أَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ - tidak ada kekuatiran atas
mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati. (QS Ali 'Imran 3: 170).
Sebaliknya ketika orang itu memperoleh kenikmatan, dia tidak menganggap
kenikmatan tersebut sebagai hasil usahanya sendiri, tetapi karunia Allah Swt.
Maka dia senantiasa bersikap tawaddhu' - rendah hati dan tidak
sedikitpun qalbunya bergerak ke arah kesombongan.
Banyak cara mengingat Allah. Salah satu yang paling efektif, yang juga
berarti memiliki potensi terbaik untuk menghadirkan ketenteraman hati adalah
shalat. Keterangan dalam surah Al-Ma'arij 70 tentang sifat resah yang ada pada
manusia itu belum selesai. QS Al-Ma'arij 70: 22-23 tersebut meneruskannya sebagai
berikut: إِلا الْمُصَلِّينَ –
Kecuali orang-orang yang shalat. الَّذِينَ هُمْ
عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ - yang mereka
itu tetap mengerjakan shalatnya dengan penuh pengertian dan penghayatan.
Maka untuk kebaikan manusia sendiri Allah memerintahkan hamba-Nya ini
menunaikan shalat, sekurang-kurangnya lima kali sehari. Dengan shalat orang
beriman menyatakan pengakuan akan keagungan Allah yang tidak berbatas. Maka dia
mengawali shalatnya dengan takbiratul ikhram; Allahu Akbar - Allah
Mahabesar. Ucapan itu diulang-ulang hampir dalam setiap gerak yang mengubah
posisi tubuhnya dalam menghadap Allah. Seandainya orang hanya menunaikan shalat
wajib saja, dalam sehari semalam dia bertakbir 85 kali. Bila dia juga
menunaikan shalat sunnat rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib, dan
menunaikan pula shalat dhuha, shalat malam, syukrul wudhu’, maka jumlah takbir
yang diucapkannya menjadi berkali lipat. Kalau setiap selesai shalat orang
membaca wirid yang antara lain kalimat Allahu Akbar, maka takbirnya jauh lebih
banyak lagi. Maka dengan takbir saja orang mukmin menundukkan diri
sedalam-dalamnya kepada Allah, Tuhan yang mencipta dan menyediakan segala
kebutuhan hidupnya, lahir maupun batin. Ketundukan diri itu dinyatakan pula
dengan posisi tubuh ketika ruku' dan sujud. Bagian badan yang
paling atas, tempat otak berada dan bekerja mengordinasi segala fungsi tubuh,
diletakkan jauh ke bawah sambil bertasbih, mengungkapkan pengakuan akan
ke-Mahasucian Allah yang bebas dari kekurangan dan kelemahan.
Di dalam shalat orang beriman berulang kali mengajukan berbagai macam do'a
atau permohonan kepada Allah. Do'a yang sangat penting adalah memohon ampun
atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Pada saat itu dia menyadari betapa banyak
melakukan kesalahan, karena tidak mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan
karena melakukan apa yang Dia larang. Dosa demi dosa selalu ditumpuknya dari
waktu ke waktu sehingga bila tidak memperoleh ampunan Allah, sangat sulit
baginya untuk menghindari adzab neraka. Maka pada saat mengucapkan Rabbighfirli
atau Allahummaghfirli, air mata mushallin menitik satu-satu,
didesak oleh kesadaran khauf dan raja', takut akan adzab Allah
yang amat pedih dan berharap akan ridha Allah beserta sorga-Nya yang agung.
Orang yang shalat, ketika dalam kondisi berdiri tegak mengucap-kan kalimat Ihdinas
shirathal mustaqim, memohon petunjuk Allah agar dia tidak hanya tahu jalan
yang lurus tetapi hatinya cenderung mengikuti jalan lurus, yaitu jalan kebaikan
yang diinformasikan Allah kepada manusia. Dia sadar benar, akan keberadaan
syaiton-syaiton yang ramah dengan roman wajah manis, mengitari dirinya untuk
membujuk, merayu dan menipunya sehingga masuk ke jalan hidup yang bengkok, yang
ujungnya adalah pintu neraka Jahanam. Tanpa petunjuk Allah sangat sulit baginya
untuk menepis godaan-godaan setan, dari golongan jin dan manusia (QS An-Naas 114:
5). Godaan itu mereka lakukan dengan simpatik dan berulang-ulang.
Shalat diakhiri dengan ucapan salam, memohon kepada Allah Swt agar berkenan
mengaruniakan keselamatan dan kasih sayang kepada semua orang, yang berada di
kanan maupun kirinya. Salam merupakan ungkapan kasih yang paling tulus di
antara sesama manusia. Maka dengan shalat orang beriman mengingat Allah,
mendekatkan diri kepada Allah, berserah diri kepada Allah, memohon kepada
Allah, kemudian menyambung kasih sayang dengan sesama hamba Allah. Dengan
shalat dia mengusir jauh-jauh segala bentuk keresahan yang acap kali duduk
nyaman di hatinya. Orang-orang yang terhindar dari situasi kegelisahan adalah
yang menghayati makna gerakan maupun ucapannya di waktu shalat, sehingga apa
yang dilakukannya di dalam shalat, dikerjakannya pula di luar shalat. Ketika
shalat dia mengagungkan Allah, sesudah itu tetap demikian. Di dalam shalat dia
berdo'a, di luar shalat begitu pula. Di waktu shalat dia memohon kebaikan bagi
sesama manusia, dalam kehidupan bermasyarakat dia menjalin silaturahim
dan ta'awun – kasih sayang dan kerjasama yang harmonis dengan sesama
manusia.
Kita mendambakan kebabahagiaan, maka kita
mengusahakan ketenteraman hati. Kita menginginkan ketenteraman hati, maka kita
mengingat Allah dengan shalat. Tetapi shalat yang rewarding – yang memberi
manfaat besar adalah yang dihayati sepenuhnya. Adapun shalat yang tidak diresapi
tidak akan menghasilkan apa-apa. Al-Qur'an mengecam keras orang yang menunaikan
shalat dengan asal-asalan. QS Al-Maa'uun 107: 4-7 menyatakan: فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ – Maka celakalah
orang yang shalat. الَّذِينَ هُمْ
عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ – yaitu yang lalai
tentang shalatnya. Orang yang shalat dengan lalai, tidak mengerti makna
shalatnya, tidak akan mendapat apa-apa dari shalatnya itu. Maka mudah-mudahan
Allah Swt mencurahkan hidayah kepada kita, sehingga dari waktu ke waktu kita
selalu mampu memperbaiki kualitas shalat kita, dan shalat kita itu akan
mengantar kita kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Sakib Machmud
No. 232
Wuaah tulisan panjang ustadz insya Allah bakal mencerahkan bagi siapa saja yang resah.
BalasHapusBagus ustadz, sangat mencerahkan. Wassalam.
BalasHapusBenar, manusia termasuk saya memang seperti disebut dalam QS Al-Maarij:19-23, maka saya harus shalat lebih khusuk..
BalasHapus