Minggu, 17 Januari 2010

64. PLURALISME AGAMA

Wafatnya mantan Presiden Adurrahman Wahid (Gus Dur), telah memunculkan usulan dari masyarakat terutama dari kalangan non Muslim termasuk etnis Tionghoa untuk memberikan ‘penghargaan’ kepada Gus Dur sebagai ‘Bapak Pluralisme’. Selama ini istilah pluralisme selalu dikaitkan dengan agama, sehingga usulan penghargaan itu sesungguhnya tidak relevan. Pluralisme yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pluralisme agama, yaitu gagasan yang mencoba mempersamakan semua agama. Dalam gagasan tersebut disebutkan bahwa, pertama semua agama adalah sama. Kedua, semuanya sama-sama menawarkan jalan keselamatan. Dan ketiga semuanya tidak ada yang final. Artinya, setiap agama harus selalu terbuka untuk dikritisi dan direvisi.

Meskipun pluralisme agama bertolak dari keinginan mencari titik temu antara agama-agama yang berbeda dan tidak menyamakan semua agama, namun kaum pluralis selain mengakui keberadaan berbagai agama atau kemajemukan, juga menganggap semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun porsinya tidak sama. Semuanya itu menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan, meskipun caranya berbeda-beda. Itulah definisi pluralisme bagi kaum pluralis.

Pluralisme agama, dalam pandangan Islam adalah paham syirik, karena membenarkan semua agama. Perlu kita pahami bahwa para ulama Islam sepanjang sejarah, tidak pernah mengembangkan paham ‘kebenaran’ semua agama. Pembahasan pluralisme ini dimaksudkan untuk menelusuri dan menjelaskan makna pluralisme yang dikaitkan dengan agama. Islam tidak mengakui pluralisme agama, jika pengertiannya seperti di atas. Al Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam, sebagaimana firman Allah SWT: Sesungguhnya agama yang diridhai Allah adalah Islam. Para ahli kitab tidak menentang kecuali setelah mengetahui kebenarannya, hanya karena ingin melanggar. Siapa pun yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka Allah sungguh cepat memperhitungkan. [QS Ali ‘Imran (3): 19].

Seperti kita ketahui Islam bukan agama yang baru pertama kali diperkenalkan Nabi Muhammad SAW kepada ummat manusia, melainkan sudah diperkenalkan sebelumnya oleh para nabi dan rasul terdahulu. Dalam salah satu sabdanya, Nabi Muhammad Rasulullah SAW menegaskan bahwa agama para nabi hanya satu, yaitu Islam. Tidak ada perbedaan antara ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Kalaupun ada, perbedaan itu tidak terdapat pada ajaran-ajaran pokok, seperti keimanan, ketauhidan, keadilan, kebaikan, dan kebersamaan, tetapi hanya terdapat pada penjabaran dan cara pelaksanaan ajaran-ajaran pokok tersebut. Hal itu sudah merupakan Sunatullah agar supaya ajaran-ajaran agama itu dapat dilaksanakan sesuai situasi dan kondisi pada zamannya.

Allah SWT berfirman: Dan Kami telah turunkan kepadamu kitab (Al Qur'an) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap ummat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu [QS Al Maaidah (5): 48].

Ini berarti bahwa untuk setiap ummat telah dibuatkan aturan dan jalannya oleh Allah SWT. Namun, perlu pula diingat bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir, dan yang menghidupkan kembali agama Islam asli yang pernah dibawa oleh para nabi dan rasul terdahulu. Agama Islam yang asli itu dari masa ke masa selalu mengalami perubahan, baik penyisipan ajaran-ajaran bid’ah, penggantian, pengurangan dan / atau penambahan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Itulah sebabnya, setiap kali agama Islam mengalami perubahan, Allah SWT selalu mengutus Rasul-Nya untuk memurnikan kembali. Di samping itu, kedatangan Muhammad Rasulullah SAW juga untuk menyempurnakan syariat yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul terdahulu dan sekaligus mengganti bagian-bagian dari syariat yang tidak sesuai dengan kemajuan berpikir manusia.

Karena tidak ada lagi nabi dan rasul yang datang sesudah Muhammad SAW, maka agama yang dibawa oleh beliaupun menjadi agama yang berlaku untuk seluruh ummat manusia dan sepanjang masa dengan syariat yang selalu laras dengan perkembangan zaman dan kemajuan berpikir manusia, baik pada masa Muhammad SAW, masa sekarang dan mendatang hingga akhir zaman. Siapa saja yang menemui Allah SWT setelah diutusnya Muhammad SAW tetap menganut agama yang bukan syariat Islam, tidak akan diterima. Hal ini ditegaskan dalam Al Qur’an: Siapa saja yang mencari agama selain Islam, amalannya tidak akan diterima sama sekali dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [QS Ali ‘Imran (3): 85]. Maka ketetapan Allah SWT sangatlah jelas, dan tidak bisa ditawar lagi.

Para tokoh agama di negara-negara Barat sering menyebutkan perlunya dialog antar agama. Dari sudut pandang agama Islam, himbauan semacam itu perlu kita waspadai. Islam tidak menolak diadakannya dialog antar agama, melainkan perlu mewaspadai apakah tujuan dialog tersebut. Jika dialog dimaksudkan untuk membangun kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat yang menganut berbagai agama, itu tidak ada masalah sama sekali. Tetapi jika dialog itu dimaksudkan untuk mempersamakan kebenaran semua agama, maka Islam menolak, kecuali jika mereka bersedia berdialog membahas agama mana yang benar.

Kita perlu pula memberikan perhatian pada hal-hal yang berkaitan dengan penghinaan terhadap Islam dan ummat Islam. Misalnya pemuatan gambar karikatur yang menghina Nabi Muhammad SAW di suratkabar Yiland Posten di Denmark pada akhir tahun 2005. Kemudian ada pula pernyataan kaum intelektual garis kanan Amerika (Serikat), yang dijadikan bahan pidato politik Presiden George W. Bush yang menghina Islam dan ummat Islam dengan mengatakan bahwa Islam itu fasis. Dalam hal ini, kita bukan anti bangsa Amerika, melainkan mengecam pernyataan Mr. Bush yang memimpin negara Amerika pada saat itu.

Terulangnya kembali kasus pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW oleh sekelompok pemuda Denmark yang menyelenggarakan lomba kartun Nabi Muhammad SAW beberapa waktu kemudian memang sangat keterlaluan dalam melecehkan Nabi Muhammad SAW.

Namun peristiwa pelecehan ini dapat kita ambil hikmahnya juga, yakni bahwa dengan hujatan itu membuktikan ajaran-ajaran Qur’an itu benar adanya. Salah satunya adalah:Hai orang-orang beriman, janganlah angkat orang di luarmu sebagai kepercayaanmu. Mereka itu selalu menimbulkan kesulitan bagimu dan menginginkan kesusahan bagimu. Telapi jelas kebencian mereka yang terlihat dari ucapan mereka, yang tersimpan di dalam hati jauh lebih besar. [Ali Imran (3): 128]. Jadi kita harus waspada untuk tidak terpancing oleh fitnah dan pelecehan oleh kelompok orang tertentu yang secara sistematis berusaha merusak citra agama dan ummat Islam.

Pada tahun 2006, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma Paus Benediktus XVI dalam pidato ilmiahnya di Universitas Regensburg, Jerman, mengutip pernyataan Kaisar Manuel II Palaelogus pada tahun 1391 M sebagai berikut: “Tak ada yang baru dari Muhammad (Nabi Muhammad Rasulullah SAW), dan yang kau temukan hanyalah hal yang berbau iblis dan tak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan agama (Islam) dengan pedang”.

Hal itu telah menimbulkan kritik dan kecaman di kalangan ummat Islam. Jika kita simak lebih mendalam, apa sebenarnya tujuan Paus ketika mengutip isi buku sejarah kuno yang umurnya sudah 600 tahun dalam suatu ceramah ilmiahnya di Universitas Regensburg itu? Apakah tidak ada lagi literatur kontemporer Islam yang menerangkan tentang jihad masa kini kecuali yang diterangkan oleh Kaisar Imperium Bizantium itu? Mengapa Paus tidak mengutip langsung dari Al Qur’an dan Al Hadits?. Padahal Paus dikenal sebagai akademisi teologi, yang tentu sangat mengetahui etika pengutipan sumber secara intelektual. Kita tidak perlu ragu-ragu menyebut bahwa itu adalah rasa benci oknum-oknum Nasrani yang sudah tertanam di bawah sadar yang dahulu diajarkan oleh Gereja.

Kemudian dalam pertemuan Paus Benediktus XVI dengan para duta besar / perwakilan negara-negara Muslim di Selatan Roma, Paus tidak memberikan penjelasan tentang pidato yang diucapkan di atas, kecuali hanya menyesalkan reaksi ummat Islam terhadap pidatonya itu. Paus tidak meminta maaf ataupun secara langsung mencabut pernyatannya yang dikutip dari Raja Manuel II. Meskipun Paus menyatakan bahwa pernyataannya yang kontroversial itu bukan pendapat pribadinya, Paus tidak mengatakan ketidak-setujuannya atas pernyataan raja itu. Pada kesempatan tersebut Paus kembali menyerukan pentingnya dialog antar agama dan peradaban. Sekali lagi, jika dialog itu dimaksudkan untuk mempersamakan kebenaran semua agama, maka Islam menolak, kecuali jika mereka bersedia berdialog membahas agama mana yang benar.

Pelecehan tersebut merupakan upaya sistematis oleh sekelompok orang di dunia Barat untuk menodai agama Islam. Sesungguhnya, mereka itu selalu dalam ketakutan menghadapi Islam dan ummat Islam. Ada baiknya kita simak apa yang dikatakan filosof-filosof Barat berikut ini.

Arnold Toynbee mengatakan: "Sesungguhnya persatuan Islam itu ibarat orang yang sedang tidur nyenyak, namun kita harus waspada bahwa orang yang tidur itu sewaktu-waktu bisa bangun".

Lawrence Braun mengatakan: "Apabila bangsa-bangsa Arab sebagai basis ummat Islam dan negara-negara Islam seluruh dunia bersatu, mereka akan membahayakan kita dan seluruh dunia. Kalau mereka tetap berpecah belah, mereka tidak punya arti dan kekuasaan apapun. Kita bebas untuk menginjak dan menyeret mereka. Karena itulah, bangsa-bangsa Arab dan kaum Muslimin seluruh dunia harus tetap berpecah belah, agar mereka tetap dalam tidur dan kebodohannya”.

Kita perlu waspada sebagaimana peringatan Allah SWT: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan puas, sehingga kamu tunduk kepada agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itu petunjuk yang sejati. Seandainya kamu mengikuti kemauan mereka setelah kamu mengetahui hakikatnya, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [QS Al Baqarah (2): 120].”

Karenanya kita hendaknya selalu waspada terhadap fitnah-fitnah dari orang-orang yang memusuhi Islam dan ummat Islam. Kebebasan berekspresi dan kebebasan pers memang merupakan bagian dari hak asasi manusia. Meskipun demikian, adalah suatu kejahatan apabila kebebasan itu dilakukan untuk menyerang dan menghina agama lain dengan cara sangat menjengkelkan seperti dalam ‘pernyataan’ yang dilakukan sekelompok orang-orang tertentu dari dunia Barat yang memojokkan Islam.

Mengemukakan hal ini dalam bahasan, tidak berarti kita tidak menyukai ummat lain, dan bahasan ini tidak dimaksudkan untuk melakukan provokasi apapun, selain untuk mencoba memandang pokok masalahnya secara obyektif dan berimbang. Bahkan terhadap sekelompok ummat Islam sendiri yang melakukan perbuatan yang tidak Islami, kita juga harus mengkritisi, seperti terhadap mereka yang melakukan kekerasan seperti terorisme – yang bukan diajarkan oleh Islam – dengan mengatas-namakan jihad fisabilillah. Hal ini penting kita kemukakan agar bahasan kita ini tidak terkesan subyektif. [Hermanto]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar