وَلَوْ أَنَّ
أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ
Ayat di atas
mengemukakan dua kemungkinan yang dibukakan Allah bagi masyarakat manusia, bagi
penduduk negeri manapun, yang hidup di zaman kapanpun. Kemungkinan
yang pertama: mereka memperoleh barokah Allah, yang Dia curahkan dari
langit dan dari bumi. Maksudnya, mereka memperoleh kesejahteraan dari apa yang
mereka usahakan di dunia. Pepohonan yang mereka tanam akan tumbuh dengan subur
menghasilkan bunga dan buah-buahan yang mereka harapkan. Hewan-hewan yang
mereka ternakkan akan beranak pinak menghasilkan keuntungan yang banyak.
Pertambangan yang mereka usahakan menghasilkan berbagai logam dan mineral yang
bermanfaat. Perdagangan yang mereka lakukan menghasilkan laba yang terus
menerus. Semua hasil tadi disertai dengan barokah dari Allah Swt. Maka
rizki yang diperoleh akan menjadi rizki yang halal dan thayyib, tidak mendatangkan dosa
tetapi sebaliknya, bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Rizki
yang disertai barokah adalah yang menenteramkan pemiliknya. Rizki itu
kemudian digunakan sebagai bekal untuk melakukan hal-hal yang mendatangkan
pahala serta ridha dari Allah Swt. Dengan demikian orang akan memperoleh
keuntungan ganda, yakni keuntungan duniawi berupa kesejahteraan jasmani
dan rohani, serta keuntungan akhirat berupa surga yang penuh kenikmatan. Itulah
alternatif yang pertama, dan alternatif itu akan didapatkan oleh penduduk
negeri yang beriman serta bertakwa kepada Allah Swt.
Apakah artinya bertakwa? Secara umum bertakwa adalah selalu melaksanakan
perintah Allah dan senantiasa menjauhi larangan-Nya. Hal itu dilakukan dengan
suka rela dan gembira, bukan dengan perasaan terpaksa dan bukan sekedar untuk
melaksanalkan kewajiban, apa lagi kebiasaan. Orang yang melakukan sesuatu
semata-mata untuk menunaikan tugas, dia akan menganggap pekerjaannya itu
sebagai beban, maka dia pasti akan merasa berat. Sebaliknya orang yang
melakukan suatu pekerjaan dengan ridha, ikhlas dan suka cita, dia akan
menganggap pekerjaannya itu sebagai kesenangan; maka dia selalu tekun, cermat
dan bersemangat. Mengapa orang yang bertakwa itu menunaikan ketetapan Allah
dengan suka rela? Karena dia sangat menyadari keberadaan Allah Swt, sehingga
sangat berkehendak untuk berkomunikasi dengan Dia secara harmonis.
Komunikasinya itu kemudian menumbuhkan cinta kepada Allah; maka orang yang
menyintai Allah akan melaksanakan Kehendak Allah, bukan saja dengan
sungguh-sungguh tetapi juga dengan kegembiraan. Jadi kegembiraan lahir karena
cinta dan cinta hadir karena kesadaran. Karena itu Muhammad Assad (Leopold
Weiss) menggambarkan takwa itu sebagai the God consciousness - kesadaran
akan ekstensi Tuhan, Allah Swt. Kepada orang-orang yang bertakwa seperti ini
Allah menyatakan berkenan menganugerahkan barokah dari langit dan dari
bumi.
Alternatif kedua juga terbuka bagi manusia, yaitu adzab atau siksaan Allah.
Adzab ini pasti ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan Allah dan
mendustakan ayat-ayat Allah; maksudnya tidak percaya kepada adanya Allah dan
sebagai akibatnya, tidak percaya kepada ayat-ayat Allah. Mereka menganggap
kepercayaan kepada Allah hanyalah kepercayaan orang-orang dungu. Mereka
memandang Rasul sebagai orang yang mencari kekayaan, kedudukan atau ketenaran
dengan mengaku utusan Allah. Mereka memandang Kitab-kitab Allah itu sebagai
karangan orang yang mengaku Rasul. Meskipun kepada mereka telah disampaikan
argumen-argumen yang rasional, namun mereka tetap tidak percaya. Maka kepada
mereka itulah Allah menimpakan adzab-Nya. Siksaan itu bisa dijatuhkan langsung
di dunia, bisa pula ditimpakan di akhirat saja, seperti yang akan dialami oleh
Abu Lahab, Abu Jahal, dan para penentang Nabi Muhammad Saw lainnya. Orang-orang
yang sudah diadzab di dunia akan juga diadzab di akhirat, kalau ketika ditimpa
adzab itu tidak juga insaf akan kesalahannya. Begitulah sunnatullah, ketetapan
Allah, yang membuka dua kemungkinan untuk manusia. Selanjutnya terpulang kepada
tiap-tiap orang yang telah mendengar informasi dan petunjuk ini, memilih
alternatif yang mana. Keuntungan dan resiko atas pilihannya itu, dia sendiri
yang akan memikulnya. Allah Swt memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk
menandaskan kepada ummat beliau: “Kebenaran
yang aku sampaikan ini berasal dari Tuhanmu. Maka siapa mau silakan
beriman dan siapa mau silakan kufur.” (QS Al-Kahfi 18: 29).
