Kamis, 25 September 2014

DULU AL-QAIDA SEKARANG ISIS, WASPADALAH!

Pada akhir bulan Mei 2014, dunia internasional dikejutkan oleh pengumuman  dari Syaikh Abu Muhammad Al-Adnaniy-As-Syamiy, juru bicara gerakan bersenjata yang menamakan dirinya ISLAMIC STATE IN IRAQ AND SYRIA (ISIS) tentang telah berdirinya Khilafah Islamiyah - pemerintahan Islam, yaitu kelompok teroris yang saat ini mengendalikan beberapa daerah di Irak Utara dan Barat Laut. Mosul, kota yang terletak di provinsi Neniveh, dicaplok ISIS pada bulan Juni 2014, dan disusul dengan deklarasi pemerintahan Islam dengan Abu Bakar Al-Baghdadiy sebagai pemimpin (khalifah) nya.

Kalau dulu ada Al-Qaida yang dipimpin Usamah Bin Ladin yang meninggal pada bulan Mei 2011 oleh berondongan peluru tentara Amerika Serikat di Pakistan, maka sekarang kita dihadapkan pada ISIS. Al-Mustaqiim memang tidak pernah menampilkan tulisan khusus tentang Al-Qaida, karena sudah banyak dan sudah lama diketahui oleh masyarakat internasional termasuk Indonesia.  

ISIS adalah organisasi teroris trans-nasional yang kini tengah beroperasi di Irak dan Suriah. Dalam aksinya, mereka melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan seperti membantai dan menyiksa rakyat sipil dan mempertontonkannya di depan kamera. Selain itu, ISIS juga melakukan penindasan terhadap pemeluk agama Kristen di Irak. Diberitakan bahwa Perdana Menteri Irak mengutuk keras tindakan ISIS yang mengancam keberadaan kaum Kristen yang telah berabad-abad lamanya hidup di kawasan Irak. Demikian pula kecaman juga datang dari negara-negara Muslim bukan saja di Timur Tengah, melainkan juga hampir seluruh dunia.  

Gerakan ISIS ini berimajinisi mengembalikan kejayaan kekhilafahan Islam di masa lalu. Nama Khilafah Islamiyah merujuk pada sebuah imperium yang dibangun sejak masa Abu Bakr Ash-Shiddiq sampai masa Kekhilafahan Turki Ottoman, yang runtuh di awal abad 20. Namun, berbeda dengan bangunan kekhilafahan era Khulafa-ur-Rasyidin saat Abu Bakr Ash-Shiddiq pertama kali diba’iat, yang berbasis pada transisi dan pergantian kepemimpinan secara damai dari Nabi Muhammad Saw, kekhilafahan Islamiyah model ISIS hadir dari kecamuk perang antar faksi-faksi ummat Islam di sekitar Irak dan Syria.

ISIS pada awalnya merupakan bagian dari faksi militer Al-Qaeda yang membelot. Abu Bakr Al-Baghdadiy merupakan tokoh penting Al-Qaeda yang kemudian mengorganisasikan sebuah kekuatan milisi bersenjata bernama ISIS. Kemahirannya dalam pengorganisasian membuat Al-Baghdadiy sanggup menjadikan ISIS sebagai faksi bersenjata yang sangat disegani, bahkan Al-Qaeda sendiri tak sanggup menghadapinya.

Anggota utama dari pasukan yang diorganisir oleh ISIS adalah faksi-faksi militer yang bersimpati dengan perjuangan Al-Qaeda. Beberapa simpatisan Ikhwanul-Muslimin, Hizbut Tahrir, dan Salafy secara personal - yang mempunyai visi sama - dibeitakan juga merupakan anggota dari ISIS. Meskipun demikian, sejauh ini, tidak ada pernyataan terbuka dari Ikhwanul Muslimin dan Salafy untuk mendukung berdirinya Khilafah Islamiyah versi ISIS itu. Bahkan, melalui rilis di website-nya, Hizbut Tahrir secara terbuka mengutuk pendirian Khilafah Islamiyah versi ISIS, menganggap bahwa pendiriannya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah syar’i.

