Selasa, 25 November 2014

MENGATASI KERESAHAN

Allah Swt berfirman di dalam QS Al-Ma’arij 70: 19-23:

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً ﴿١٩﴾ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً ﴿٢٠﴾ وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً ﴿٢١﴾ إِلَّا الْمُصَلِّينَ ﴿٢٢﴾ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ ﴿٢٣﴾
“Sesungguhnya manusia dicipta bersifat resah.  Apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan dia sombong dan kikir, Kecuali orang-orang yang shalat, Yang mereka itu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan shalatnya, (QS Al-Ma’arij 70: 19-23). 


Akhir-akhir ini, setiap kali kita menonton televisi atau membaca surat kabar, kita sangat sering menyaksikan berita-berita tentang kekerasan yang berlangsung di mana-mana; Di pasar sesama pedagang bertengkar dan bergelut, di jalan orang yang mencopet dihajar massa sampai tubuhnya hancur, di dalam rumah tangga suami melakukan kekerasan kepada isterinya atau sebaliknya. Aksi demo yang niatnya mulia yaitu mengingatkan orang yang berkuasa akan tugas dan kewajiban yang dipikulnya, sering sekali disertai dengan tindakan anarki. Bahkan kekerasan terjadi pula di tempat berhormat dengan pelaku orang-orang yang berhormat pula. Kita patut bertanya-tanya mengapa hal-hal demikian itu terjadi dan semakin sering terjadi? Jawaban sederhananya ialah: Banyak dan semakin banyak orang yang resah, sedangkan keresahan itu mengganggu ketenteraman jiwa sehingga orang ingin melampiaskannya dengan berbagai cara, di antaranya melakukan kekerasan-kekerasan. Orang yang introvert mengomel sendirian, yang lebih ekstrovert melampiaskannya dengan makian kepada orang lain, bertengkar, dan berbuat hal-hal yang jauh dari kesantunan dan kewajaran 

Al-Qur’an memang menerangkan bahwa manusia itu berpotensi resah. QS Al-Ma’arij 70: 19-21 yang tertera di atas menyatakan: إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا  Sesungguhnya manusia itu dijadikan bersifat resah.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا  Tatkala menghadapi kesulitan dia gelisah, menggerutu, putus asa. وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا  dan ketika memperoleh kebaikan dia menjadi sombong dan kikir.

Manusia berpotensi mengidap keresahan. Tetapi keresahan itu dapat muncul ke permukaan dan dapat pula terbenam di dasar hati. Yang terjadi sekarang ini, keresahan bukan hanya muncul tetapi berkembang menjadi gejala sosial yang dahsyat. Mengapa demikian? Karena ada sejumlah pemicu dan pemacunya.

Pemicu pertama adalah kebutuhan hidup manusia menjadi semakin banyak dan beragam. Orang tidak hanya mau makanan yang mengenyangkan, tetapi juga perlu yang bergizi, yang lezat, yang diatur dengan baik, bahkan yang pantas dipamerkan kepada orang lain. Orang tidak hanya perlu pakaian penutup tubuh tetapi juga yang beragam, yang sesuai selera, yang mengikuti trend mode, yang banyak, dan sebagainya. Belum lagi kebutuhan tempat tinggal, sarana pendidikan, kesehatan, transportasi, hiburan, dan sebagainya.

Pemicu kedua adalah komunikasi dan informasi yang semakin canggih, sehingga orang-orang di Sukabumi selatan mengetahui apa yang dilakukan dan dipunyai orang di Bandung, di Jakarta, bahkan di Singapore dan California. Informasi tersebut menjadikan orang ingin meniru perbuatan orang-orang lain yang dianggap modern, ingin mempunyai apa yang dimiliki oleh orang-orang yang dipandang maju. Keinginan-keinginan seperti itu tidak selamanya dapat dipenuhi, maka muncullah stress di dalam hati, yang tidak lain dari keresahan yang tak terlampiaskan. Sebagian orang berusaha terus dan berusaha keras untuk mendapatkan apa yang didambakannya. Dalam proses mewujudkan apa yang diingini itu berkembang pula permasalahan di dalam jiwa, yang apabila tidak diobati dengan benar akan menyebabkan sakit di berbagai dimensi. Dalam situasi seperti ini, mustahil orang menerapkan kriteria Al-Ghazali yang beliau kemukakan pada zamannya, yaitu akhir abad sebelas Masehi, bahwa pakaian yang ma’ruf  atau pantas bagi orang beriman itu adalah dua pasang; satu dipakai dan satu lagi dicuci. Yang berkembang adalah sikap Bani Israil ketika dalam perjalanan hijrah dari Mesir ke Palestina. Meskipun mereka sudah memperoleh air yang mencukupi, dan dua macam makanan yang memadai yaitu Manna dan Salwa, mereka berkata tanpa malu-malu kepada pemimpin mereka, Musa As: يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الأرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا  - "Hai Musa, kami tidak bisa tahan dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merahnya". (QS Al-Baqarah 2: 61). Di tengah padang pasir terik, Bani Israil meminta makanan yang beragam dan pasti sulit di dapat di tempat itu. Sama saja bahwa dalam situasi yang tidak bagus sekarang ini orang mengharapkan kesejahteraan pada tingkatan yang tinggi untuk dirinya sendiri. Mereka tidak akan dapat memperoleh harapannya itu dengan cara yang wajar. Maka orang yang mempunyai kewenangan melakukan korupsi, yang memiliki kekuatan fisik merampok, yang tidak mempunyai apa-apa melampiaskan kekesalan dengan berbuat anarki secara bersama-sama.

Pemicu ketiga dan yang paling penting adalah ulah syeitan yang tidak henti-hentinya membujuk, merayu, dan menggoda manusia, untuk menyesatkan mereka dari jalan Allah yang lurus ke jalan yang bengkok, dari kebenaran kepada kesesatan, dari hal-hal yang diridhai Allah kepada yang dibenci Allah. Kita tidak dapat memprotes syaithon, karena hal itu memang menjadi profesinya. Pemimpin besar mereka iblis telah berikrar di hadapan Allah Swt: فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ   - Karena Engkau telah mengutuk aku sebagai makhluk sesat ya Allah, gara-gara tidak mau memberikan penghormatan kepada Adam, maka akan aku lampiaskan dendam kesumatku kepada Adam dengan menggoda dia beserta anak keturunannya sehingga ke luar dari jalan-Mu yang lurus. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ   - Kemudian aku dan seluruh anak buahku akan mendatangi mereka dari kanan dan dari kiri, dari depan maupun dari belakang, dan Engkau tidak akan menjumpai banyak di antara mereka yang bersyukur. Kebanyakan dari mereka akan mengikuti aku dan melakukan apa saja yang aku perintahkan kepadanya. (QS Al-A'raaf 7: 17).

Keresahan merupakan penyakit batin yang menular. Para ilmuwan menerangkan bahwa kalau orang berkumpul dia membentuk massa, maka perlakunya menjadi perilaku massa; apa yang dilakukan seseorang diikuti oleh yang lain. Seseorang melempar maka yang lainpun melempar pula. Seseorang membakar maka yang lain membakar pula.

Pada zaman sekarang ini, kumpulan orang yang saling memengaruhi dengan cepat itu bukan hanya yang berkumpul secara fisik di suatu tempat. Peralatan komunikasi telah menjadikan orang yang tersebar di mana-mana menjadi massa dan berperilaku saling mempengaruhi dengan cepat. Maka terjadilah apa yang kita bicarakan tadi yaitu: hilangnya kesantunan, dan terjadinya kekerasan, baik dalam bentuk kata-kata maupun perbuatan.

Oleh karena itu kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menepis keresahan dan menghadirkan ketenteraman dalam hati setiap kita. Ketenteraman itulah yang akan mengantarkan kebahagiaan; tidak akan seseorang bahagia, betapapun banyak kekayaannya, betapapun tinggi kedudukan sosialnya, betapapun besar kekuasaannya, bila hatinya dirundung keresahan dan kegelisahan, sehingga tidak mampu menikmati apa yang sesungguhnya ada pada dirinya. Yang dia rasakan hanya yang tidak ada belaka.

Al-Qur’an menyatakan bahwa ketenteraman akan diperoleh seseorang, yang beriman kepada Allah dan senantiasa dzikrullah - mengingat Allah. QS Ar-Ra'd 13: 28 menerangkan, orang-orang yang yang akan hidup senang dan sejahtera adalah: الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ    - mereka yang beriman dan hatinya menjadi tenteram dengan mengingat Allah.  أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ  - Camkanlah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Yang dimaksud dengan mengingat Allah bukan hanya tahu bahwa Allah itu ada, tetapi sadar bahwa Allah itu Mahakuasa, Mahaagung dan Mahabaik. Maka ketika dia menghadapi bahaya, sebesar apapun bahaya itu, dia yakin kepada perlindungan Allah; apabila Allah menghendaki dia pasti selamat. Ketika dia menghadapi kesulitan, sepelik apapun kesulitan itu, dengan petunjuk Allah dia pasti dapat memecahkannya. Al-Qur'an menggambarkan orang-orang yang bersikap demikian itu, أَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ  - tidak ada kekuatiran atas mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati. (QS Ali 'Imran 3: 170). Sebaliknya ketika orang itu memperoleh kenikmatan, dia tidak menganggap kenikmatan tersebut sebagai hasil usahanya sendiri, tetapi karunia Allah Swt. Maka dia senantiasa bersikap tawaddhu' - rendah hati dan tidak sedikitpun qalbunya bergerak ke arah kesombongan.

Banyak cara mengingat Allah. Salah satu yang paling efektif, yang juga berarti memiliki potensi terbaik untuk menghadirkan ketenteraman hati adalah shalat. Keterangan dalam surah Al-Ma'arij 70 tentang sifat resah yang ada pada manusia itu belum selesai. QS Al-Ma'arij 70: 22-23 tersebut meneruskannya sebagai berikut: إِلا الْمُصَلِّينَ  Kecuali orang-orang yang shalat. الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ   - yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya dengan penuh pengertian dan penghayatan.

Maka untuk kebaikan manusia sendiri Allah memerintahkan hamba-Nya ini menunaikan shalat, sekurang-kurangnya lima kali sehari. Dengan shalat orang beriman menyatakan pengakuan akan keagungan Allah yang tidak berbatas. Maka dia mengawali shalatnya dengan takbiratul ikhram; Allahu Akbar - Allah Mahabesar. Ucapan itu diulang-ulang hampir dalam setiap gerak yang mengubah posisi tubuhnya dalam menghadap Allah. Seandainya orang hanya menunaikan shalat wajib saja, dalam sehari semalam dia bertakbir 85 kali. Bila dia juga menunaikan shalat sunnat rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib, dan menunaikan pula shalat dhuha, shalat malam, syukrul wudhu’, maka jumlah takbir yang diucapkannya menjadi berkali lipat. Kalau setiap selesai shalat orang membaca wirid yang antara lain kalimat Allahu Akbar, maka takbirnya jauh lebih banyak lagi. Maka dengan takbir saja orang mukmin menundukkan diri sedalam-dalamnya kepada Allah, Tuhan yang mencipta dan menyediakan segala kebutuhan hidupnya, lahir maupun batin. Ketundukan diri itu dinyatakan pula dengan posisi tubuh ketika ruku' dan sujud. Bagian badan yang paling atas, tempat otak berada dan bekerja mengordinasi segala fungsi tubuh, diletakkan jauh ke bawah sambil bertasbih, mengungkapkan pengakuan akan ke-Mahasucian Allah yang bebas dari kekurangan dan kelemahan.

