Selasa, 25 Februari 2014

MENATA KEMBALI BARISAN UMMAT


KEMUNDURAN UMMAT DEWASA INI
Orang sering mengatakan bahwa dewasa ini gambaran tentang masyarakat Islam kita sangat buram. Jumlah kaum muslimin di negeri ini memang masih mayoritas, lebih dari 80%, tetapi tampilan keIslamannya sangat minim. Kita hanya merasakan Islamnya masyarakat Indonesia ketika masjid-masjid dipenuhi jama'ah setiap shalat Jum'at, atau tatkala lapangan-lapangan terbuka penuh orang di waktu menunaikan shalat Id. Di luar itu, nilai, norma dan akhlak Islam senyap, tidak bergema di manapun. Di bidang ekonomi, orang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya; itu dianggapnya sebagai prinsip ekonomi yang universal. Banyak orang Islam yang tidak berpikir sedikitpun bahwa kegiatan ekonomi merupakan bagian dari aktivitas ta’awun – kerjasama anggota masyarakat, yang tentu saja terikat penuh oleh pernyataan Allah: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ – dan bekerja samalah kamu dalam kebaikan dan takwa dan jangan bekerja sama dalam pemusuhan dan dosa (Q.S. Al-Maidah 5: 2). Dalam bidang politik orang berusaha memperoleh kekuasaan, tanpa memedulikan apa yang dia lakukan di dalam proses mendapatkan kekuasaan itu, dan apa yang kemudian dia lakukan dengan kekuasaan yang telah digenggamnya. Dia tidak sempat atau tidak mau memahami bahwa kepemimpinan adalah amanah Allah dan setiap orang akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.
Sungguh tragis, di tengah masyarakat yang mayoritas muslim, orang yang sadar akan keIslamannya justru merasa menjadi ghuraba - orang asing. Dengan hati pilu dia melihat saudara-saudaranya berpesta pora dalam kemudharatan, dan tidak punya daya untuk mencegahnya. Kalau dia bicara orang tidak mau mendengar, kalau dia memberi nasihat yang baik orang menertawakannya. Mengapa demikian?  Karena kekuatan untuk membentuk opini masyarakat, yaitu kekuatan media massa, sekarang ini hampir seluruhnya dipegang oleh orang-orang Barat, atau pengikut Barat yang tidak suka kepada Islam. Maka banyak orang Islam yang tanpa sadar dibawa ke alam pikiran mereka sampai memalingkan diri bahkan memusuhi nilau-nilai Islam sendiri. Lima belas abad yang lalu Rasulullah Saw telah mengingatkan: "Sungguh kamu pasti mengikuti orang-orang yang ada di depanmu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai-sampai kalau orang yang kamu ikuti itu masuk ke dalam liang landak, kamu tetap mengikutinya juga". Banyak orang yang mengidolakan masyarakat Barat, karena mereka menguasai ilmu dan teknologi, maka mereka dianggap modern dalam segala hal, termasuk dalam berpakaian, berperilaku, bermasyarakat. Proses tersebut berlangsung secara pelan-pelan, sampai orang baru menyadarinya setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Amir Sakib Arsalan dalam tulisannya: Limadza ta-akkhorol muslimun wa taqoddama ghairuhum  - Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Kaum Lain Maju, mengemukakan kesimpulan dari kajian analitisnya bahwa orang-orang Islam mundur karena meninggalkan inti ajaran agamanya, sedangkan kaum yang lain maju, juga karena meninggalkan ajaran agamanya. Tetapi kemajuan itu hanya di bidang tertentu, yaitu di bidang sains dan teknologi, dan kemajuan tersebut membawa serta dampak-dampak negatif yang sejak lama telah dikeluhkan oleh budayawan-budayawan Barat sendiri.
Catatan sejarah menunjukkan fakta yang tidak dapat disangkal bahwa tatkala kaum muslimin berpikir dan bekerja dengan "ruh" Islam, mereka memimpin peradaban dunia. Para pendahulu kita mengembangkan sains dan memanfaatkan secara benar, yaitu untuk kemashlahatan manusia. Jabir ibnu Hayyan (721-815 M) diakui dunia sebagai orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam penelitiannya di bidang Kimia. Muhammad ibnu Musa al-Khwarazmi (meninggal 863M) menemukan angka nol dan mengembangkan Matematika dengan penemuannya itu. Abi Ali Husain ibnu Sina (980-1037M) membina ilmu kedokteran. Ibnu al-Haitsam (965-1039M) menjadi pelopor pengetahuan optika dan ahli fisika yang sangat berjasa. Lalu sosiolog Ibnu Khaldun, sastrawan Umar Khayam, dan lain-lain, yang semuanya mempunyai saham sangat besar dalam pengembangan peradaban manusia. Karena itu pantaslah apabila dalam rangka usaha memperoleh kembali kejayaan yang pernah dipegang umat selama lebih dari tujuh abad, kita harus berusaha keras untuk mendapatkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam di dalam kehidupan kita, baik kehidupan pribadi, keluarga maupun kehidupan bermasyarakat.
PERJALANAN RISALAH NABI MUHAMMAD SAW
Sebagai orang beriman kita tentu yakin bahwa kondisi dan problematik yang dihadapi Rasulullah Saw, serta petunjuk yang diturunkan kepada beliau untuk menyelesaikan problema tersebut, diatur oleh Allah swt, sehingga umat beliau yang berada di segala tempat dan zaman dapat mengikuti dan memaknainya secara kontekstual. Sejarah mencatat untuk kita bahwa sebagaimana banyak Rasul-rasul terdahulu, Muhammad saw pertama-tama menghadapi kaum Musyrikin, orang-orang yang menyekutukan Allah. Karena itu rangkaian ayat yang pertama kali diturunkan kepada beliau adalah ayat-ayat yang menyadarkan manusia kepada keyakinan tauhid. Dengan kalimat yang tegas: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ – bacalah atas nama Tuhanmu yang Maha Menjadikan (Q.S. Al-'Alaq 96:1). Allah Swt menyuruh beliau memikirkan alam semesta ini sebagai makhluk yang taat kepada pencipta-Nya. Dengan cara tafakur yang cermat orang akan menyadari bahwa mata hari, bumi, planet-planet dan bintang-bintang yang lebih dari satu miliar itu senantiasa tunduk dan patuh melaksanakan hukum-hukum Allah. Demikian pulalah hendaknya manusia, karena Allah adalah: خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ – yang telah mencipta manusia dari segumpal darah. (Q.S. Al- 'Alaq 96:2). Lima ayat pertama surah Al-‘Alaq adalah informasi awal tentang tauhidullah, dan itulah yang pertama-tama diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad Saw. Setelah Rasul diberi kesempatan menginternalisasi keterangan tersebut ke dalam hati maka Allah memerintahkan beliau untuk menyampaikannya kepada umat. Dengan kata-kata yang tegas Allah menyatakan: يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ – wahai orang yang berselimut! قُمْ فَأَنْذِرْ Bangunlah dan berilah peringatan kepada mereka. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ – dan Tuhanmu agungkanlah! (Q.S. Al-Muddatssir 74: 1-3).
Begitu Rasul menyatakan diri sebagai utusan Allah dan menyampaikan ayat-ayat yang beliau terima, kaum musyrikin dengan serta merta memusuhi beliau. Abu Lahab yang diundang bersama orang-orang lain untuk mendengarkan pembicaraan Rasul segera menukas: "Celaka kamu Muhammad. Hanya untuk mendengarkan omong kosong inikah kamu mengumpulkan kami?". Setelah itu orang-orang Qureisy melakukan reka daya untuk menahan da'wah Rasul. Mereka mencemooh, memboikot, menyiksa, tetapi kadang-kadang membujuk dan mengajak berkompromi. Dalam kondisi seperti itu Rasulullah Saw terus memantapkan pembinaan tauhid kepada para pengikut beliau. Ayat-ayat yang turun pada masa itu dan yang beliau sampaikan kepada umat, menerangkan bahwa tauhidullah bukan hanya percaya kepada Allah yang Maha Esa, tetapi percaya dengan menanggung segala konsekuensinya. Orang yang mengimani tauhidullah melakukan segala aktivitasnya dengan niat "karena Allah" dan dengan menaati setiap hukum Allah. قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam"”.(Q.S. Al-An'aam 6:162). 
Ketika penolakan kaum Musyrikin semakin keras dan penganiayaan yang mereka lakukan kepada kaum Mslimin semakin gencar, maka pengikut Rasul diperintahkan untuk hijrah – mula-mula ke Afrika kemudian ke Yastrib, negeri yang kemudian disebut Madinah. Pada saat itu Rasulullah saw mulai menyusun dan mengembangkan tatanan masyarakat Islam. Di Makkah, hal itu tidak dapat dilakukan, karena halangan kaum Musyrikin. Jangankah membentuk masyarakat, untuk bertemu Rasul saja, ummat harus sembunyi-sembunyi. Maka sekaranglah waktunya mengimplementasikan ketetapan-ketetapan Allah di dalam alam kebebasan. Segera setelah Rasul menerima tampuk kepemimpinan Madinah, Rasulullah secara bertahap menegakkan beberapa prinsip kehidupan bermasyarakat.
MENATAP MASA DEPAN DENGAN OPTIMIS
Prinsip-prinsip tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Shalahuddin Sanusi (di dalam bukunya "Integrasi Umat Islam" terbitan tahun 1987) antara lain:
Yang pertama: meneruskan pembinaan tauhidullah, yang dikaitkan langsung dengan tatanan kehidupan bermasyarakat. Kalau pada ayat-ayat Makkiyah, pengajaran tauhid dinyatakan secara eksplisit dan lugas, maka banyak ayat Madaniyah yang menyampaikan tauhid itu secara implisit dan diterapkan langsung dalam ketetapan-ketetapan hukum. Misalnya di dalam ketetapan tentang adil dinyatakan: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ - dan sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu), apabila menetapkan hukum di antara manusia hendak-lah kamu menetapkannya dengan adil. (Q.S. Al-Maaidah 4: 58). Dari ayat itu terasa bahwa apabila orang menyampaikan amanat dan tatkala orang berlaku adil, semua itu adalah karena memenuhi perintah Allah, bukan karena mengharap pujian sesama manusia atau mengharapkan keuntungan lain di kemudian hari. Prinsip tauhid ini yang melandasi setiap ide, konsepsi, program di dalam masyarakat Madinah.
Prinsip yang kedua adalah persamaan kemanusiaan (musawwah) Konsekuensi keyakinan tauhidullah adalah bahwa semua orang itu makhluk dan hamba Allah. Dengan demikian derajatnya sama di hadapan Allah. Maka tidak boleh ada yang merasa diri lebih dari orang lain, karena kebangsaannya, atau karena keturunannya, atau karena kekayaannya, atau karena ilmu yang dikuasai akalnya. إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ - Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa di antara kamu (QS Al-Hujuraat 49: 13). Dengan demikian maka semua orang mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat, untuk memegang kendali pemerintahan, dan sebagainya, asalkan memenuhi persyaratan yang disepakati bersama.
Prinsip yang ketiga adalah persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) Orang-orang yang mempunyai Tuhan yang sama, Allah Swt, pedoman hidup yang sama, Al-Quran dan Al-Hadits, suri teladan yang sama, Muhammad Saw, mestinya bersaudara di dalam menanggung segala tugas dan kewajibannya. Prinsip itu telah diwujudkan secara nyata di dalam masyarakat Madinah. Mereka tidak lagi membedakan asal usul (Muhajirin dan Anshar), apalagi keturunan, kekayaan, kedudukan dan sebagainya. Rasulullah Saw memuji kaum yang bersaudara itu dengan menyatakan: "Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan, yang bagian-bagiannya saling menguatkan". Prinsip ukhuwah ini mengantar orang kepada prinsip yang kelima yaitu gotong royong  (ta'awun). Masyarakat bekerja dengan niat yang sama yaitu mencari ridha Allah, karena itu bekerja sama dengan ikhlas dengan sesama saudaranya dalam Islam. Kerja sama tidak boleh mematikan kreatifitas pribadi, karena kreatifitas adalah anugerah Allah Swt yang sangat besar kepada manusia. Karena itu prinsip yang keenam adalah berlomba dalam kebaikan (musabaqah fil khairat). Berlomba tidak sama dengan bersaing. Berlomba mengharapkan peningkatan prestasi bersama, bukan mengharap kejatuhan lawan. Maka fairness adalah sesuatu yang dijaga dengan sebaik-baiknya.
Kreatifitas manusia dimulai dari gagasan-gagasan original. Tetapi tidak selalu gagasan seseorang diterima baik oleh yang lain. Karena itu prinsip berikutnya yang harus diwujudkan adalah pembicaraan (musyawarah) yang dilakukan dengan tujuan memperoleh kebenaran, bukan kemenangan. Kalau kesepakatan di dalam musyawarah itu tidak tercapai mala setiap orang harus toleran terhadap pendapat orang lain. Inilah yang disebut sebagai tasammuh. Demikian beberapa prinsip yang ditegakkan Rasul dalam masyarakat Madinah, masyarakat yang sudah mau dengan tulus menerima beliau sebagai pemimpin dan meyakini ajaran yang beliau sampaikan sebagai ajaran dari Allah Swt.
Sakib Machmud
No. 214

2 komentar:

  1. Dapatkah ummat Islam ditata kembali? Tanpa kita melakukan perbaikan total, rasanya, tinggal menunggu waktu kehancurannya, terutama di negara yang muslimnya terbesar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muslim tidak boleh pesisis melakukan perbaikan, karena itu adalah kewajiban. Mesksipun melakukannya tidak mudah.

      Hapus