ISIS  di Indonesia

Di Indonesia, dukungan secara resmi justru muncul dari jejaring Islam yang berafiliasi dengan Jama’ah Islamiyah (JI) seperti Korps Mubaligh Jakarta (KMJ) dan Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT). Patut dicatat, KMJ dan JAT adalah dua organisasi yang secara terang-terangan memggugat karikatur The Jakarta Post yang mengkritik kebiadaban ISIS. Aksi-aksi kekerasan dan kekejaman oleh ISIS banyak diunggah di dunia maya oleh anggotanya sendiri. Kekejaman ISIS inil merupakan sasaran kritik dari karikatur The Jakarta Post edisi 3 Juli 2014. Karikatur itu sejatinya adalah copy-paste dari media Al-Quds Al-Arabiya yang mempublikasikan karikatur yang sama pada tanggal 30 Juni 2014. Artinya, di Timur-Tengah sendiri, ISIS juga dikritik. Meskipun, secara terbuka The Jakarta Post telah memintaa maaf dan mencabut karikatur itu.

Satu tokoh penting dari lingkaran dalam Jama’ah Islamiyah Abubakar Ba’asyir yang konon secara terbuka telah memberi dukungan atas berdirinya khilafah Islamiyah versi ISIS itu, meskipun secara terbuka ia juga membantahnya. Dari penjara Nusa Kambangan, melalui juru bicaranya, Abu Bakar Ba’asyir memberi dukungan terbuka, tetapi belum memberi ba’iat terhadap Khalifah Abu Bakar Al-Baghdadiy. Di samping itu, kampanye-kampanye untuk menyosialisasikan dan mendukung berdi-rinya khilafah Islamiyah itu sangat masif dilakukan di Indonesia. Simpul-simpul gerakan ini meliputi Ciputat, Bandung, Bogor, Solo, Yogya, Surabaya, Malang, dan bahkan sampai Nusa Tenggara Barat.

Melihat gerakan yang sangat masif itu, potensi menjamurnya dukungan terhadap Khilafah Islamiyah versi ISIS sangat kuat terjadi di Indonesia. Adalah wajar, jika kemudian, ternyata anggota dari milisi bersenjata ISIS merupakan orang-orang Indonesia. Majalah TIME (17-6-2014) pernah melaporkan bahwa sebagian besar anggota ISIS bukanlah orang-orang Timur-Tengah, Uzbekistan, atau Checnya melainkan orang-orang dari Indonesia.

Hal ini berarti, meskipun gerakan terorisme telah diperangi secara masif di Indonesia oleh Densus 88, namun aliansi antara gerakan fundamentalisme Islam radikal di Indonesia dengan Timur-Tengah belum terputus, eksodus migrasi para pejuang jihad dari Indonesia ke wilayah-wilayah konflik di Timur-Tengah masih terus terjadi. Indonesia adalah wilayah subur kaderisasi pejuang jihad, dipimpin oleh Bachrumsyah, yang disebut pernah kuliah di Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta, pada tahun 2004. Namun, pendidikan itu gagal diselesaikan. Bachrumsyah drop out setelah menjalani pendidikan selama dua semester.

Fundamentalisme Islam

Ideologi yang dibawa oleh ISIS adalah fundamentalisme Islam yang ekslusif, mengabaikan aspek inklusifisme dan acuh terhadap keragaman. ISIS memimpikan hadirnya Pan-Islamisme Raya di dunia. Irak, Syria dan sekitarnya dijadikan basis utama gerakan ini. ISIS - sama dengan Hizbut Tahrir - menentang keras demokrasi dan nasionalisme yang dianggapnya sebagai taghut, berhala terkutuk yang harus dilawan. Bahkan dalam berbagai aksinya ISIS tidak segan membunuh siapa saja yang menentang cita-cita ideal yang diimpikannya. Waspadalah!