Petunjuk normatif yang dikemukakan pada dua ayat yang kita tampilkan ini
belum dapat dipahami oleh sebagian orang. Maka Allah Swt menceriterakan sikap
beberapa masyarakat yang hidup di masa lampau, dan resiko yang telah mereka
dapatkan langsung dalam kehidupannya di dunia ini. Kita bicarakan di sini tiga
ummat yang
dalam berbagai surah dikisahkan secara berurutan, yaitu kaum Nabi Nuh, kaum
‘Ad, dan kaum Tsamud. Banyak ulama tafsir yang menyatakan bahwa kaum Nuh adalah
masyarakat pertama yang menyembah berhala dalam bentuk patung-patung yang
mereka buat dengan tangannya sendiri. Patung-patung yang mereka cipta dari batu
dan kayu itu merfleksikan kepercayaan kaum tersebut terhadap sesuatu yang
mencipta dan menguasai alam raya beserta segala isinya termasuk manusia. Al-Qur’an menyebut
lima patung utama yang mereka sembah dan mereka puja, yaitu yang mereka namai:
Wadd, Suwaa, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr (QS 71 Nuh:23-24). Penyembahan
patung-patung itu menunjukkan dua sifat sebagian orang, yang saling
bertentangan. Di satu pihak spesies ini memiliki keyakinan dasar fitrah yaitu
memercayai adanya tuhan sebagai penguasa segala sesuatu, tetapi di pihak lain
orang tidak mau mengikatkan diri kepada ketentuan-ketentuan yang berasal dari
tuhan itu. Mereka ingin bebas menentukan apa yang dilakukan dan yang tidak
dilakukannya, termasuk tata cara menyembah tuhan itu. Mereka bersedia menyembah
tuhan bahkan memberi sesaji kepada tuhan, tetapi keberatan untuk diatur di
masalah non ritual, seperti dalam masalah ekonomi, hukum dan sebagainya.
Kaum Nabi
Nuh, dengan kecerdikan dan kerja kerasnya, telah mencapai tingkat kemampuan
ekonomi yang lebih tinggi dari masyarakat lain di sekitarnya. Tetapi
karena tidak bertuhan dengan semestinya, maka mereka menjadi sombong dan
angkuh. Mereka menganggap diri di atas orang-orang lain dan karena itu merasa
berhak mengeksploitasi kaum-kaum di luar mereka, dengan memanfaatkan apa yang
dimiliki orang-orang lain itu untuk memenuhi kepentingan mereka. Allah Pencipta
manusia tidak menghendaki hal demikian itu berlangsung terus. Maka Dia mengutus
salah seorang dari kaum itu yang bernama Nuh, untuk menjadi Rasul, yang
bertugas menyampaikan ketetapan-ketetapan Allah kepada kaum itu, kemudian
mengubah sikap serta perilaku mereka selama ini sehingga sesuai dengan aturan
Allah. Maka beliau melandaskan ajaran kebenaran dengan mengemukakan seruan
dasar: “Wahai kaumku sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain Dia”. (QS 7 Al-A’raf: 59). Namun ternyata, seruan Nuh As untuk
menyelamatkan kaumnya itu mendapat tanggapan yang sangat jauh dari harapan.
Beliau dianggap sebagai orang yang sesat, karena mempunyai kepercayaan yang
berbenturan dengan keyakinan masyarakat, yaitu yang diajarkan oleh kakek moyang
mereka (QS Al-A’raaf 7: 60). Beliau
juga dikatakan sebagai orang gila, karena setelah diperingatkan dan diancam
agar tidak mengusik kepercayaan kaumnya sendiri, masih juga berdakwah mengajak
orang untuk menyembah Tuhan yang Maha Esa (QS Al-Qamar 54: 9).
Maka kaum yang durhaka itu bertindak anarkis dengan menzhalimi
orang-orang yang beriman seperti Nabi Nuh. Rasul tersebut, yang merasa tidak
akan mampu menghalangi kedurhakaan kaumnya, mohon perlindungan kepada Allah
Swt, Beliau dengan terus terang memohon agar Allah melenyapkan orang-orang yang
tidak akan memberi manfaat sedikitpun kepada manusia dan kemanusiaan (QS Nuh 71: 26-27).
Allah Swt mengabulkan do’a Rasul-Nya; maka Dia “membuka pintu-pintu langit”
sehingga hujanpun tercurah sangat deras dan amat lama. Tanah tidak mampu lagi
menampung air yang di luar batas daya serapnya. Maka semua orang yang kafir
kepada Allah dan aniaya kepada sesaamanya, tenggelam dan mati dalam kondisi
mengenaskan. Termasuk di dalam golongan yang diazab Allah itu, anak Nuh sendiri
karena dia menolak untuk mengikuti ajakan ayahandanya. Hanya orang-orang beriman
saja yang aman dan senang berada di dalam sebuah bahtera yang telah mereka
persiapkan terlebih dahulu. Mereka selamat di dalam naungan rahmah dan ridha
Allah Swt.
Peristiwa punahnya sebuah masyarakat yang durhaka itu mestinya menjadi
pelajaran yang berharga bagi generasi sesudahnya. Tetapi ternyata kaum yang
hadir di bumi sesudah kaum Nuh itu justru mengikuti jejak pendahulunya yang
melenceng dari jalan kebenaran yang ditetapkan Allah. Kaum ‘Ad adalah kaum yang
beranggapan bahwa nasib manusia bergantung sepenuhnya kepada dirinya sendiri.
Tidak ada siapapun, termasuk tuhan, yang menentukannya. Sebagaimana kaum Nabi
Nuh, kaum ‘Ad juga orang-orang yang kreatif, berpikir keras dan bekerja keras.
Maka merekapun berkembang sebagai masyarakat yang maju ekonominya. Tetapi
seperti generasi sebelumnya, kaum itu juga menjadi sombong, menyepelekan
kaum-kaum lain bahkan eksploitatif terhadap orang-orang yang mereka anggap
tidak setaraf dengannya. Untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya mereka menyembah
berhala-berhala; para ahli sejarah menyebut tiga sesembahan kaum ‘Ad yaitu
Shada, Shamud, dan Al-Haba. Mereka merasa telah menunaikan kewajiban untuk
menyembah tuhan-tuhan, sehingga bebas untuk melakukan apapun yang mereka
inginkan.
Sudah tentu anggapan demikian itu salah besar. Maka Allah Swt mengutus
salah seorang dari kaum ‘Ad, yang bernama Hud, untuk meluruskan cara berpikir
dan berperilaku kaum tersebut. Seperti Rasul pendahulunya, Hud As menyeru
kaumnya dengan seruan yang persis sama: “Wahai kaumku sembahlah Allah;
sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.” (QS Al-A’raaf 7: 65). Namun
sebagaimana halnya kaum Nuh, kaum Nabi Hud juga menentang keras pengajaran
Rasul yang diutus Allah kepada mereka. Para pemimpin kaum itu mengejek Hud As. dengan
menyebut beliau orang tolol dan pembohong. Rasul tersebut dengan sabar mengajak
kaumnya untuk berdiskusi dengan mengemukakan argumen-argumen yang sehat. Tetapi
yang diajak justru menghindar dengan alasan, apa yang dikemukakan oleh Hud itu
telah ditolak oleh mayoritas kaumnya. Maka untuk apa berbicara lagi dengan
orang yang tidak disukai masyarakatnya sendiri? Maka akhirnya Allah Swt
menetapkan vonis-Nya yaitu membinasakan orang-orang kafir yang dengan kejam
telah mendzalimi orang-orang beriman pengikut Nabi Hud As. Ke kawasan
negeri mereka yang dikenal sebagai Al-Ahqaf terutama ibu kotanya ‘Iram,
ditiupkan angin dingin yang kencang selama delapan hari tujuh malam terus
menerus. Maka merekapun mati bergelimpangan, bagaikan batang-batang korma
yang telah lapuk. (QS Al-Ahqaaf 69: 6-8).
Sedangkan kaum beriman atas perintah Allah telah menyingkir ke tampat yang
aman.
Dua peristiwa dramatis itu ternyata tidak menggugah hati generasi
sesudahnya yaitu kaum Tsamud untuk beriman dan mengabdikan diri kepada Allah
Swt. Pola kehidupan mereka sama dengan para pendahulunya, Mereka bekerja keras
dengan kreatifitas yang sangat tinggi, dan menjadi maju ekonominya dan
teknologinya. Mereka membangun sistem irigasi yang dapat mengairi
kebun-kebunnya sehingga menghasilkan buah-buahan yang lebih dari memadai.
Mereka membangun rumah dan fasilitas umum dengan memahat langsung batu-batu
besar yang terdapat di kawasan hidup mereka yaitu lembah Al-Qura. Tetapi pola
hidupnya menyontoh kaum Nabi Nuh dan kaum ‘Ad. Rasul yang diutus Allah kepada
kaum itu, Shalih As mendapat tentangan fanatik dari sebagian besar kaum
Tsamud. Maka akhirnya Allah menimpakan gempa tektonik dengan kekuatan tinggi;
maka jadilah kaum Tsamud itu mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal
mereka. (QS Al-A’raaf 7: 78).
Demikianlah
Al-Qur’an mengisahkan beberapa ummat yang merasakan adzab Allah yang dahsyat di
dalam kehidupannya di dunia. Karena sampai matinya mereka
tidak bertobat, pasti mereka akan merasakan siksaan yang lebih menyengsarakan
lagi di alam akhirat kelak. Kisah-kisah tersebut, sebagaimana ditampilkan di
dalam Al-Qur’an untuk
memantapkan iman manusia, mengemukakan kebenaran sejarah, dan menjadi pelajaran
serta peringatan, bagi orang-orang yang beriman. (QS Huud 11; 120). Semoga
kita semua termasuk orang-orang yang mampu memetik hasil terbaik setelah
menelaah petunjuk Al-Qur'an tersebut.
Sakib
Machmud
No. 231
Tidak ada komentar:
Posting Komentar