Pada akhir bulan Mei 2014,
dunia internasional dikejutkan oleh pengumuman dari Syaikh Abu Muhammad
Al-Adnaniy-As-Syamiy, juru bicara gerakan bersenjata yang menamakan dirinya ISLAMIC STATE IN IRAQ AND SYRIA (ISIS) tentang
telah berdirinya Khilafah Islamiyah - pemerintahan Islam, yaitu kelompok
teroris yang saat ini mengendalikan beberapa daerah di Irak Utara dan Barat
Laut. Mosul, kota yang terletak di provinsi Neniveh, dicaplok ISIS pada bulan
Juni 2014, dan disusul dengan deklarasi pemerintahan Islam dengan Abu
Bakar Al-Baghdadiy sebagai pemimpin (khalifah) nya.
Kalau dulu ada Al-Qaida yang dipimpin Usamah
Bin Ladin yang meninggal pada bulan Mei 2011 oleh berondongan peluru tentara
Amerika Serikat di Pakistan, maka sekarang kita dihadapkan pada ISIS.
Al-Mustaqiim memang tidak pernah menampilkan tulisan khusus tentang Al-Qaida,
karena sudah banyak dan sudah lama diketahui oleh masyarakat internasional
termasuk Indonesia.
ISIS adalah organisasi teroris trans-nasional
yang kini tengah beroperasi di Irak dan Suriah. Dalam aksinya, mereka melakukan
berbagai kejahatan kemanusiaan seperti membantai dan menyiksa rakyat sipil dan
mempertontonkannya di depan kamera. Selain itu, ISIS juga melakukan penindasan
terhadap pemeluk agama Kristen di Irak. Diberitakan bahwa Perdana Menteri Irak
mengutuk keras tindakan ISIS yang mengancam keberadaan kaum Kristen yang telah
berabad-abad lamanya hidup di kawasan Irak. Demikian pula kecaman juga datang dari negara-negara Muslim bukan
saja di Timur Tengah, melainkan juga hampir seluruh dunia.
Gerakan ISIS ini berimajinisi mengembalikan
kejayaan kekhilafahan Islam di masa lalu. Nama Khilafah Islamiyah merujuk pada
sebuah imperium yang dibangun sejak masa Abu Bakr Ash-Shiddiq sampai masa
Kekhilafahan Turki Ottoman, yang runtuh di awal abad 20.
Namun, berbeda dengan bangunan kekhilafahan era Khulafa-ur-Rasyidin saat
Abu Bakr Ash-Shiddiq pertama kali diba’iat, yang berbasis pada transisi dan
pergantian kepemimpinan secara damai dari Nabi Muhammad Saw, kekhilafahan Islamiyah
model ISIS hadir dari kecamuk perang antar faksi-faksi ummat Islam di
sekitar Irak dan Syria.
ISIS pada awalnya merupakan bagian dari faksi militer
Al-Qaeda yang membelot. Abu Bakr Al-Baghdadiy merupakan tokoh penting
Al-Qaeda yang kemudian mengorganisasikan sebuah kekuatan milisi
bersenjata bernama ISIS. Kemahirannya dalam pengorganisasian membuat Al-Baghdadiy
sanggup menjadikan ISIS sebagai faksi bersenjata yang sangat disegani, bahkan
Al-Qaeda sendiri tak sanggup menghadapinya.
Anggota utama dari pasukan yang diorganisir
oleh ISIS adalah faksi-faksi militer yang bersimpati dengan perjuangan
Al-Qaeda. Beberapa simpatisan Ikhwanul-Muslimin, Hizbut Tahrir, dan Salafy
secara personal - yang mempunyai visi sama - dibeitakan juga merupakan anggota dari ISIS.
Meskipun demikian, sejauh ini, tidak ada pernyataan terbuka dari Ikhwanul
Muslimin dan Salafy untuk mendukung berdirinya Khilafah Islamiyah versi ISIS
itu. Bahkan, melalui rilis di website-nya, Hizbut Tahrir secara terbuka
mengutuk pendirian Khilafah Islamiyah versi ISIS, menganggap bahwa pendiriannya
tidak sesuai dengan kaidah-kaidah syar’i.