Perlu kita ketahui bahwa Rasulullah Saw tidak pernah menganjurkan untuk mendirikan negara Islam, melainkan menyatakan negara dibentuk bukan hanya untuk orang-orang Islam, meskipun beliau menge-nalkan suatu sistem Khilafah Islamiyah, untuk mengatur ummat Islam menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam. Ketika Rasul-Allah membangun Khilafah Islamiyah di kota Madinah, beliau tidak mengemukakan satu bentuk pemerintahan politik standar yang harus diikuti oleh para penerusnya kemudian. Khilafah Islamiyah harus didirikan melalui ijtihad politik para ulama sepeninggal Rasul. Para khalifah; Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, masing-masing terpilih melalui mekanisme yang berbeda-beda, namun tidak ada satu kekerasan apapun yang dilakukan dalam menegakkan syiar Islam. 

Ideologi ISIS yang anti-dialog dan mengembangkan sudut pandang Islamisme sempit sangat bertentangan dengan cita-ideal bangsa Indonesia. Para pendiri bangsa memimpikan Indonesia menjadi bangsa yang majemuk, bangsa yang internasional. Sebaliknya, ISIS menghadirkan konsep homogenisasi kebangsaan melalui Islamisme. Jika di Indonesia yang menjadi ikatan pemersatu kebangsaan adalah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, maka ISIS memimpikan Islam sebagai pengikat kebangsaan. Sehingga gagasan ISIS jelas sangat bertentangan dengan keIndonesiaan. ISIS adalah anti-thesis dari keIndonesiaan.

Masalahnya, di tingkat akar rumput, gagasan model ISIS ini mudah berkembang pesat, karena tidak sedikit para ustadz yang mempunyai sudut-pandang Islamisme dan anti-Pancasila bertebaran di kampung-kampung dan sudut-sudut kota. Pengajian-pengajian yang mendiskreditkan Pancasila masih sering terdengar, meskipun tidak dilakukan secara terbuka.

Perlu digarisbawahi bahwa musuh terbesar Pancasilai adalah Islamisme. Mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam yang sangat besar, maka setiap usaha provokasi untuk menumbangkan Pancasilai dan menggantikannya dengan Islam akan mudah direspon, terutama oleh anak-anak muda. Lebih lagi, di saat yang sama, kemiskinan dan ketidakadilan begitu masif di Indonesia. Isu-isu  ketidakadilan menjadi ‘pemantik api’ yang tepat untuk menawarkan ‘surga’ bagi mereka yang miskin.

Meghadapi ISIS 

Sikap paling bijaksana menghadapi berkembang-biaknya gagasan fundamentalisme agama berbasis Islam ini, bukanlah dengan cara kekerasan atau intimidasi. Kekerasan dan intimidasi justru memperkuat militansi dan wacana yang mereka bangun. Kita lihat misalnya pendekatan kekerasan yang dilakukan oleh Densus 88 tidak serta-merta mengeliminasi cara-pandang Islamisme yang sesat ini. Densus 88 sekarang di satu sisi didukung masyarakat karena terus memberantas gerakan terorisme, di sisi lain juga dimusuhi sebagian masyarakat yang lain karena tindakan-tindakannya yang terkadang tidak transparan. Maka cara terbaik menghadapi berkembang-biaknya ideologi Islamisme ini adalah dengan melawan wacana Islamisme yaitu dengan wacana Pancasilaisme. Hal ini penting dilakukan untuk memantapkan falsafah Pancasila sebagai dasar negara, terutama pada kalangan kaum muda. Hancurnya karakter kebangsaan di kalangan kaum muda, disebabkan karena Pancasila tidak lagi disosialisasikan secara masif. Kalaupun ada sosialisasi tentang Pancasila, itu dilakukan hanya dalam bentuk seremonial, tanpa ada pemahaman dan pemaknaan yang mendalam. Meminjam istilah BJ Habibie, Pancasila hanya akan menjadi ornamen sejarah.

Karena itulah JSM mengedepankan Sepuluh Prinsip Membangun Masyarakat Islami (SPMMI) sebagai jawaban untuk memudahkan memahami Pancasila, karena SPMMI jangkauannya lebih luas daripada Pancasila, yaitu Islam. Dengan SPMMI kita tinggal mencocokkan apakah cara berpikir dan bertindak kita sudah sesuai dengan ajaran Islam atau belum. Untuk memahami SPMMI tidak perlu pendidikan khusus untuk seperti halnya Pancasila yang dulu perlu kita pahami melalui penataran penghayatan Pancasila.  Apakah hasil penataran? Ternyata itu hanyalah seremonial belaka, seperti halnya ceramah-ceramah agama yang merebak dilakukan sekarang ini, tidak berhasil menjadikan ummat menjadi Islami, selain memberikan ilmu yang terkadang terasa terlalu berat. Sementara itu ilmu yang ringan yang diberikan para khatib pada shalat Jum'at pun banyak diabaikan orang, yang dapat kita buktikan dari sebagian jama'ah yang tidur pulas selama khutbah berlangsung. 

