Minggu, 05 Juni 2011

JUJUR

KUNCI SUKSES DI DUNIA DAN AKHIRAT

Allah Swt berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (jujur) imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2: 177).

Ayat tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa kejujuran merupakan hakikat kebaikan dengan dimensi luas, karena mencakup segenap aspek keIslaman. Dimensi yang dicakup oleh kejujuran yaitu meliputi menginfakkan harta yang dicintai, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji bila berjanji, bersabar dalam kesulitan dan sebagainya. Karena itulah, Allah Swt menasihati kita untuk senantiasa bersama-sama orang yang jujur sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS At-Taubah 9: 119).

Setelah kita mengetahui hakikat kejujuran, maka setidaknya muncul dalam hati kita keinginan untuk melengkapi diri dengan sifat jujur ini. Karena sifat ini benar-benar merupakan intisari dari kebaikan. Dan sifat ini pulalah yang dimiliki oleh sahabat yang paling dicintai Rasulullah Saw yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq.

Sebagaimana telah dibahas pada tulisan 111 / Moral dan Etika Masyarakat / 25-04-11, hakikat hidup bermasyarakat adalah bersaing dan bekerjasama dalam satu semangat. Keduanya harus dipupuk dan dibina ke arah yang benar, supaya dapat menjadi pendorong terwujudnya kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Untuk itu diperlukan kejujuran, karena tanpa kejujuran, seseorang akan sulit mendapatkan kepercayaan masyarakat. Kejujuran itu bagaikan ’pelumas’ untuk memperlancar proses persaingan dan kerjasama itu membuahkan suatu kebajikan yang hakiki.

Namun harus kita akui bahwa, manusia mempunyai naluri tidak jujur atau berbohong, dan egois. Kebohongan adalah segala pernyataan atau perbuatan yang sengaja direkayasa untuk membingungkan, mengecoh dan menyesatkan orang lain. Bagi seorang pembohong atau pendusta, kebenaran adalah kebohongan yang terus menerus diulang dan diceritakan ribuan kali. Pembohong senantiasa berupaya menciptakan ribuan skenario. Bila satu skenario gagal, maka diciptakanlah skenario baru dan seterusnya. Kebohongan hanya dapat dipertahankan dengan kebohongan lagi.

Pada tulisan 99 / Siapa Berbohong / 20-01-11 telah dijelaskan bahwa orang berbohong biasanya disebabkan karena tiga hal yaitu; 1) Kebiasaan berbohong, akan menjadikan seseorang mengingkari janji, sehingga orang mengemukakan alasan untuk tidak memenuhi janjinya dengan kebohongan lagi. 2) Keserakahan menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya termasuk dengan berbohong. 3) Kedengkian berbarengan dengan permusuhan dengan orang lain, akan mendorongnya menjatuhkan orang lain dengan kebohongan atau fitnah. Satu saja sebab ini ada pada diri seseorang, maka dia pasti gemar berbohong.

Allah Swt memperingatkan: * "Sesungguhnya Allah tak akan memberikan petunjuk kepada orang yang keterlaluan dan suka berbohong. (QS Ghaafir 40: 28). * “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang- orang pendusta.” (QS An-Nahl 16: 105).

Rasulullah Saw bersabda; “Pengkhianatan yang paling besar ialah engkau memberi informasi kepada saudaramu, yang informasi itu mereka percayai, padahal engkau sendiri berdusta.” (HR Bukhari dan Abu Dawud). Demikianlah bahwa pembohong itu sesungguhnya adalah juga pengkhianat besar. Mereka adalah orang-orang yang curang dalam berdagang, membocorkan dana pembangunan, koruptor, penyuap dan penerima suap, dan sebagainya.

Dari fakta yang ada, perlahan tapi pasti, banyak orang akan mendeteksi kebohongan seseorang, karena Allah Maha Adil. Kepada pembohong, perlu kita sampaikan peringatan bahwa lambat laun orang lain akan menyadari dan mencium aroma dusta lidahnya. Sekali lagi, perlahan tapi pasti, suatu ketika orang akan mendeteksi kebohongan itu.

Jika demikian, yang bisa dia lakukan hanyalah: 1) Berhenti dan bertobat, atau 2) Mencari mangsa baru yang belum tahu siapa dia. Beruntunglah dia bila memilih yang pertama, dan celakalah dia bila masih saja mencari mangsa baru. Lebih celaka lagi, mereka yang selalu menjadi korban kebohongan, tidak sadar dan terus memilih teman atau pemimpin siapa saja yang suka berbohong, dan selalu menyediakan ruang untuk terus berbohong.

Hanya dengan jujurnya para pemimpin, ulama, birokrat, pengusaha, penegak hukum dan setiap Mukmin, maka masyarakat akan berkembang maju. Islam mengajarkan agar ummatnya berlaku jujur dalam kehidupan bermasyarakat.

Allah Swt mengajarkan tentang kejujuran dalam melakukan kegiatan usaha: Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan qisth (akurat) janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka.”(QS Huud 11: 85). Di samping itu terminologi qisth (seakurat mungkin) dalam ukuran mengingatkan kepada kita mengingatkan kita pada presisi yang sangat akurat yang merupakan faktor penting dalam teknologi yang menerapkan profesionalisme tinggi.

Kejujuran biasanya dikaitkan dengan keadilan bahkan dalam kasus tertentu identik dengan keadilan. Allah SWT berfirman: “Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca (keadilan) itu.” (QS Ar-Rahmaan 55: 9). Maka untuk membentuk masyarakat yang Islami, kejujuran setiap Muslim adalah keniscayaan.

Begitu ketat pengawasan Allah terhadap kejujuran, maka selain kejujuran merupakan faktor penting dalam hidup bermasyarakat, orang-orang yang jujur juga dijanjikan akan mendapatkan surga sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya jujur itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Dan seseorang beperilaku jujur, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang jujur. Sementara kedustaan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka. Dan seseorang berperilaku dusta, hingga ia dikatakan sebagai pendusta.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits dengan kalimat sederhana ini menggambarkan dua hakikat perberbedaan yang begitu jauh, sejauh perbedaan antara surga dan neraka. Hakikat pertama adalah mengenai ash-shidiq (kejujuran & kebenaran iman), yang digambarkan Rasullah Saw sebagai pintu gerbang kebaikan yang akan mengantarkan seseorang ke surga. Sementara hakikat yang kedua adalah al-kadzib (kedustaan), yang merupakan pintu gerbang keburukan yang akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka.

Rasulullah Saw ketika menggambarkan kedua hal di atas, sekaligus mengaitkan juga dengan mashirah (kesudahan) dua sifat yang berbeda tadi, yaitu surga bagi orang yang jujur dan neraka bagi pendusta. Manfaatnya adalah untuk memberikan makna yang mendalam dan tidak menjadikan kedua hal tersebut sebagai masalah yang sepele, karena secara tabi’at, manusia seringkali menganggap remeh keduanya. Sementara kesudahan dari kedua sifat di atas sangat jauh berbeda, sejauh perbedaan antara surga dan neraka.

Pada kedua sifat yang digambarkan Rasulullah Saw di atas, selalu diikuti dengan perilaku manusia terhadap kedua sifat tersebut, sehingga manusia akan menjadi salah satu di antara keduanya; jujur atau pendusta. Artinya, untuk dikatakan bahwa seseorang itu adalah jujur, ia harus membuktikannya dengan perbuatannya sendiri, hingga ia dengan sendirinya akan mendapatkan sifat jujur tersebut. Sebaliknya, seseorang yang dikatakan sebagai pendusta, adalah hasil dari perilaku dan perbuatannya, yang akhirnya menjadikannya sebagai pendusta.

Kejujuran juga merupakan salah satu tujuan sekaligus kunci keberhasilan puasa kita. Puasa adalah ibadah yang sifatnya sangat pribadi, sehingga kita harus menjalani puasa dengan penuh kejujuran. Contoh ketidak-jujuran dalam diri seseorang, adalah; orang yang memulai harinya dengan makan sahur, kemudian di luar rumah dia secara bersembunyi makan atau minum, dan melakukan apa saja yang dilarang dilakukan selama bulan puasa. Jika kita jujur, maka hal itu tidak akan terjadi.

Jika kita bisa menjaga kejujuran dalam masalah makan, minum dan apa-apa saja yang dilarang yang sifatnya pribadi, mengapa kita tidak bisa menjaga kejujuran dalam hal lain yang juga menyangkut kepentingan masyarakat? Pertanyaan itu wajar kalau kita melihat praktik berbangsa dan bernegara, kita tidak menunjukkan indikator kejujuran yang nyata. Dalam kasus korupsi misalnya, kendala melakukan pemberantasan korupsi adalah karena ketidak-jujuran mereka yang terlibat; yaitu para koruptor dan penegak hukum.

Dalam ibadah puasa ada tiga aspek yang fundamental, yaitu; 1) pendekatan diri kepada Tuhan, 2) penyucian diri, dan 3) membangun keshalehan sosial. Dengan beribadah puasa, seorang yang beriman berusaha mengaktifkan kekuatan rohaninya lalu berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin.

Dengan kedekatan dan intensitas berkomunikasi dengan Tuhan, sebuah proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai ilahi dalam diri seseorang diharapkan akan terjadi bahwa apa yang selalu dipikirkan, dibayangkan, dan dirasakan seseorang, akan mempengaruhi dan menggerakkan perilaku orang itu. Jika hati dan pikiran selalu terikat dan tertuju kepada Allah Yang Maha Pengasih, maka kasih Allah akan merasuk ke dalam diri kita sehingga kita menjadi instrumen Allah sebagai penyebar kasih dan kebajikan. Namun, untuk meraih prestasi ini, kita harus membuka diri, membersihkan, dan membuang jauh-jauh berbagai pikiran, perasaan, serta perilaku kotor karena akan menghalangi cahaya dan energi ilahi untuk turun ke dalam diri kita.

Bagi sebagian orang, bulan berpuasa merupakan bulan untuk meningkatkan dan merevitalisasi diri sehingga hidup ini senantiasa dipandu kekuatan spiritual. Melalui puasa kita kembalikan dan perkokoh nurani untuk menjadi pemimpin kehidupan. Kita mesti bersikap positif karena yakin, bulan Ramadhan pasti mendatangkan berkat dan rahmat bagi kita semua.

Namun bagaimana kenyataannya? Kita perlu bertanya apakah ada yang salah dalam cara kita berpuasa? Di mana salahnya dan bagaimana memperbaikinya? Salah satu caranya ialah belajar bersungguh-sungguh menerapkan perilaku jujur di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kejujuran adalah dasar kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kejujuran adalah persyaratan utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong-menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah Saw oleh Allah Swt.

Kejujuran tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Seorang ulama menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejujuran. Pertama, akal yang wajib memandang bahwa berdusta itu buruk, apalagi jika kedustaan itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat dan tidak mencegah bahaya. Kedua, agama dan syariah yang mengajarkan untuk mengikuti kebenaran dan kejujuran, serta memperingatkan bahaya kedustaan. Ketiga, kedewasaan diri kita yang menjadi salah satu faktor pencegah kedustaan dan kekuatan pendorong menuju kebenaran. Keempat, memperoleh kepercayaan dan penghargaan masyarakat. Ada sebuah kata mutiara: "Jadikanlah kebenaran sebagai tempat kembalimu (rujukanmu), kejujuran sebagai tempat keberangkatanmu, sebab kebenaran adalah penolong paling kuat dan kejujuran adalah pendamping paling utama".

Oleh karena itu, marilah kita menjaga hati kita dengan menjauhi sifat munafik dan dusta yang dapat menjauhkan kita dari sifat jujur, untuk kemudian setahap demi setahap kita tumbuhkan sifat jujur, agar kita dapat bersama-sama dengan para nabi, syuhada dan shalihin di akhirat kelak. Marilah kita tinggalkan segala bentuk kebohongan dan menggantikannya dengan kejujuran, karena itu adalah jalan yang lurus untuk menuju surga. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Hermanto Hs

No. 115

3 komentar:

  1. Tinggal kita inventasrisasi siapa saja yang tidak jujur dan akan masuk neraka, yaitu sebagian dari polisi, jaksa, hakim, politisi, dan mereka yang lari ke luar negeri dengan alasan sakit untuk menghindari peradilan. Sakit kok kyuluran, dicabut paspornya masih bisa kluyuran, itulah isteri mantan petinggi polisi. Emangnya di Indonesia gak ada rumah sakit. Pak Harto aja yang juga diadili sampai wafat tetap berobat di RSPP.

    BalasHapus
  2. Hey Nazaruddin, jangan kabur, tunjukkan bahwa ente ksatria. Jangan munafik, nanti masuk neraka. Mau ngikuti Nunun jadi buron?

    BalasHapus
  3. Menanggapi dua komentar di atas, harus kita akui bahwa wajah bangsa Indonesia menjadi terpuruk di mata dunia, setidaknya karena ada dua orang yang sekarang ini berada di luar negeri menjadi ‘buron’. Nunun Nurabeti dan Muhammad Nazaruddin. Keduanya, setelah meninggalkan Indonesia, enggan memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini akan menjadi sebuah preseden buruk.
    Dalam kaitan ini ada baiknya kami kemukakan penilaian mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie yang menyatakan keberadaan manran Bendahara Partai Demokrat M. Nazaruddin dan istri politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Adang Daradjatun, Nunun Nurbaetie, di luar negeri memperburuk wajah perpolitikan nasional Indonesia. Nazaruddin dan Nunun tengah dibelit masalah hukum di Indonesia. Namun mereka kini berada di luar negeri.
    "Apalagi, mereka sembunyi-sembunyi di negara lain. Maka, mereka telah mempermalukan bangsa Indonesia di pintu gerbang negara lain," Jimly meminta Nazaruddin dan Nunun kembali ke Indonesia sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai tokoh politik dan sebagai pemimpin. "Merekaa mesti datang. Nggak usah sembunyi-sembunyi. Toh, media sudah terus memberitakan. Ngapain dia pura-pura sakit di negeri orang," ujar Jimly. Kalau memang Nazaruddin dan Nunun sakit, maka bisa dirawat di Indonesia, karena peralatan rumah sakit di Indonesia juga sudah canggih.
    Khusus Nazaruddin, Jimly meminta agar dia berani bertanggung-jawab. Meskipun Nazaruddin baru berumur 30-an tahun, dia adalah pemimpin karena menjadi anggota DPR. "Meskipun dia belum tentu salah," kata Jimly.
    Jimly membagi ada empat kategori antara kesalahan dengan tanggungjawab.
    Pertama, orang yang tidak salah, tapi tidak bertanggungjawab, yakni disebut orang biasa. Kedua, orang yang salah, tapi bertanggungjawab yang disebut orang jantan. Ketiga, orang salah tapi tidak mau bertanggung-jawab yang biasa disebut sebagai pengecut. Keempat, orang yang tidak salah dan tidak boleh salah, tapi bertanggungjawab karena dia seorang pemimpin.
    Jimly menambahkan, di era keterbukaan saat ini memang ada masalah dalam sistem penegakan hukum di Indonesia. Jimly menyebut masalah tersebut adalah banyaknya hiruk-pikuk setiap ada orang yang diduga terlibat masalah hukum. Akibatnya, orang tersebut seperti dihakimi secara sepihak meskipun dia belum tentu bersalah.
    Namun, nampaknya tidak ada keinginan kedua orang itu, Nunun Nurbaeti dan Muhammad Nazaruddin akan mendatangi KPK. Mantan Wakapolri Adang Daradjatun, yang menjadi anggota Komisi III DPR dari FPKS, yang merupakan suami Nunun, tetap tidak menunjukkan sikapnya yang mendukung langkah KPK, yang ingin menuntaskan kasus suap dalam pemilihan DGS (Dewan Gubernur Senior) Bank Indonesia, yang telah mengakibatkan 26 anggota DPR sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sebagian telah menjalani hukuman.
    Di bagian lain, Partai Demokrat seperti "cuci tangan", tak ada keinginan yang serius memulangkan Nazaruddin dari Singapura. Adakah Partai Demokrat mengkhawatirkan Nazaruddin akan ‘menyanyi’ saat diperiksa di KPK, sehingga membiarkan Nazaruddin tidak memenuhi panggilan KPK, hingga hari ini.
    Betapa di Republik ini benar-benar tidak ada keadilan. Bandingkan mereka yang dituduh sebagai ‘teroris’, sikap dan cara penanganan aparat keamanan dan penegak hukum, dan bandingkan dengan penanganan para koruptor?
    Sedangkan, para koruptor hanya dihukum ringan, dan mereka masih bisa jalan-jalan keluar negeri. Kerabatnya, kelompoknya, partainya dan organisasinya melindungi dan menjaganya, tanpa sanksi hukum apapun, dan dianggap sah.
    Sementara itu, mereka yang dicurigai dan dituduh teroris, mereka ditembak, tanpa harus dibuktikan kebenaran dan keterlibatannya, dan bahkan orang-orang yang dianggap mempunyai hubungan diburu, ditangkap, dan dipenjara dalam waktu yang panjang. Temannya, keluarganya, kelompoknya, dan organisasinya, semuanya akan menghadapi hukuman, karena dianggap melindungi mereka. Demikian Jimly Asshiddiqie .
    Dikutip dari:
    ERA MUSLIM
    MEDIA ISLAM RUJUKAN
    Senin, 13/06/2011

    BalasHapus