وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ
وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا
لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ﴿٣٧﴾
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun
bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptanya, jika Dialah yang kamu hendak
sembah.” (QS Fushshilat 41: 37).
Hari Rabu tanggal 8 Oktober 2014 yang baru lalu kita mengalami gerhana
bulan. Menurut perhitungan ahli Astronomi, gerhana sebagian dan total
berlangsung pada jam 16.15 sampai dengan 19.34 WIB. Peristiwa langka tersebut -
sesuai dengan keterangan ayat yang tertera di atas, merupakan sebagian dari
tanda keagungan Allah Swt. Tetapi pada zaman dahulu peristiwa yang jarang
berlangsung itu acap kali dihubungkan orang dengan hal-hal yang bersifat
mistis. Bahkan pada masa Rasulullah Saw pun, sebagaimana yang dituturkan oleh
Abdullah bin Umar Ra, tatkala berlangsung gerhana matahari yang kebetulan
bertepatan dengan wafatnya satu-satunya anak lelaki Muhammad Saw yaitu Ibrahim,
beberapa orang mengatakan bahwa gerhana itu menandai kematian beliau. Maka
beliau bersabda: “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak
terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi termasuk tanda-tanda
kebesaran Allah. Karena itu apabila kamu sekalian menyaksikannya, tunaikanlah
shalat.” (HR Muslim).
Sebenarnya tanda-tanda keagungan Allah itu berperaga dengan nyata di setiap
saat dan disaksikan orang di setiap tempat. QS Fushshilat 41: 53 memaparkan
firman Allah Swt: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka (manusia)
tanda-tanda keagungan kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri,
sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an ini adalah benar.” Berulang kali
dalam berbagai ayat Kitab Allah terakhir ini mengemukakan tanda-tanda
kekuasaan-Nya itu. Kita kemukakan beberapa di antaranya, QS Ali ‘Imran 4: 190
membicarakan pergantian siang dan malam sebagai tanda bukti kekuasaan Allah
yang tidak berbatas.
Bagaimana bisa terjadi pergantian keadaan tersebut secara terus menerus?
Ilmu mengajarkan kepada kita bahwa bumi yang kita diami ini berputar pada
porosnya dari arah barat ke arah timur, pada setiap saat tanpa pernah berhenti
sedetikpun. Kecepatan gerak berbagai kawasan di bumi ini berbeda-beda. Daerah
kutub mendekati nol, negeri Inggris sekitar 965 kilometer setiap jam, sedangkan
Indonesia yang berada di garis khatulistiwa bergerak dengan kecepatan lebih
dari 1650 kilometer sejam, untuk menempuh perjalanan sekitar 40.000 kilometer
setiap hari. Karena rotasi itu maka sebuah kawasan di muka bumi pada suatu
ketika menghadap matahari sehingga terjadilah di tempat itu masa siang yang benderang,
tetapi pada waktu yang lain dia membelakangi matahari dan menjadi gelap;
berlangsunglah masa malam.
Apa yang terjadi sekiranya bumi berhenti berputar? Louis Bloomfield, ahli
fisika dari University of Virginia mengemukakan terjadinya kekacauan total dan
kehancuran bumi. Salah satu bagian bumi mengalami pemanasan matahari secara
terus menerus sehingga seluruh tanaman mati dan manusia tewas terpanggang.
Sedangkan bagian yang lain tidak memperoleh kehangatan sedikitpun, maka semua
menjadi beku termasuk manusia. Alhamdulillah, Allah tidak atau belum menetapkan
skenario seperti itu. Bumi terus berotasi secara tetap dan teratur, masa siang
dan masa malam datang silih berganti di bagian terbesar dunia ini, dan manusia
hidup dengan nyaman. Al-Qur’an menyatakan tentang hal ini: “Dan karena
rahmat-Nya Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada
malam itu dan supaya kamu mengusahakan sebagian dari karunia-Nya (pada siang
hari); dan supaya kamu bersyukur.” Subhanallah.
