Selasa, 10 Juni 2014

NIKMATNYA BERDEKATAN DENGAN ALLAH

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ﴿١٨٦﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apa bila dia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada di dalam kebenaran.’
Ayat 186 surah Al-Baqarah yang baru kita baca tadi, berada di tengah pembicaraan tentang puasa. Ayat 183 sampai dengan 185 surah tersebut memberi keterangan tentang puasa Ramadhan, begitu pula ayat 187 surah ini. Tetapi bila kita membaca sekilas, makna ayat tersebut seakan-akan tidak ada hubungannya dengan puasa. Anggapan demikian itu tentu saja tidak benar. Peletakan ayat di dalam Al-Quran pasti bukan acak dan bukan kebetulan. Ayat tersebut  memang berkenaan dengan orang-orang yang menunaikan puasa, yang dibicarakan pada ayat sebelum dan sesudahnya. Mereka yang menunaikan puasa Ramadhan dengan sungguh-sungguh sesuai perintah agama disebut hamba Allah. Sebenarnya semua orang adalah hamba Allah; dia lahir atas kehendak Allah, mengalami kehidupan dunia sesuai dengan ketetapan Allah, dan mati pada saat yang ditetapkan Allah. Tetapi ulama tafsir membedakan dua istilah untuk hamba Allah ini, yang sama-sama terdapat di dalam Al-Quran. Yang pertama adalah 'abiid dan yang kedua 'ibaad. Yang disebut 'abiid adalah semua orang, mukmin maupun kafir. Sedangkan 'ibaad adalah manusia yang baik yaitu yang tunduk dan patuh kepada Allah dengan sadar dan sukarela. Golongan inilah yang dibicarakan pada ayat 186 surah Al-Baqarah
Orang yang menunaikan puasa dengan tulus dan penuh kesungguhan adalah hamba-hamba yang baik. Maka Allah Swt membicarakan mereka pada ayat tadi dengan kata-kata yang sangat indah. "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu wahai Rasul, tentang Daku, jawablah bahwa Aku sangat dekat kepada mereka!". Pernyataan ini tentunya menyentuh perasaan orang-orang beriman, dengan sentuhan yang lembut membahagiakan. Allah sangat dekat berarti perlindungan-Nya sangat dekat, dan pertolongan-Nya sangat dekat, dan karunia-karunia-Nya sangat dekat. Maka hati orang-orang yang yakin akan pernyataan ini akan tenteram, jauh dari rasa resah dan gelisah. Dia tahu bahwa dengan pertolongan Allah tidak akan ada bahaya yang tak terbentengi, tidak ada kesulitan yang tak teratasi, tidak ada kekurangan yang tak terisi.
Dekatnya Allah berarti pula dekatnya petunjuk kepada kebenaran, sekaligus semangat untuk menuju kebenaran. Maka orang yang beriman dapat dengan mudah dan senang meniti jalan kebenaran, yang menyelamatkan hidupnya di dunia, dan mengantarnya menuju kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Demikianlah firman Allah pada pangkal ayat yang kita telaah ini menyentuh hati sampai ke hulu dengan cinta kasih-Nya yang agung tak berbatas. Sesungguhnya Allah senantiasa dekat kepada hamba-Nya, namun banyak hamba yang tidak menyadarinya. Maka hanya orang-orang yang berusaha mendekatkan dirilah yang menghayati betapa dekatnya Allah kepadanya. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt berfirman: "Apabila seorang hamba datang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika dia mendekati-Ku sehasta Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari". (HR Al-Bukhari dan At-Thabbrani dari Salman Ra).
