Orang yang benar-benar beriman tentu menghayati
sepenuhnya bahwa yang mencipta dan mengatur seluruh alam, yang menyediakan
segala keperluan manusia, yang menentukan segala proses dan hasil proses di
alam ini adalah dan hanyalah Allah yang Maha Esa. Maka orang yang beriman akan
senantiasa tawakkal - berserah diri kepada Allah. Ia sadar bahwa
rizkinya bergantung kepada Allah, sehat atau sakitnya terserah kepada Allah,
jodohnya berada di Tangan Allah, kelahiran anak-anaknya dan ketentuan mengenai
berapa anak yang diamanahkan kepadanya mengikuti Kehendak Allah, saat
kematiannya ditetapkan oleh Allah. Selanjutnya orang diperintahkan Allah untuk ikhtiar
- berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh yang terbaik dalam segala
keperluan hidupnya. Itu adalah kewajiban manusia. Tetapi hasilnya tidak selalu
berbanding lurus dengan tingkat usaha.
Kenyataan dalam kehidupan
sehari-hari menunjukkan bahwa seseorang yang sangat cermat menjaga kesehatan
justru terkena penyakit berat, seseorang lain yang tidak terlalu keras dalam
mencari rizki justru memperoleh penghasilan yang besar, seorang perajurit
selamat tak pernah luka ketika berda di tengah desingan peluru dan granat di
medan tempur, tetapi meninggal justru di dalam perjalanan pulang ke rumah setelah
menyelesaikan tugasnya di kancah perang.
Orang yang benar-benar beriman
bukan hanya menyadari bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tetapi juga
Maha Baik, Maha Pemurah dan Maha Penyayang, dan Maha mengabulkan harapan
hamba-hamba-Nya. Karena itu Mukmin tidak hanya melakukan ikhtiar keras
sebagai bagian dari kewajibannya, tetapi juga berdo’a - memohon dengan
sungguh-sungguh kepada Allah agar berkenan memenuhi segala dambaannya, dan
menjadikan usaha yang dilakukannya itu berada pada jalur yang benar untuk
mencapai tujuan. Do’a mestinya muncul dari kesadaran manusia sendiri, karena
keyakinannya kepada Allah. Tetapi karena manusia sangat sering lupa, Allah
berkali-kali mengingatkan manusia untuk melakukan do’a tersebut, demi
kebaikannya sendiri.
Di dalam Al-Qur’an terdapat 20
(dua puluh) perkataan do’a, yang berarti permohonan, panggilan maupun pujian.
Do’a dalam pengertian pertama dan yang sedang kita bicarakan, antara lain: "Dan
berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan permohonanmu". (QS
Al-Mu’min 40: 60). Ayat ini bahkan menyatakan ancaman: "Sesungguhnya
orang-orang yang menyombongkan diri dengan tidak memohon kepada-Ku, akan masuk
neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".
Tetapi ada orang-orang yang
berdo’a dengan cara yang salah, sehingga bukan saja tidak terkabul tetapi
justru mendatangkan azab kepadanya. Orang-orang musyrik pada masa Rasulullah
Saw dan juga pada masa sekarang, beranggapan bahwa Allah itu jauh, tidak akan
terjangkau oleh manusia. Karena itu mereka berdo’a kepada Allah dengan melalui washilah,
mediator atau perantara-perantara yang mereka ada-adakan dengan pikirannya
sendiri. Orang-orang Arab jahiliyah memohon kepada Allah melalui
patung-patung yang mereka namai Al-Lata, Al-Uzza dan lain-lain. Orang-orang di
sekitar kita berdo’a kepada Allah melalui arwah ulama-ulama besar sehingga
mereka merasa harus berdoa di dekat makam ulama-ulama itu. Allah Swt menegaskan
bahwa anggapan demikian itu tidak benar. Pada QS Al-Baqarah 2: 186, Allah berfirman: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Rasul)
mengenai Daku, katakan kepadanya bahwa Aku dekat. Aku akan mengabulkan
permohonan orang-orang yang berdo’a tatkala dia memohon langsung
kepada-Ku". Mempercayai adanya washilah atau perantara manusia
dengan Allah, berarti mereduksi keagungan Allah atau tidak yakin kepada Kasih
Sayang Allah Swt yang dikucurkan kepada manusia di setiap waktu dan tempat.
Karena itu hendaknya
orang-orang yang beriman tidak ragu-ragu dan sesering mungkin berdo’a kepada
Allah Swt. Ada baiknya kita cermati lagi dua firman Allah yang memerintahkan
orang agar berdo’a kepada-Nya. QS Al-Mukmin 40: 65 menyatakan: “Allah adalah
yang Maha Hidup, tidak ada Tuhan selain Dia; maka berdo’alah kepada-Nya dengan
tulus ikhlas”. Kemudian QS Al-A’raaf 7: 180 menyatakan pula: “Allah
mempunyai nama-nama yang baik, maka berdo’alah kamu kepada-Nya dengan
mengucapkan nama-nama itu.” Selanjutnya dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Ibnu Hambal dikemukakan sabda Rasulullah Saw: “Do’a
itu adalah ibadah”. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
At-Tirmizi dipaparkan sabda beliau: “Do’a itu sari patinya ibadah”.
Dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasul tadi telah ditegaskan bahwa
Allah Swt pasti berkenan untuk mengabulkan do’a manusia. Meskipun demikian do’a
akan ditolak apabila do’a orang itu tidak benar, atau dilakukan dengan prosedur
yang salah, atau orang yang berdo’a tidak menunaikan kewajiban-kewajibannya
kepada Allah dengan semestinya. Pernyataan Allah untuk mengabulkan do’a manusia
pada QS Al-Baqarah 2: 186, yang telah kita baca tadi diikuti dengan perintah: “Maka
penuhilah perintah-perintah-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar kamu senantiasa
berada di jalan yang benar. ”
Seorang ulama menyatakan,
bagaimana Allah akan mengabulkan do’a seseorang, sedangkan dia orang itu selalu
mendurhakai-Nya. Dia makan dan minum barang-barang yang haram, hidupnya
dipenuhi oleh perbuatan-perbuatan yang terlarang, mengaku beriman kepada Allah
tetapi sangat enggan untuk beribadah kepada-Nya, sering membaca Al-Qur’an
tetapi isinya tidak dihayati, apa lagi dilaksanakan dalam kehidupan
sehari-hari. Mengaku mencintai Rasulullah Saw tetapi tidak mengikuti sunnah dan
keteladanan beliau. Mengaku syeitan sebagai musuhnya tetapi justru sering patuh
mengikuti ajakan-ajakan syeitan itu.
Seseorang berdo’a untuk
melepaskan diri dari neraka tetapi melakukan amal-amal keburukan yang
membawanya ke neraka itu. Dia selalu berdo’a memohon dimasukkan ke dalam surga
tetapi tidak beramal dengan amal yang membawanya ke sana . Dia mengakui bahwa kematian itu pasti
datang tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu dan
peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sesudahnya. Dia sibuk membicarakan aib
saudara-saudaranya tetapi tidak mau melihat aib dirinya sendiri. Dia menikmati
karunia-karunia Allah tetapi tidak mau bersyukur kepada-Nya. Dia sering kali
turut menguburkan jenazah orang yang meninggal dunia tetapi tidak mengambil
pelajaran darinya. Demikianlah, mengucapkan do’a sangat mudah, tetapi
melaksanakan konsekuensi dari berdo’a itu sungguh tidak gampang.
Dalam sebuah hadits Rasulullah
Saw bersabda: “Apabila seorang yang beriman berdo’a dengan sungguh-sungguh,
dia menghadapi tiga kemungkinan. Yang pertama, permohonannya segera dikabulkan.
Yang kedua: permohonannya dikabulkan tetapi ditunda untuk waktu yang tepat
baginya. Yang ketiga: doanya tidak dikabulkan untuk kebaikan orang itu sendiri,
tetapi sebagai gantinya, dosa-dosanya diampuni.” Jelas sekali bahwa ketiga
alternatif tadi baik bagi orang yang berdo’a. Maka jangan ragu-ragu untuk terus
berdo’a, sesering mungkin. Dengan berdo’a orang beribadah, dengan berdo’a dia
mendekatkan diri kepada Allah, dan dengan berdo’a dia bertambah yakin kepada
Allah Swt.
Sakib Machmud
No.
146
Jelas sekali bahwa berdoa melalui arwah ulama di dekat makam ulama itu tidak dibenarkan dalam Islam. Tetapi mengapa banyak pelajar yang akan mengikuti ujian nasional berdoa (tentunya memohon kelulusan ujian nasional kepada Allah) di dekat makam Gus Dur? Atau mungkin para pelajar itu mendoakan supaya Gus Dur lulus ujian akhir hayat untuk hidup sukses di akhirat. Wallahu’alam.
BalasHapus@md patanga. Para siswa itu tidak tahu cara berdoa yang benar, tahunya tawuran sesudah ujian nasional.
BalasHapus