ISIS
di Indonesia
Di Indonesia, dukungan secara resmi justru
muncul dari jejaring Islam yang berafiliasi dengan Jama’ah Islamiyah (JI) seperti
Korps Mubaligh Jakarta (KMJ) dan Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT). Patut dicatat,
KMJ dan JAT adalah dua organisasi yang secara terang-terangan memggugat karikatur
The Jakarta Post yang mengkritik kebiadaban ISIS. Aksi-aksi kekerasan dan kekejaman oleh ISIS banyak diunggah
di dunia maya oleh anggotanya sendiri. Kekejaman ISIS inil merupakan sasaran
kritik dari karikatur The Jakarta Post edisi 3 Juli 2014. Karikatur itu
sejatinya adalah copy-paste dari media Al-Quds Al-Arabiya yang mempublikasikan
karikatur yang sama pada tanggal 30 Juni 2014. Artinya, di Timur-Tengah
sendiri, ISIS juga dikritik. Meskipun, secara terbuka The Jakarta Post
telah memintaa maaf dan mencabut karikatur itu.
Satu tokoh penting dari lingkaran dalam Jama’ah
Islamiyah Abubakar Ba’asyir yang konon secara terbuka telah memberi dukungan
atas berdirinya khilafah Islamiyah versi ISIS itu, meskipun secara terbuka ia
juga membantahnya. Dari penjara Nusa Kambangan, melalui juru bicaranya, Abu
Bakar Ba’asyir memberi dukungan terbuka, tetapi belum memberi ba’iat terhadap
Khalifah Abu Bakar Al-Baghdadiy. Di samping itu, kampanye-kampanye untuk
menyosialisasikan dan mendukung berdi-rinya khilafah Islamiyah itu sangat masif
dilakukan di Indonesia. Simpul-simpul gerakan ini meliputi Ciputat,
Bandung, Bogor, Solo, Yogya, Surabaya, Malang, dan bahkan sampai Nusa Tenggara
Barat.
Melihat gerakan yang sangat masif itu,
potensi menjamurnya dukungan terhadap Khilafah Islamiyah versi ISIS sangat kuat
terjadi di Indonesia. Adalah wajar, jika kemudian, ternyata anggota dari milisi
bersenjata ISIS merupakan orang-orang Indonesia. Majalah TIME (17-6-2014)
pernah melaporkan bahwa sebagian besar anggota ISIS bukanlah orang-orang
Timur-Tengah, Uzbekistan, atau Checnya melainkan orang-orang dari Indonesia.
Hal ini berarti, meskipun gerakan terorisme
telah diperangi secara masif di Indonesia oleh Densus 88, namun aliansi antara
gerakan fundamentalisme Islam radikal di Indonesia dengan Timur-Tengah belum
terputus, eksodus migrasi para pejuang jihad dari Indonesia ke wilayah-wilayah
konflik di Timur-Tengah masih terus terjadi. Indonesia adalah wilayah subur
kaderisasi pejuang jihad, dipimpin oleh Bachrumsyah, yang disebut pernah kuliah
di Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta, pada
tahun 2004. Namun, pendidikan itu gagal diselesaikan. Bachrumsyah drop
out setelah menjalani pendidikan selama dua semester.
Fundamentalisme
Islam
Ideologi yang dibawa oleh ISIS adalah
fundamentalisme Islam yang ekslusif, mengabaikan aspek inklusifisme dan acuh
terhadap keragaman. ISIS memimpikan hadirnya Pan-Islamisme Raya di dunia.
Irak, Syria dan sekitarnya dijadikan basis utama gerakan ini. ISIS - sama
dengan Hizbut Tahrir - menentang keras demokrasi dan nasionalisme yang
dianggapnya sebagai taghut, berhala terkutuk yang harus dilawan. Bahkan
dalam berbagai aksinya ISIS tidak segan membunuh siapa saja yang menentang cita-cita ideal yang diimpikannya.
Waspadalah!
Perlu kita ketahui bahwa Rasulullah Saw tidak
pernah menganjurkan untuk mendirikan negara Islam, melainkan menyatakan negara
dibentuk bukan hanya untuk orang-orang Islam, meskipun beliau menge-nalkan
suatu sistem Khilafah Islamiyah, untuk mengatur ummat Islam menegakkan syariat
Islam dan mengemban dakwah Islam. Ketika Rasul-Allah membangun Khilafah
Islamiyah di kota Madinah, beliau tidak mengemukakan satu bentuk pemerintahan
politik standar yang harus diikuti oleh para penerusnya kemudian. Khilafah
Islamiyah harus didirikan melalui ijtihad politik para ulama sepeninggal Rasul.