Di dalam shalat orang beriman berulang kali mengajukan berbagai macam do'a atau permohonan kepada Allah. Do'a yang sangat penting adalah memohon ampun atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Pada saat itu dia menyadari betapa banyak melakukan kesalahan, karena tidak mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan karena melakukan apa yang Dia larang. Dosa demi dosa selalu ditumpuknya dari waktu ke waktu sehingga bila tidak memperoleh ampunan Allah, sangat sulit baginya untuk menghindari adzab neraka. Maka pada saat mengucapkan Rabbighfirli atau Allahummaghfirli, air mata mushallin menitik satu-satu, didesak oleh kesadaran khauf dan raja', takut akan adzab Allah yang amat pedih dan berharap akan ridha Allah beserta sorga-Nya yang agung. Orang yang shalat, ketika dalam kondisi berdiri tegak mengucap-kan kalimat Ihdinas shirathal mustaqim, memohon petunjuk Allah agar dia tidak hanya tahu jalan yang lurus tetapi hatinya cenderung mengikuti jalan lurus, yaitu jalan kebaikan yang diinformasikan Allah kepada manusia. Dia sadar benar, akan keberadaan syaiton-syaiton yang ramah dengan roman wajah manis, mengitari dirinya untuk membujuk, merayu dan menipunya sehingga masuk ke jalan hidup yang bengkok, yang ujungnya adalah pintu neraka Jahanam. Tanpa petunjuk Allah sangat sulit baginya untuk menepis godaan-godaan setan, dari golongan jin dan manusia (QS An-Naas 114: 5). Godaan itu mereka lakukan dengan simpatik dan berulang-ulang. 

Shalat diakhiri dengan ucapan salam, memohon kepada Allah Swt agar berkenan mengaruniakan keselamatan dan kasih sayang kepada semua orang, yang berada di kanan maupun kirinya. Salam merupakan ungkapan kasih yang paling tulus di antara sesama manusia. Maka dengan shalat orang beriman mengingat Allah, mendekatkan diri kepada Allah, berserah diri kepada Allah, memohon kepada Allah, kemudian menyambung kasih sayang dengan sesama hamba Allah. Dengan shalat dia mengusir jauh-jauh segala bentuk keresahan yang acap kali duduk nyaman di hatinya. Orang-orang yang terhindar dari situasi kegelisahan adalah yang menghayati makna gerakan maupun ucapannya di waktu shalat, sehingga apa yang dilakukannya di dalam shalat, dikerjakannya pula di luar shalat. Ketika shalat dia mengagungkan Allah, sesudah itu tetap demikian. Di dalam shalat dia berdo'a, di luar shalat begitu pula. Di waktu shalat dia memohon kebaikan bagi sesama manusia, dalam kehidupan bermasyarakat dia menjalin silaturahim dan ta'awun – kasih sayang dan kerjasama yang harmonis dengan sesama manusia.

Kita mendambakan kebabahagiaan, maka kita mengusahakan ketenteraman hati. Kita menginginkan ketenteraman hati, maka kita mengingat Allah dengan shalat. Tetapi shalat yang rewarding – yang memberi manfaat besar adalah yang dihayati sepenuhnya. Adapun shalat yang tidak diresapi tidak akan menghasilkan apa-apa. Al-Qur'an mengecam keras orang yang menunaikan shalat dengan asal-asalan. QS Al-Maa'uun 107: 4-7 menyatakan: فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  Maka celakalah orang yang shalat. الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ  yaitu yang lalai tentang shalatnya. Orang yang shalat dengan lalai, tidak mengerti makna shalatnya, tidak akan mendapat apa-apa dari shalatnya itu. Maka mudah-mudahan Allah Swt mencurahkan hidayah kepada kita, sehingga dari waktu ke waktu kita selalu mampu memperbaiki kualitas shalat kita, dan shalat kita itu akan mengantar kita kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. 

Sakib Machmud
No. 232

3 komentar:

  1. Wuaah tulisan panjang ustadz insya Allah bakal mencerahkan bagi siapa saja yang resah.

    BalasHapus
  2. Bagus ustadz, sangat mencerahkan. Wassalam.

    BalasHapus
  3. Benar, manusia termasuk saya memang seperti disebut dalam QS Al-Maarij:19-23, maka saya harus shalat lebih khusuk..

    BalasHapus