QS Fushshilat 41: 53 menerangkan bahwa tanda-tanda keagungan Allah Swt itu juga nampak nyata pada diri manusia sendiri. Tanda bukti itu jelas terlihat sejak dari proses pembentukannya. Al-Mu’minuun 23: 12-14 menerangkan betapa Allah menjadikan makhluk ini dari saripati tanah, yang dikembangkan menjadi mani dan diletakkan di tempat yang kokoh yaitu rahim. Lalu Allah mengembangkannya menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging, kemudian diperlengkapi dengan tulang belulang yang dibungkus dengan daging, sampai menjadi makhluk sempura. Pertelaan mengenai proses terjadinya manusia itu dikemukakan dalam Al-Qur’an tentu sebagai pengajaran bagi manusia bahwa Allah mencipta manusia itu dengan prosedur tertentu yang memerlukan waktu, meskipun - sekiranya Dia menghendaki - pasti dapat mencipta makhluk ini dalam sekejap saja. Allah juga menerangkan bahwa Dia memperlengkapi manusia dengan kemampuan indera dan akal, secara bertahap (QS An-Nahl 16: 78). Makhluk yang dicipta Allah, apa lagi manusia yang dikaruniai akal sehingga menjadi sebaik-baik ciptaan (QS At-Tin 95: 4), adalah makhluk yang unggul. Keunggulan manusia ini pasti bukan karena bahan dasarnya, yang hanya tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk (QS Al-Hijr 15: 26). Keunggulan manusia merupakan salah satu tanda bukti keagungan Penciptanya, Allah Swt.
Al-Quran menuturkan banyak lagi karya agung Allah Swt yang tidak akan
tertandingi oleh ciptaan siapapun. Di bumi Dia adakan tanah yang subur dan
tidak subur meskipun berdampingan. Dia menumbuhkan di lahan yang berbeda-beda
sifat itu aneka ragam flora seperti anggur dan korma, yang bercabang
maupun tidak bercabang. Dari berbagai jenis pohon itu muncul buah yang manis,
yang segar sampai yang asam (QS Ar-Ra’d 13: 4). Allah mencipta pula ribuan
jenis fauna, sejak dari yang bersel satu sampai yang sangat besar seperti gajah
dan ikan paus. Ada lebah yang membuat sarang di bukit-bukit, di pohon kayu dan
di bangunan-bangunan yang dibuat manusia (QS An-Nahl 16: 68). Lebah mengisap
madu yang tersedia di bunga-bungaan, dan pada saat yang sama mempertemukan
serbuk sari dengan putik sehingga menghasilkan buah; di dalam buah ada
bijih-bijih yang kelak akan menjadi tanaman baru. Terjadilah simbiose
mutualistik di antara keduanya. Di antara hewan-hewan itu adalah yang menjadi
pemangsa dan ada yang menjadi mangsa binatang lain. Dalam pergulatan antara dua
jenis hewan itu adakalanya pemangsa berhasil menaklukkan mangsanya tetapi
adakalanya pula gagal. Setiap dan semua kejadian itu diatur rapih tanpa cacat
oleh Allah Swt.
Demikianlah Allah sebagai Rabbul ‘alamin - Pembina, Pengatur dan
Pelindung alam raya mengadakan dan memproses segala unsur alam ini dengan
sempurna. Hal itu disaksikan manusia, bahkan sering kali dengan pengamatan yang
cermat. Tetapi rupanya peristiwa-peristiwa yang berlangsung di depan mata dan
terjadi dari waktu ke waktu itu, justru karena sering terjadi, tidak menyentuh
hati sebagian orang untuk beriman. Mereka menganggap hal itu adalah kejadian
biasa saja. Maka Allah dengan kebijaksanaan-Nya yang tak berbatas mengadakan
pertistiwa-peristiwa langka, yang jarang terjadi, untuk menggerakkan hati
nurani para saksi peristiwa itu mengakui keagungan Allah Swt.
Salah satu dari peristiwa yang jarang terjadi itu adalah gerhana, baik
gerhana matahari maupun gerhana bulan. Gerhana matahari terjadi bila cahaya
matahari ke bumi terhalang oleh bulan yang berada di antara keduanya, sedangkan
gerhana bulan berlangsung ketika cahaya matahari ke bulan terhalang oleh bumi,
sehingga bulan tidak dapat memantulkan kembali cahaya itu ke bumi. Diharapkan
bahwa setelah menyaksikan peristiwa gerhana itu, orang menyadari kekuasaan
Allah yang mahaluas, kemudian beriman kepada-Nya. Guna memperkuat iman
yang tumbuh di hati seseorang, Allah Swt memerintahkan orang itu agar
menunaikan shalat khusus, yaitu shalat gerhana. Mayoritas ulama sepakat bahwa
shalat gerhana bernilai hukum sunnat mu’akkad - anjuran yang disertai
dorongan kuat agar orang mengerjakannya.
Untuk apa Allah mendorong manusia supaya beriman kepada-Nya? Untuk
kebaikannya sendiri. Dengan iman yang kuat orang akan merasakan ketenteraman
yang sejati. Dia tenteram karena yakin bahwa segala sesuatu berlangsung karena
ketetapan Allah, dan setiap ketetapan Allah pasti baik bagi dirinya. Dia
tenteram karena sadar bahwa bahaya apapun yang mengancam pasti dapat diatasinya
dengan pertolongan Allah. Dia menjadi tenteram ketika tawakkal ‘alallah
- berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Orang yang tenteram hatinya tidak akan
mengikuti hawa nafsu sehingga melakukan hal-hal yang melewati batas sampai
melanggar ketetapan Allah. Orang yang tenteram akan tunduk patuh kepada Allah
dengan sukarela dan gembira. Maka orang yang tenteram hatinya akan selalu
meniti shirathal-mustaqim - jalan yang lurus sesuai keterangan dan petunjuk
Allah Swt. Maka Allah ridha kepadanya dan akan menempatkan dia kelak di
akhirat, di jannatun na’im - surga yang penuh kenikmatan. Itu karena
Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri sebagai Pemberi rahmah kepada
hamba-hamba-Nya (QS Al-An’am 6:12).
Tentu saja iman yang mengangkat derajat seseorang ke tingkat tinggi di
hadapan Allah Swt, dan yang memberikan kepadanya kenikmatan sejati, bukanlah
iman dalam arti sekedar percaya bahwa Allah itu ada. Kalau hanya itu iblispun
percaya. Bukankah dia termasuk makhluk yang sempat berdialog langsung dengan
Allah? (QS Al-A’raaf 7: 11-18). Iman adalah yakin sepenuh hati kepada Allah
sebagai Pencipta, Pengatur dan Pembina segala sesuatu, yang Maha Bijaksana dan
Maha Baik, sehingga orang yang beriman bergetar hatinya tatkala mendengar
Nama-Nya disebut, dan imannya itu semakin menebal ketika dia mendengarkan
ayat-ayat Al-Qur’an dibaca. (QS Al-Anfaal 9: 2). Orang yang beriman adalah
orang yang percaya kepada Allah dan kebenaran yang disampaikan oleh Rasul-Nya
Muhammad Saw, kemudian dia tidak ragu-ragu lagi dengan keyakinannya itu,
sehingga siap sedia berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Orang
yang demikian itulah yang benar pernyataan imannya (QS Al-Hujuraat 49:15).
Sekarang setelah menyaksikan gerhana bulan - dengan penglihatan atau dengan
ilmu - sepatutnya kita muhasabah, introspeksi, memeriksa diri sendiri,
sampai sejauh mana iman menetap mantap di dalam qalbu kita. Kalau kita merasa
belum kokoh, kita berusaha memperkuatnya secara terus menerus. Kalau kita
merasa iman kita sudah cukup kuat, kita pertahankan dengan meningkatkan ibadah
dan amal saleh, baik kuantitas maupun kualitasnya. Sudah tentu untuk itu
kita berhadapan dengan syaitan, yang telah berjanji di hadapan Allah untuk
menggoda kita, membujuk kita, menyelewengkan kita agar ke luar dari jalan Allah
yang lurus dan berpindah ke jalan sesat. (QS Al-A’raf 7: 16-17). Untuk
menghadapi syeitan itu kita dampingi ikhtiar kita dengan do’a kepada Allah Swt,
semoga Dia berkenan mencurahkan rahmah, taufiq dan hidayah-Nya yang agung. Amin
ya Rabbal ‘alamin.
Sakib Machmud
No.
229
Bagus sekali,trimakasih om pencerahannya.
BalasHapus