Para khalifah; Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali
bin Abi Thalib, masing-masing terpilih melalui mekanisme yang berbeda-beda,
namun tidak ada satu kekerasan apapun yang dilakukan dalam menegakkan syiar
Islam.
Ideologi ISIS yang anti-dialog dan
mengembangkan sudut pandang Islamisme sempit sangat bertentangan dengan
cita-ideal bangsa Indonesia. Para pendiri bangsa memimpikan Indonesia menjadi
bangsa yang majemuk, bangsa yang internasional. Sebaliknya, ISIS menghadirkan konsep homogenisasi kebangsaan
melalui Islamisme. Jika di Indonesia yang menjadi ikatan pemersatu kebangsaan
adalah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, maka ISIS memimpikan Islam sebagai
pengikat kebangsaan. Sehingga gagasan ISIS jelas sangat bertentangan dengan
keIndonesiaan. ISIS adalah anti-thesis dari keIndonesiaan.
Masalahnya, di tingkat akar rumput, gagasan model
ISIS ini mudah berkembang pesat, karena tidak sedikit para ustadz yang mempunyai
sudut-pandang Islamisme dan anti-Pancasila bertebaran di kampung-kampung dan
sudut-sudut kota. Pengajian-pengajian yang mendiskreditkan Pancasila masih sering
terdengar, meskipun tidak dilakukan secara terbuka.
Perlu digarisbawahi bahwa musuh terbesar
Pancasilai adalah Islamisme. Mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk
Islam yang sangat besar, maka setiap usaha provokasi untuk menumbangkan
Pancasilai dan menggantikannya dengan Islam akan mudah direspon, terutama oleh
anak-anak muda. Lebih lagi, di saat yang sama, kemiskinan dan ketidakadilan begitu masif di Indonesia. Isu-isu ketidakadilan menjadi ‘pemantik api’ yang tepat untuk
menawarkan ‘surga’ bagi mereka yang miskin.
Meghadapi ISIS
Sikap paling bijaksana menghadapi berkembang-biaknya
gagasan fundamentalisme agama berbasis Islam ini, bukanlah dengan cara kekerasan
atau intimidasi. Kekerasan dan intimidasi justru memperkuat militansi dan
wacana yang mereka bangun. Kita lihat misalnya pendekatan kekerasan yang dilakukan
oleh Densus 88 tidak serta-merta mengeliminasi cara-pandang Islamisme yang sesat ini.
Densus 88 sekarang di satu sisi didukung masyarakat karena terus memberantas gerakan terorisme, di sisi lain juga dimusuhi
sebagian masyarakat yang lain karena tindakan-tindakannya yang terkadang tidak
transparan. Maka cara terbaik menghadapi berkembang-biaknya ideologi Islamisme ini
adalah dengan melawan wacana Islamisme yaitu dengan wacana Pancasilaisme. Hal
ini penting dilakukan untuk memantapkan falsafah Pancasila sebagai dasar
negara, terutama pada kalangan kaum muda. Hancurnya karakter kebangsaan di
kalangan kaum muda, disebabkan karena Pancasila tidak lagi disosialisasikan secara
masif. Kalaupun ada sosialisasi tentang Pancasila, itu dilakukan hanya dalam
bentuk seremonial, tanpa ada pemahaman dan pemaknaan yang mendalam. Meminjam
istilah BJ Habibie, Pancasila hanya akan menjadi ornamen sejarah.
Karena itulah JSM mengedepankan Sepuluh
Prinsip Membangun Masyarakat Islami (SPMMI) sebagai jawaban untuk memudahkan
memahami Pancasila, karena SPMMI jangkauannya lebih luas daripada Pancasila,
yaitu Islam. Dengan SPMMI kita tinggal mencocokkan apakah cara berpikir dan
bertindak kita sudah sesuai dengan ajaran Islam atau belum. Untuk memahami SPMMI tidak perlu
pendidikan khusus untuk seperti halnya Pancasila yang dulu
perlu kita pahami melalui penataran penghayatan Pancasila. Apakah hasil
penataran? Ternyata itu hanyalah seremonial belaka, seperti halnya
ceramah-ceramah agama yang merebak dilakukan sekarang ini, tidak berhasil
menjadikan ummat menjadi Islami, selain memberikan ilmu yang terkadang terasa
terlalu berat. Sementara itu ilmu yang ringan yang diberikan para khatib pada
shalat Jum'at pun banyak diabaikan orang, yang dapat kita buktikan dari
sebagian jama'ah yang tidur pulas selama khutbah berlangsung.
Ceramah agama menjadi menarik apabila ada da'i
yang pandai ‘melawak’ yang membuat para mad'u (penerima dakwaah)
tersenyum gembira. Hal ini sangat berbahaya, apabila ada da'i yang
menyusupkan materi ceramahnya tentang ISIS yang dikemas secara menarik. Menurut
pengamatan penulis, bangsa Indonesia yang mayoritas ummat Islam ini sangat
kurang memiliki kegemaran membaca buku-buku atau tulisan-tulisan tentang agama Islam yang hakiki.
Mereka lebih senang mendengarkan ceramah sambil mencari hiburan. Pada umumnya ummat
Islam malas menggali khazanah Islam yang hakiki melalui tulisan.
Padahal perintah pertama Allah Swt kepada
Rasul-Nya adalah "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan.' (QS Al-'Alaq 96: 1) dan kemudian ditegaskan: "Yang
mengajari (manusia) dengan perantaraan kalam. (QS Al-'Alaq 96: 4). Kalam
dalam ayat ini dapat diartikan sebagai tulis baca. Marilah kita muhasabah
dengan jujur dan lebih banyak membaca buku dan tulisan-tulisan tentang Islam
yang hakiki agar kita bisa menetapi jalan yang lurus, tidak terpengaruh oleh
syeitan-syeitan ISIS dan gerakan Islam radikal lainnya. Kejujuran adalah
prinsip ketiga SPMMI sesudah Iman dan Takwa, dan Moral dan Etika.
Terorisme seperti yang dilakukan Al-Qaida,
ISIS atau organisasi Islam radikal lainnya di Indonesia sangat jelas
bertentangan dengan ajaran Islam. Allah Swt berfirman: “Bahwasanya agama (yang diridhai) di sisi Allah ialah Islam. Dan tiada
berselisih orang-orang yang diberi Kitab (Yahudi dan Nasrani) kecuali setelah
datang ilmu (kebenaran tentang Nabi Muhammad) kepada mereka, karena dengki di
antara mereka, dan barang siapa yang tidak percaya kepada keterangan-keterangan
Allah, maka sesungguhnya Allah itu maha cepat siksa-Nya”. (QS Ali
'Imraan 3: 19). Ayat tersebut menyiratkan bahwa Allah Swt menempatkan ummat
Islam pada derajat yang terhormat sebagai pemeluk yang melaksanakan
ajaran-ajaran agama yang diridhai-Nya. Kalau kenyataan di dunia Islam berbeda
dengan apa yang tersurat dalam petunjuk agama, maka yang salah bukanlah ajaran
agamanya, melainkan pelakunya.
Rasulullah Saw bersabda: “Al-Islam ya’lu
wa laa yu’la alaih - Islam itu tinggi, tiada yang dapat menandinginya.”
(HR Al-Albani). Namun tingginya Islam tidak diikuti dengan perilaku
yang baik oleh seluruh ummatnya, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Muhammad Abduh: “Al-Islam
mahjubun bil Muslimin” - Keindahan ajaran Islam ditutupi oleh kelakuan
sebagian ummat Islam.” Inilah tantangan yang harus kita hadapi, yang
tidak kalah penting dibandingkan dengan menghadapi ISIS.
Hermanto Harsolumakso
No. 228
Teror itu dilarang dalam Islam, tapi mengapa terus saja ada kelompok muslim melakukakan terorisme? Tak tahu malu.
BalasHapusMuslim di mana-mana sudah banyak merusak ajaran Allah. Bertobatlah para teroris.
BalasHapusKeberadaan organisasi teroris muslim sangat merugikan negara dan ummat muslim, karena dengan dalih menumpas teroris, negara-negara Barat akan semaunya menyerang negara-negara muslim.
BalasHapus