 Tentang wujud nyata dari dekatnya Allah tersebut, ayat tadi selanjutnya menyatakan: أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ  – Aku pasti mengabulkan permohonan orang yang berdo'a, apabila dia memohon (langsung) kepada-Ku. Demikianlah janji Allah Swt, yang tentu saja sangat indah dalam pendengaran orang yang beriman. Janji ini sekaligus merupakan dorongan bagi orang-orang yang berpuasa Ramadhan, agar mengisi masa Ramadhannya dengan memperbanyak do'a. Ramadhan adalah syahrur rahmah - bulan yang penuh rahmah. Kasih sayang Allah tercurah deras pada bulan ini bagi hamba-hamba-Nya yang saleh. Maka alangkah sayangnya bila seorang hamba lalai berdo'a, tidak memanfaatkan hati-hari Ramadhan untuk memohon apa saja yang baik bagi dirinya, bagi keluarganya, bagi masyarakatnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad kita baca sabda Rasulullah Saw: "Ada tiga golongan yang tidak akan ditolak do'anya: Orang yang berpuasa sampai dia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya. Allah Swt mengangkat do'anya ke atas awan, membuka pintu-pintu langit seraya berfirman: Demi kebesaran-Ku., pasti Aku akan menolong kamu walaupun telah berlalu suatu waktu".  (HR Ahmad, an-Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Tetapi orang-orang yang berdo'a tentu harus memenuhi kewajiban-kewjibannya kepada Allah yang kepada-Nya mereka berdo'a. Maka bagian akhir dari ayat 186 surah Al-Baqarah menyatakan: فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ - - Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada di dalam kebenaran.’ Orang yang pantas diterima do'anya ialah yang merealisasikan imannya kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya, baik yang berkenaan dengan aktivitas mahdhoh (ritual) maupun mu'amalah (kewajiban sosial).  Demikianlah orang-orang yang berpuasa Ramadhan mendapat undangan Allah untuk berdo'a dan berdo'a. Di antara berbagai do'a yang dapat disampaikan, yang terpenting dan tidak boleh dilupakan adalah: memohon ampunan dan memohon petunjuk.
Ampunan Allah sangat penting bagi manusia, karena sesungguhnya setiap orang itu dari saat ke saat senantiasa berbuat kesalahan dan menumpuk dosa. Sekiranya dosa-dosa itu terbawa mati tanpa dihapuskan terlebih dahulu, niscaya penyandangnya akan menderita berat di hari Kiamat. Dia akan berjalan terbungkuk-bungkuk memikul dosanya, kemudian terseret oleh dosa-dosa-nya itu ke neraka Jahanam. Bersyukurlah kita manusia, karena Allah Swt berkenan menetapkan berbagai prosedur bagi kita untuk memperoleh pengampunan. “Allah adalah Ghafurur Rahim - Mahapengampun lagi Maha Penyayang.” Dia adalah “Al-Tawwaabur RahimMaha penerima taubat lagi Maha penyayang. Bila Allah mengampuni dosa seseorang, hapuslah semua dosanya dan bersihlah dia dari noda-noda yang melekat dalam jiwanya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman: "Apabila seorang hamba datang kepada-Ku untuk memohon ampunan. Dia menengadahkan tangannya dan di atas tangan itu bertumpuk dosa-dosa yang begitu banyak sampai ujungnya menyentuh langit, asalkan dia datang dengan penuh penyesalan, niscaya Aku anugerahi dia ampunan sebanyak yang dia perlukan!.’ Maka hendaknya setiap Mukmin memohon ampunan Allah, terutama pada bulan Ramadhan yang mulia. Rasulullah Saw bersabda: "Barangaiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman, dan dia senantiasa merenungkan rahmat kenikmatan Allah kepadanya, niscaya diampuni segala dosanya di masa lalu". Orang yang diampuni dosa-dosanya akan ke luar dari bulan Ramadhan dalam keadaan ‘Idul fitri, kembali kepada fitrah, suci bersih seperti pada saat dilahirkan.