Ceramah agama menjadi menarik apabila ada da'i yang pandai ‘melawak’ yang membuat para mad'u (penerima dakwaah) tersenyum gembira. Hal ini sangat berbahaya, apabila ada da'i yang menyusupkan materi ceramahnya tentang ISIS yang dikemas secara menarik. Menurut pengamatan penulis, bangsa Indonesia yang mayoritas ummat Islam ini sangat kurang memiliki kegemaran membaca buku-buku atau tulisan-tulisan tentang agama Islam yang hakiki. Mereka lebih senang mendengarkan ceramah sambil mencari hiburan. Pada umumnya ummat Islam malas menggali khazanah Islam yang hakiki melalui tulisan.

Padahal perintah pertama Allah Swt kepada Rasul-Nya adalah "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.' (QS Al-'Alaq 96: 1) dan kemudian ditegaskan: "Yang mengajari (manusia) dengan perantaraan kalam. (QS Al-'Alaq 96: 4). Kalam dalam ayat ini dapat diartikan sebagai tulis baca. Marilah kita muhasabah dengan jujur dan lebih banyak membaca buku dan tulisan-tulisan tentang Islam yang hakiki agar kita bisa menetapi jalan yang lurus, tidak terpengaruh oleh syeitan-syeitan ISIS dan gerakan Islam radikal lainnya. Kejujuran adalah prinsip ketiga SPMMI sesudah Iman dan Takwa, dan Moral dan Etika.

Terorisme seperti yang dilakukan Al-Qaida, ISIS atau organisasi Islam radikal lainnya di Indonesia sangat jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Allah Swt berfirman: “Bahwasanya agama (yang diridhai) di sisi Allah ialah Islam. Dan tiada berselisih orang-orang yang diberi Kitab (Yahudi dan Nasrani) kecuali setelah datang ilmu (kebenaran tentang Nabi Muhammad) kepada mereka, karena dengki di antara mereka, dan barang siapa yang tidak percaya kepada keterangan-keterangan Allah, maka sesungguhnya Allah itu maha cepat siksa-Nya”. (QS Ali 'Imraan 3: 19). Ayat tersebut menyiratkan bahwa Allah Swt menempatkan ummat Islam pada derajat yang terhormat sebagai pemeluk yang melaksanakan ajaran-ajaran agama yang diridhai-Nya. Kalau kenyataan di dunia Islam berbeda dengan apa yang tersurat dalam petunjuk agama, maka yang salah bukanlah ajaran agamanya, melainkan pelakunya. 

Rasulullah Saw bersabda: “Al-Islam ya’lu wa laa yu’la alaih - Islam itu tinggi, tiada yang dapat menandinginya.” (HR Al-Albani). Namun tingginya Islam tidak diikuti dengan perilaku yang baik oleh seluruh ummatnya, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Muhammad Abduh: “Al-Islam mahjubun bil Muslimin”Keindahan ajaran Islam ditutupi oleh kelakuan sebagian ummat Islam.” Inilah tantangan yang harus kita hadapi, yang tidak kalah penting dibandingkan dengan menghadapi ISIS.

Hermanto Harsolumakso
No. 228

3 komentar:

  1. Teror itu dilarang dalam Islam, tapi mengapa terus saja ada kelompok muslim melakukakan terorisme? Tak tahu malu.

    BalasHapus
  2. Muslim di mana-mana sudah banyak merusak ajaran Allah. Bertobatlah para teroris.

    BalasHapus
  3. Keberadaan organisasi teroris muslim sangat merugikan negara dan ummat muslim, karena dengan dalih menumpas teroris, negara-negara Barat akan semaunya menyerang negara-negara muslim.

    BalasHapus