KEMUNDURAN UMMAT DEWASA INI
Orang
sering mengatakan bahwa dewasa ini gambaran tentang masyarakat Islam kita
sangat buram. Jumlah kaum muslimin di negeri ini memang masih mayoritas, lebih
dari 80%, tetapi tampilan keIslamannya sangat minim. Kita hanya merasakan
Islamnya masyarakat Indonesia ketika masjid-masjid dipenuhi jama'ah setiap
shalat Jum'at, atau tatkala lapangan-lapangan terbuka penuh orang di waktu
menunaikan shalat Id. Di luar itu, nilai, norma dan
akhlak Islam senyap, tidak bergema di manapun. Di bidang ekonomi, orang mau
melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya dengan
pengorbanan yang sekecil-kecilnya; itu dianggapnya sebagai prinsip ekonomi yang
universal. Banyak orang Islam yang tidak berpikir sedikitpun bahwa kegiatan
ekonomi merupakan bagian dari aktivitas ta’awun – kerjasama anggota
masyarakat, yang tentu saja terikat penuh oleh pernyataan Allah: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا
تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ – dan bekerja samalah kamu dalam
kebaikan dan takwa dan jangan bekerja sama dalam pemusuhan dan dosa (Q.S. Al-Maidah
5: 2). Dalam bidang politik orang berusaha memperoleh kekuasaan, tanpa memedulikan
apa yang dia lakukan di dalam proses mendapatkan kekuasaan itu, dan apa yang
kemudian dia lakukan dengan kekuasaan yang telah digenggamnya. Dia tidak sempat
atau tidak mau memahami bahwa kepemimpinan adalah amanah Allah dan
setiap orang akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.
Sungguh tragis, di tengah masyarakat yang mayoritas muslim, orang yang
sadar akan keIslamannya justru merasa menjadi ghuraba - orang asing.
Dengan hati pilu dia melihat saudara-saudaranya berpesta pora dalam
kemudharatan, dan tidak punya daya untuk mencegahnya. Kalau dia bicara orang
tidak mau mendengar, kalau dia memberi nasihat yang baik orang menertawakannya.
Mengapa demikian? Karena kekuatan untuk
membentuk opini masyarakat, yaitu kekuatan media massa, sekarang ini hampir
seluruhnya dipegang oleh orang-orang Barat, atau pengikut Barat yang tidak suka
kepada Islam. Maka
banyak orang Islam yang tanpa sadar dibawa ke alam pikiran mereka sampai
memalingkan diri bahkan memusuhi nilau-nilai Islam sendiri. Lima belas abad
yang lalu Rasulullah Saw telah mengingatkan: "Sungguh kamu pasti mengikuti
orang-orang yang ada di depanmu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi
sehasta, sampai-sampai kalau orang yang kamu ikuti itu masuk ke dalam liang
landak, kamu tetap mengikutinya juga". Banyak orang yang mengidolakan
masyarakat Barat, karena mereka menguasai ilmu dan teknologi, maka mereka
dianggap modern dalam segala hal, termasuk dalam berpakaian, berperilaku,
bermasyarakat. Proses tersebut berlangsung secara pelan-pelan, sampai orang
baru menyadarinya setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Amir Sakib
Arsalan dalam tulisannya: Limadza ta-akkhorol muslimun wa taqoddama
ghairuhum - Mengapa Kaum Muslimin
Mundur dan Kaum Lain Maju, mengemukakan kesimpulan dari kajian analitisnya
bahwa orang-orang Islam mundur karena meninggalkan inti ajaran agamanya,
sedangkan kaum yang lain maju, juga karena meninggalkan ajaran agamanya. Tetapi
kemajuan itu hanya di bidang tertentu, yaitu di bidang sains dan teknologi, dan
kemajuan tersebut membawa serta dampak-dampak negatif yang sejak lama telah
dikeluhkan oleh budayawan-budayawan Barat sendiri.
Catatan
sejarah menunjukkan fakta yang tidak dapat disangkal bahwa tatkala kaum
muslimin berpikir dan bekerja dengan "ruh" Islam, mereka memimpin
peradaban dunia. Para pendahulu kita mengembangkan sains dan memanfaatkan
secara benar, yaitu untuk kemashlahatan manusia. Jabir ibnu Hayyan (721-815 M)
diakui dunia sebagai orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam
penelitiannya di bidang Kimia. Muhammad ibnu Musa al-Khwarazmi (meninggal 863M)
menemukan angka nol dan mengembangkan Matematika dengan penemuannya itu. Abi
Ali Husain ibnu Sina (980-1037M) membina ilmu kedokteran. Ibnu al-Haitsam
(965-1039M) menjadi pelopor pengetahuan optika dan ahli fisika yang sangat
berjasa. Lalu sosiolog Ibnu Khaldun, sastrawan Umar Khayam, dan lain-lain, yang
semuanya mempunyai saham sangat besar dalam pengembangan peradaban manusia.
Karena itu pantaslah apabila dalam rangka usaha memperoleh kembali kejayaan
yang pernah dipegang umat selama lebih dari tujuh abad, kita harus berusaha
keras untuk mendapatkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam di dalam
kehidupan kita, baik kehidupan pribadi, keluarga maupun kehidupan bermasyarakat.
PERJALANAN RISALAH
NABI MUHAMMAD SAW
Sebagai orang
beriman kita tentu yakin bahwa kondisi dan problematik yang dihadapi Rasulullah
Saw, serta petunjuk yang diturunkan kepada beliau untuk menyelesaikan problema
tersebut, diatur oleh Allah swt, sehingga umat beliau yang berada di segala
tempat dan zaman dapat mengikuti dan memaknainya secara kontekstual. Sejarah
mencatat untuk kita bahwa sebagaimana banyak Rasul-rasul terdahulu, Muhammad
saw pertama-tama menghadapi kaum Musyrikin,
orang-orang yang menyekutukan Allah. Karena itu rangkaian ayat yang pertama
kali diturunkan kepada beliau adalah ayat-ayat yang menyadarkan manusia kepada
keyakinan tauhid. Dengan kalimat yang tegas: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
الَّذِي خَلَقَ – bacalah
atas nama Tuhanmu yang Maha Menjadikan (Q.S. Al-'Alaq 96:1). Allah Swt menyuruh
beliau memikirkan alam semesta ini sebagai makhluk yang taat kepada pencipta-Nya.
Dengan cara tafakur yang cermat orang akan menyadari bahwa mata hari, bumi,
planet-planet dan bintang-bintang yang lebih dari satu miliar itu senantiasa
tunduk dan patuh melaksanakan hukum-hukum Allah. Demikian pulalah hendaknya
manusia, karena Allah adalah: خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ – yang telah mencipta manusia dari segumpal darah. (Q.S. Al-
'Alaq 96:2). Lima ayat pertama surah Al-‘Alaq adalah informasi awal tentang
tauhidullah, dan itulah yang pertama-tama diturunkan Allah kepada Rasul-Nya,
Muhammad Saw. Setelah Rasul diberi kesempatan menginternalisasi keterangan
tersebut ke dalam hati maka Allah memerintahkan beliau untuk menyampaikannya
kepada umat. Dengan kata-kata yang tegas Allah menyatakan: يَاأَيُّهَا
الْمُدَّثِّرُ – wahai
orang yang berselimut! قُمْ فَأَنْذِرْ – Bangunlah dan berilah peringatan kepada mereka. وَرَبَّكَ
فَكَبِّرْ – dan Tuhanmu
agungkanlah! (Q.S. Al-Muddatssir 74: 1-3).
Begitu Rasul
menyatakan diri sebagai utusan Allah dan menyampaikan ayat-ayat yang beliau
terima, kaum musyrikin dengan serta merta memusuhi beliau. Abu Lahab yang
diundang bersama orang-orang lain untuk mendengarkan pembicaraan Rasul segera
menukas: "Celaka kamu Muhammad. Hanya untuk mendengarkan omong kosong
inikah kamu mengumpulkan kami?". Setelah itu orang-orang Qureisy melakukan
reka daya untuk menahan da'wah Rasul. Mereka mencemooh, memboikot, menyiksa,
tetapi kadang-kadang membujuk dan mengajak berkompromi. Dalam kondisi seperti
itu Rasulullah Saw terus memantapkan pembinaan tauhid kepada para pengikut
beliau. Ayat-ayat yang turun pada masa itu dan yang beliau sampaikan kepada
umat, menerangkan bahwa tauhidullah bukan hanya percaya kepada Allah yang Maha
Esa, tetapi percaya dengan menanggung segala konsekuensinya. Orang yang mengimani
tauhidullah melakukan segala aktivitasnya dengan niat "karena Allah"
dan dengan menaati setiap hukum Allah. قُلْ إِنَّ صَلَاتِي
وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan
matiku, hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam"”.(Q.S. Al-An'aam 6:162).
Ketika
penolakan kaum Musyrikin semakin keras dan penganiayaan yang mereka lakukan
kepada kaum Mslimin semakin gencar, maka pengikut Rasul diperintahkan untuk
hijrah – mula-mula ke Afrika kemudian ke Yastrib, negeri yang kemudian disebut
Madinah. Pada saat itu Rasulullah saw mulai menyusun dan mengembangkan tatanan
masyarakat Islam. Di Makkah, hal itu tidak dapat dilakukan, karena halangan
kaum Musyrikin. Jangankah membentuk masyarakat, untuk bertemu Rasul saja, ummat
harus sembunyi-sembunyi. Maka sekaranglah waktunya mengimplementasikan
ketetapan-ketetapan Allah di dalam alam kebebasan. Segera setelah Rasul
menerima tampuk kepemimpinan Madinah, Rasulullah secara bertahap menegakkan
beberapa prinsip kehidupan bermasyarakat.
MENATAP MASA DEPAN
DENGAN OPTIMIS
Prinsip-prinsip
tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Shalahuddin Sanusi (di dalam bukunya "Integrasi Umat
Islam" terbitan tahun 1987) antara lain:
Yang pertama:
meneruskan pembinaan tauhidullah, yang dikaitkan langsung dengan tatanan
kehidupan bermasyarakat. Kalau pada ayat-ayat Makkiyah, pengajaran tauhid
dinyatakan secara eksplisit dan lugas, maka banyak ayat Madaniyah yang
menyampaikan tauhid itu secara implisit dan diterapkan langsung dalam
ketetapan-ketetapan hukum. Misalnya di dalam ketetapan tentang adil dinyatakan:
إِنَّ اللَّهَ
يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ
بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ - dan
sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu), apabila menetapkan hukum di antara manusia
hendak-lah kamu menetapkannya dengan adil. (Q.S. Al-Maaidah
4: 58). Dari ayat itu terasa bahwa
apabila orang menyampaikan amanat dan tatkala orang berlaku adil, semua itu
adalah karena memenuhi perintah Allah, bukan karena mengharap pujian sesama manusia
atau mengharapkan keuntungan lain di kemudian hari. Prinsip tauhid ini yang
melandasi setiap ide, konsepsi, program di dalam masyarakat Madinah.
Prinsip yang kedua adalah persamaan kemanusiaan (musawwah)
Konsekuensi keyakinan tauhidullah adalah bahwa semua orang itu makhluk dan
hamba Allah. Dengan demikian derajatnya sama di hadapan Allah. Maka tidak boleh
ada yang merasa diri lebih dari orang lain, karena kebangsaannya, atau karena
keturunannya, atau karena kekayaannya, atau karena ilmu yang dikuasai akalnya. إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ -
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang
paling bertakwa di antara kamu (QS Al-Hujuraat
49: 13). Dengan demikian maka semua
orang mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat, untuk memegang kendali
pemerintahan, dan sebagainya, asalkan memenuhi persyaratan yang disepakati
bersama.
Prinsip yang
ketiga adalah persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) Orang-orang yang
mempunyai Tuhan yang sama, Allah Swt, pedoman hidup yang sama, Al-Quran dan Al-Hadits,
suri teladan yang sama, Muhammad Saw, mestinya bersaudara di dalam menanggung
segala tugas dan kewajibannya. Prinsip itu telah diwujudkan secara nyata di
dalam masyarakat Madinah. Mereka tidak lagi membedakan asal usul (Muhajirin dan
Anshar), apalagi keturunan, kekayaan, kedudukan dan sebagainya. Rasulullah Saw
memuji kaum yang bersaudara itu dengan menyatakan: "Seorang mukmin
terhadap mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan, yang bagian-bagiannya saling
menguatkan". Prinsip ukhuwah ini mengantar orang kepada prinsip yang
kelima yaitu gotong royong (ta'awun).
Masyarakat bekerja dengan niat yang sama yaitu mencari ridha Allah, karena itu
bekerja sama dengan ikhlas dengan sesama saudaranya dalam Islam. Kerja sama tidak
boleh mematikan kreatifitas pribadi, karena kreatifitas adalah anugerah Allah Swt
yang sangat besar kepada manusia. Karena itu prinsip yang keenam adalah
berlomba dalam kebaikan (musabaqah
fil khairat). Berlomba tidak sama dengan bersaing. Berlomba mengharapkan
peningkatan prestasi bersama, bukan mengharap kejatuhan lawan. Maka fairness
adalah sesuatu yang dijaga dengan sebaik-baiknya.
Kreatifitas manusia dimulai dari gagasan-gagasan original. Tetapi tidak
selalu gagasan seseorang diterima baik oleh yang lain. Karena itu prinsip
berikutnya yang harus diwujudkan adalah pembicaraan (musyawarah) yang
dilakukan dengan tujuan memperoleh kebenaran, bukan kemenangan. Kalau
kesepakatan di dalam musyawarah itu tidak tercapai mala setiap orang harus
toleran terhadap pendapat orang lain. Inilah yang disebut sebagai tasammuh. Demikian beberapa prinsip yang ditegakkan Rasul dalam
masyarakat Madinah, masyarakat yang sudah mau dengan tulus menerima beliau
sebagai pemimpin dan meyakini ajaran yang beliau sampaikan sebagai ajaran dari
Allah Swt.
Sakib Machmud
No. 214
Dapatkah ummat Islam ditata kembali? Tanpa kita melakukan perbaikan total, rasanya, tinggal menunggu waktu kehancurannya, terutama di negara yang muslimnya terbesar.
BalasHapusMuslim tidak boleh pesisis melakukan perbaikan, karena itu adalah kewajiban. Mesksipun melakukannya tidak mudah.
Hapus