Memohon petunjuk kepada Allah, adalah sisi lain yang sama pentingnya dengan memohon ampunan. Dalam kehidupan dunia ini ada dua jalan yang bisa ditempuh manusia, yakni jalan kebenaran dan jalan sesat (QS 91 As-Syams:8). Setiap orang ingin berada di jalan benar, akan tetapi banyak yang termangu ketika di hadapannya terdapat bermacam-macam jalan. Setan datang kepadanya dengan wajah ramah, menawarkan jalan sesat dengan cara yang menarik, dan dengan bujuk rayu memalingkan orang sehingga tidak mampu melihat petunjuk kebenaran, padahal petunjuk itu jelas terpampang di depan matanya. Pada saat itu banyak orang terbawa dan memasuki jalan sesat. Setan terus mendampingi orang tersebut, memberinya kesenangan-kesenangan semu, dan membuat dia lupa kepada tujuan. Maka sekali orang salah melangkah, sulit baginya untuk surut kembali kepada jalan yang benar. Itulah sebabnya orang perlu memohon petunjuk Allah Swt. Surah pertama yang tercantum dalam mushaf yaitu Al-Faatihah telah memberi contoh permohonan:  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – tunjukilah kami ya Allah, kepada jalan yang lurus. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ – yaitu jalan yang ditempuh orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ – bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat. Jalan yang benar adalah jalan yang menuju kebahagiaan hakiki, sedangkan jalan sesat adalah jalan yang di ujungnya terdapat kesengsaraan abadi. Maka memohon petunjuk kepada kebenaran sungguh-sungguh sangat penting bagi manusia, untuk kebaikannya sendiri.
Setelah menyatakan bahwa Allah sangat dekat kepada hamba-Nya, dan setelah menegaskan bahwa Dia berkenan mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya yang saleh, ayat tadi kemudian menyatakan: فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ  - maka penuhilah seruan-seruan-Ku, dan berimanlah kepada-Ku, agar mereka senantiasa berada di jalan kebenaran.” Pada dasarnya, meskipun rahmah Allah tercurah pada bulan Ramadhan, meskipun ampunan Allah tersedia tanpa batas, akan tetapi toh tidak semua orang menerimanya. Anugerah-anugerah besar itu tidak diberikan cuma-cuma kepada orang yang numpang lewat di bulan suci ini. Anugerah Allah diberikan kepada mereka yang dengan sungguh-sungguh berusaha untuk memperolehnya. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan ibadah dengan khusyu’, beramal shaleh dengan tulus atas dasar iman yang kokoh kuat kepada Allah Swt. Rasulullah Saw pernah mengingatkan: “Rubba shooimin laisa lahu min shiyamihi illal juu’ wal a’aths - banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.’ Maka ujung ayat 186 surah Al-Baqarah ini menyeru manusia agar memenuhi segala perintah Allah, menjauhi segala larangan Allah, mematuhi hukum-hukum Allah. Dengan itu mereka akan berada di jalan kebenaran, selamat di dunia dan bahagia di akhirat.
Ketika tulisan ini ditampilkan di Al-Mustaqiim, kalender menunjuk tanggal 12 Sya'ban tahun 1435 Hijriyah. Ini berarti bahwa bulan Ramadhan akan segera tiba. Rasulullah Saw berulang kali menyatakan keistimewaan bulan itu sebagai masa yang membuka kesempatan bagi orang-orang yang mengharapkan karunia Allah Swt yang agung, untuk memperoleh apa yang diharapkannya itu, bahkan beserta dengan ridha-Nya. Beliau bahkan menyatakan: "Sekiranya orang mengetahui besarnya Rahmah Allah di bulan itu, dia pasti berharap bahwa Ramadhan berlangsung sepanjang tahun." Maka sangat pantas bila sejak saat ini kita benar-benar mempersiapkan diri untuk menyambut hadirnya Ramadhan1435 Hijriyah, dengan membersihkan hati dari segala keinginan yang tidak patut, dan mengisinya dengan amal shaleh yang diperintahkan atau dianjurkan Allah melalui Rasul-Nya, Muhammad Saw. Siapa tahu Ramadhan yang dekat ini, bila Allah berkenan memasukkan kita ke dalamnya, adalah Ramadhan yang terakhir dalam hidup kita.
Sakin Machmud
No. 221

2 komentar: