Senin, 10 November 2014

MASYARAKAT TAKWA DAN MASYARAKAT DURHAKA

Allah Swt berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Ayat di atas mengemukakan dua kemungkinan yang dibukakan Allah bagi masyarakat manusia, bagi penduduk negeri manapun, yang hidup di zaman kapanpun. Kemungkinan yang pertama: mereka memperoleh barokah Allah, yang Dia curahkan dari langit dan dari bumi. Maksudnya, mereka memperoleh kesejahteraan dari apa yang mereka usahakan di dunia. Pepohonan yang mereka tanam akan tumbuh dengan subur menghasilkan bunga dan buah-buahan yang mereka harapkan. Hewan-hewan yang mereka ternakkan akan beranak pinak menghasilkan keuntungan yang banyak. Pertambangan yang mereka usahakan menghasilkan berbagai logam dan mineral yang bermanfaat. Perdagangan yang mereka lakukan menghasilkan laba yang terus menerus. Semua hasil tadi disertai dengan barokah dari Allah Swt. Maka rizki yang diperoleh akan menjadi rizki yang halal dan thayyib, tidak mendatangkan dosa tetapi sebaliknya, bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Rizki yang disertai barokah adalah yang menenteramkan pemiliknya. Rizki itu kemudian digunakan sebagai bekal untuk melakukan hal-hal yang mendatangkan pahala serta ridha dari Allah Swt. Dengan demikian orang akan memperoleh keuntungan ganda, yakni keuntungan duniawi berupa kesejahteraan  jasmani dan rohani, serta keuntungan akhirat berupa surga yang penuh kenikmatan. Itulah alternatif yang pertama, dan alternatif itu akan didapatkan oleh penduduk negeri yang beriman serta bertakwa kepada Allah Swt.

Apakah artinya bertakwa? Secara umum bertakwa adalah selalu melaksanakan perintah Allah dan senantiasa menjauhi larangan-Nya. Hal itu dilakukan dengan suka rela dan gembira, bukan dengan perasaan terpaksa dan bukan sekedar untuk melaksanalkan kewajiban, apa lagi kebiasaan.  Orang yang melakukan sesuatu semata-mata untuk menunaikan tugas, dia akan menganggap pekerjaannya itu sebagai beban, maka dia pasti akan merasa berat. Sebaliknya orang yang melakukan suatu pekerjaan dengan ridha, ikhlas dan suka cita, dia akan menganggap pekerjaannya itu sebagai kesenangan; maka dia selalu tekun, cermat dan bersemangat. Mengapa orang yang bertakwa itu menunaikan ketetapan Allah dengan suka rela? Karena dia sangat menyadari keberadaan Allah Swt, sehingga sangat berkehendak untuk berkomunikasi dengan Dia secara harmonis. Komunikasinya itu kemudian menumbuhkan cinta kepada Allah; maka orang yang menyintai Allah akan melaksanakan Kehendak Allah, bukan saja dengan sungguh-sungguh tetapi juga dengan kegembiraan. Jadi kegembiraan lahir karena cinta dan cinta hadir karena kesadaran. Karena itu Muhammad Assad (Leopold Weiss) menggambarkan takwa itu sebagai the God consciousness - kesadaran akan ekstensi Tuhan, Allah Swt. Kepada orang-orang yang bertakwa seperti ini Allah menyatakan berkenan menganugerahkan barokah dari langit dan dari bumi.

Alternatif kedua juga terbuka bagi manusia, yaitu adzab atau siksaan Allah. Adzab ini pasti ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan Allah dan mendustakan ayat-ayat Allah; maksudnya tidak percaya kepada adanya Allah dan sebagai akibatnya, tidak percaya kepada ayat-ayat Allah. Mereka menganggap kepercayaan kepada Allah hanyalah kepercayaan orang-orang dungu. Mereka memandang Rasul sebagai orang yang mencari kekayaan, kedudukan atau ketenaran dengan mengaku utusan Allah. Mereka memandang Kitab-kitab Allah itu sebagai karangan orang yang mengaku Rasul. Meskipun kepada mereka telah disampaikan argumen-argumen yang rasional, namun mereka tetap tidak percaya. Maka kepada mereka itulah Allah menimpakan adzab-Nya. Siksaan itu bisa dijatuhkan langsung di dunia, bisa pula ditimpakan di akhirat saja, seperti yang akan dialami oleh Abu Lahab, Abu Jahal, dan para penentang Nabi Muhammad Saw lainnya. Orang-orang yang sudah diadzab di dunia akan juga diadzab di akhirat, kalau ketika ditimpa adzab itu tidak juga insaf akan kesalahannya. Begitulah sunnatullah, ketetapan Allah, yang membuka dua kemungkinan untuk manusia. Selanjutnya terpulang kepada tiap-tiap orang yang telah mendengar informasi dan petunjuk ini, memilih alternatif yang mana. Keuntungan dan resiko atas pilihannya itu, dia sendiri yang akan memikulnya. Allah Swt memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk menandaskan kepada ummat beliau: “Kebenaran yang aku sampaikan ini berasal dari Tuhanmu. Maka siapa mau silakan beriman dan siapa mau silakan kufur.” (QS Al-Kahfi 18: 29).

Petunjuk normatif yang dikemukakan pada dua ayat yang kita tampilkan ini belum dapat dipahami oleh sebagian orang. Maka Allah Swt menceriterakan sikap beberapa masyarakat yang hidup di masa lampau, dan resiko yang telah mereka dapatkan langsung dalam kehidupannya di dunia ini. Kita bicarakan di sini tiga ummat yang dalam berbagai surah dikisahkan secara berurutan, yaitu kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, dan kaum Tsamud. Banyak ulama tafsir yang menyatakan bahwa kaum Nuh adalah masyarakat pertama yang menyembah berhala dalam bentuk patung-patung yang mereka buat dengan tangannya sendiri. Patung-patung yang mereka cipta dari batu dan kayu itu merfleksikan kepercayaan kaum tersebut terhadap sesuatu yang mencipta dan menguasai alam raya beserta segala isinya termasuk manusia. Al-Quran menyebut lima patung utama yang mereka sembah dan mereka puja, yaitu yang mereka namai: Wadd, Suwaa, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr (QS 71 Nuh:23-24). Penyembahan patung-patung itu menunjukkan dua sifat sebagian orang, yang saling bertentangan. Di satu pihak spesies ini memiliki keyakinan dasar fitrah yaitu memercayai adanya tuhan sebagai penguasa segala sesuatu, tetapi di pihak lain orang tidak mau mengikatkan diri kepada ketentuan-ketentuan yang berasal dari tuhan itu. Mereka ingin bebas menentukan apa yang dilakukan dan yang tidak dilakukannya, termasuk tata cara menyembah tuhan itu. Mereka bersedia menyembah tuhan bahkan memberi sesaji kepada tuhan, tetapi keberatan untuk diatur di masalah non ritual, seperti dalam masalah ekonomi, hukum dan sebagainya.

Kaum Nabi Nuh, dengan kecerdikan dan kerja kerasnya, telah mencapai tingkat kemampuan ekonomi yang lebih tinggi dari masyarakat lain di sekitarnya. Tetapi karena tidak bertuhan dengan semestinya, maka mereka menjadi sombong dan angkuh. Mereka menganggap diri di atas orang-orang lain dan karena itu merasa berhak mengeksploitasi kaum-kaum di luar mereka, dengan memanfaatkan apa yang dimiliki orang-orang lain itu untuk memenuhi kepentingan mereka. Allah Pencipta manusia tidak menghendaki hal demikian itu berlangsung terus. Maka Dia mengutus salah seorang dari kaum itu yang bernama Nuh, untuk menjadi Rasul, yang bertugas menyampaikan ketetapan-ketetapan Allah kepada kaum itu, kemudian mengubah sikap serta perilaku mereka selama ini sehingga sesuai dengan aturan Allah. Maka beliau melandaskan ajaran kebenaran dengan mengemukakan seruan dasar: “Wahai kaumku sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia”. (QS 7 Al-A’raf: 59). Namun ternyata, seruan Nuh As untuk menyelamatkan kaumnya itu mendapat tanggapan yang sangat jauh dari harapan. Beliau dianggap sebagai orang yang sesat, karena mempunyai kepercayaan yang berbenturan dengan keyakinan masyarakat, yaitu yang diajarkan oleh kakek moyang mereka (QS Al-A’raaf 7: 60). Beliau juga dikatakan sebagai orang gila, karena setelah diperingatkan dan diancam agar tidak mengusik kepercayaan kaumnya sendiri, masih juga berdakwah mengajak orang untuk menyembah Tuhan yang Maha Esa (QS  Al-Qamar 54: 9).

Maka kaum yang durhaka itu bertindak anarkis dengan menzhalimi orang-orang yang beriman seperti Nabi Nuh. Rasul tersebut, yang merasa tidak akan mampu menghalangi kedurhakaan kaumnya, mohon perlindungan kepada Allah Swt, Beliau dengan terus terang memohon agar Allah melenyapkan orang-orang yang tidak akan memberi manfaat sedikitpun kepada manusia dan kemanusiaan (QS Nuh 71: 26-27). Allah Swt mengabulkan do’a Rasul-Nya; maka Dia “membuka pintu-pintu langit” sehingga hujanpun tercurah sangat deras dan amat lama. Tanah tidak mampu lagi menampung air yang di luar batas daya serapnya. Maka semua orang yang kafir kepada Allah dan aniaya kepada sesaamanya, tenggelam dan mati dalam kondisi mengenaskan. Termasuk di dalam golongan yang diazab Allah itu, anak Nuh sendiri karena dia menolak untuk mengikuti ajakan ayahandanya. Hanya orang-orang beriman saja yang aman dan senang berada di dalam sebuah bahtera yang telah mereka persiapkan terlebih dahulu. Mereka selamat di dalam naungan rahmah dan ridha Allah Swt.

Peristiwa punahnya sebuah masyarakat yang durhaka itu mestinya menjadi pelajaran yang berharga bagi generasi sesudahnya. Tetapi ternyata kaum yang hadir di bumi sesudah kaum Nuh itu justru mengikuti jejak pendahulunya yang melenceng dari jalan kebenaran yang ditetapkan Allah. Kaum ‘Ad adalah kaum yang beranggapan bahwa nasib manusia bergantung sepenuhnya kepada dirinya sendiri. Tidak ada siapapun, termasuk tuhan, yang menentukannya. Sebagaimana kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad juga orang-orang yang kreatif, berpikir keras dan bekerja keras. Maka merekapun berkembang sebagai masyarakat yang maju ekonominya. Tetapi seperti generasi sebelumnya, kaum itu juga menjadi sombong, menyepelekan kaum-kaum lain bahkan eksploitatif terhadap orang-orang yang mereka anggap tidak setaraf dengannya. Untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya mereka menyembah berhala-berhala; para ahli sejarah menyebut tiga sesembahan kaum ‘Ad yaitu Shada, Shamud, dan Al-Haba. Mereka merasa telah menunaikan kewajiban untuk menyembah tuhan-tuhan, sehingga bebas untuk melakukan apapun yang mereka inginkan.

Sudah tentu anggapan demikian itu salah besar. Maka Allah Swt mengutus salah seorang dari kaum ‘Ad, yang bernama Hud, untuk meluruskan cara berpikir dan berperilaku kaum tersebut. Seperti Rasul pendahulunya, Hud As menyeru kaumnya dengan seruan yang persis sama: “Wahai kaumku  sembahlah Allah; sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.” (QS  Al-A’raaf 7: 65). Namun sebagaimana halnya kaum Nuh, kaum Nabi Hud juga menentang keras pengajaran Rasul yang diutus Allah kepada mereka. Para pemimpin kaum itu mengejek Hud As. dengan menyebut beliau orang tolol dan pembohong. Rasul tersebut dengan sabar mengajak kaumnya untuk berdiskusi dengan mengemukakan argumen-argumen yang sehat. Tetapi yang diajak justru menghindar dengan alasan, apa yang dikemukakan oleh Hud itu telah ditolak oleh mayoritas kaumnya. Maka untuk apa berbicara lagi dengan orang yang tidak disukai masyarakatnya sendiri? Maka akhirnya Allah Swt menetapkan vonis-Nya yaitu membinasakan orang-orang kafir yang dengan kejam telah mendzalimi orang-orang beriman pengikut Nabi Hud As. Ke kawasan negeri mereka yang dikenal sebagai Al-Ahqaf terutama ibu kotanya ‘Iram, ditiupkan angin dingin yang kencang selama delapan hari tujuh malam terus menerus. Maka merekapun mati  bergelimpangan, bagaikan batang-batang korma yang telah lapuk. (QS Al-Ahqaaf 69: 6-8). Sedangkan kaum beriman atas perintah Allah telah menyingkir ke tampat yang aman.

Dua peristiwa dramatis itu ternyata tidak menggugah hati generasi sesudahnya yaitu kaum Tsamud untuk beriman dan mengabdikan diri kepada Allah Swt. Pola kehidupan mereka sama dengan para pendahulunya, Mereka bekerja keras dengan kreatifitas yang sangat tinggi, dan menjadi maju ekonominya dan teknologinya. Mereka membangun sistem irigasi yang dapat mengairi kebun-kebunnya sehingga menghasilkan buah-buahan yang lebih dari memadai. Mereka membangun rumah dan fasilitas umum dengan memahat langsung batu-batu besar yang terdapat di kawasan hidup mereka yaitu lembah Al-Qura. Tetapi pola hidupnya menyontoh kaum Nabi Nuh dan kaum ‘Ad. Rasul yang diutus Allah kepada kaum itu, Shalih As mendapat tentangan fanatik dari sebagian besar kaum Tsamud. Maka akhirnya Allah menimpakan gempa tektonik dengan kekuatan tinggi; maka jadilah kaum Tsamud itu mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (QS Al-A’raaf 7: 78).

Demikianlah Al-Qur’an mengisahkan beberapa ummat yang merasakan adzab Allah yang dahsyat di dalam kehidupannya di dunia. Karena sampai matinya mereka tidak bertobat, pasti mereka akan merasakan siksaan yang lebih menyengsarakan lagi di alam akhirat kelak. Kisah-kisah tersebut, sebagaimana ditampilkan di dalam Al-Quran untuk memantapkan iman manusia, mengemukakan kebenaran sejarah, dan menjadi pelajaran serta peringatan, bagi orang-orang yang beriman. (QS Huud 11; 120). Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu memetik hasil terbaik setelah menelaah petunjuk Al-Qur'an tersebut.

Sakib Machmud
No. 231

Tidak ada komentar:

Posting Komentar