Senada dengan yang dikemukakan Prof. Shihab, kami melihat bahwa menurut fitrahnya, manusia itu adalah makhluk beragama. Hanya saja tidak semua orang menyadarinya. Kita katakan hal ini bukan karena kita sudah menganut suatu agama. Pangkal kefitrahan manusia adalah naluri alamiahnya untuk menyembah atau mengabdi kepada suatu objek, atau wujud yang dipandangnya lebih tinggi, atau yang menguasai dirinya.
Pandangan kefitrahan mengenai agama ini, bukan hanya definisi kaum agamawan, tetapi sekarang ini juga sudah dielaborasi oleh psikologi, yang menyimpulkan bahwa manusia secara naluriah adalah beragama, karena beragama adalah kebutuhannya. Kiranya tidak ada manusia yang hidup tanpa kerangka agama yang orientasi dan objeknya adalah pengabdian kepada yang dipandang lebih tinggi, yang dijadikan Tuhannya.
Kesimpulan tersebut menegaskan, dari definisi psikologis ini, persoalannya bukan pada apakah seseorang beragama atau tidak beragama, melainkan agama macam apa yang dianutnya, apakah agama yang dianutnya itu mendukung perkembangan potensi kemanusiaannya atau sebaliknya malahan melumpuhkannya.
Sesunggguhnya banyak sekali persoalan hidup manusia tidak dapat diatasi oleh dirinya sendiri. Misalnya, ketika manusia menghadapi goncangan jiwa yang amat dahsyat, ternyata banyak yang tidak mampu memecahkannya, bahkan tidak sedikit yang mengalami stres dan bunuh diri, atau mengambil jalan pintas dengan melakukan kejahatan, demi mengatasi masalah yang dihadapinya. Ketika manusia menghadapi kerusakan moral, ternyata mereka tidak mampu mengatasinya, walaupun secara lahiriyah sudah dilakukan.
Begitu pula ketika manusia membutuhkan aturan hidup yang sempurna, lalu mereka membuat aturan-aturan hidup yang dibuatnya itu jauh dari sempurna. Satu kelompok manusia menerima aturan itu, kelompok yang lain menolak. Yang satu merasa diuntungkan, yang lain merasa dirugikan, dan sering sekali aturan itu bertentangan dengan fitrah manusia.
Di samping itu Prof. Shihab juga menyebutkan; “…. kita belum mengenal siapa Tuhan, apalagi mampu meneladani-Nya sesuai kemampun kita sebagai makhluk… Pada umumnya kaum Muslimin memang demikian, kurang mendalami ilmu yang mengajarkan tentang Tuhan. Tidak sedikit di antara kita yang kurang mengenal Tuhan sehingga ajaran agama Tuhan dirasakan sebagai tekanan, paksaan, beban yang menyiksa dan menyempitkan gerak langkah manusia.” Karena itulah Prof. Shihab menekankan perlunya kita mengenal siapa Tuhan sesuai kemampun kita sebagai makhluk.
Sebagai ‘resonansi’ atas pendapat Prof. Shihab di atas, kita ummat Islam meyakini bahwa Islam adalah tuntunan hidup yang datang dari Allah Yang Menciptakan Alam Semesta. Islam adalah agama yang diperlukan agar hidup terarah, teratur, terpelihara, dan terpuji di dunia, dan selamat di akhirat. Kehidupan seperti itu dapat dirasakan, jika didasari pengakuan kepada Allah sebagai Tuhan Yang Esa, sehingga, karena itulah Islam dinamakan agama Tauhid, yakni ber-Tuhan Satu, tidak mengakui dan tidak membenarkan adanya Tuhan selain Allah.
Itulah dasar agama Islam sebagaimana firman Allah SWT: “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan mohon ampunlah atas dosamu dan dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan Allah mengetahui tempat perpindahanmu dan menetapmu.” [QS Muhammad (47): 19].
Sejak Nabi Adam AS sampai sekarang, semua rasul, nabi dan para ulama selalu mengajarkan agama Tauhid ini, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan Kami tidak mengutus rasul sebelummu kecuali Kami berikan wahyu kepadanya, bahwa tak ada Tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu menyembah Aku.” [QS Al Anbiyaa’ (21): 25].
Maka jelas bagi kita, bahwa semua rasul, nabi dan kita ummat manusia seluruhnya harus dan wajib mengetahui, mengimani dan meyakini ke-Esaan Allah, sebagai satu-satunya Tuhan yang harus dan wajib disembah. Untuk mengetahui dan mengenal Tuhan, diperlukan kesungguhan, kesabaran, keuletan, dan kemauan yang kuat. Memang tidaklah mudah untuk meyakini adanya Allah, Tuhan Yang Masa Esa itu, karena: 1) Allah tidak memperlihatkan wajah-Nya, 2) Allah itu ghaib; artinya tidak kelihatan, tidak nampak dengan indera. Kita biasa melihat, meraba, merasa, mencium, dan sebagainya dengan pancaindera, tetapi kita jarang melatih diri dengan akal kita untuk mengkaji ke arah yang ghaib.
Iman kepada Allah itu adalah suatu syarat mutlak untuk mencapai dan mendapatkan keindahan dan kenikmatan kehidupan di dunia ini sampai di akhirat nanti. Allah SWT itu menginginkan supaya orang yang beriman merasakan karunia-Nya. Allah SWT ingin menyempurnakan nikmat-Nya kepada orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tapi hendak mensucikan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu, agar kamu sekalian bersyukur. [QS Al Maaidah (5): 6].
Demikian pentingnya kita menyadari bahwa Allah SWT itu sangat mencintai manusia. Namun sebaliknya kita manusia justru tidak atau kurang menyadari tentang Alllah, atau dengan kata lain Tauhidnya kurang, sehingga kurang merasakan indahnya iman dan kurang merasakan adanya keuntungan dari hukum dan ketentuan Allah SWT. Untuk itulah, kita perlu belajar Ilmu Tauhid, dan menyadari bahwa kita datang ke dunia ini tidak membawa apa-apa sampai diberi segala kebutuhan kita di dunia.
Maka, kita harus tahu siapa yang memberi itu, yaitu Allah SWT. Kita harus mengerti kedudukan Allah, kemauan, kebesaran kehidupan, kekuasaan, kekayaan, ilmu, dan kerajaan Allah, hubungan Allah dengan manusia, apa untung dan ruginya jika tidak berhubungan dengan Allah, kita harus tahu sedihnya siksaan Allah, dan mengerti kemurahan dan kasih sayang-Nya.
Karena itu, alangkah bijaksananya jika dalam kesibukan apapun, kita bisa meluangkan waktu untuk merenungkan pemahaman kita terhadap agama Islam yang kita anut selama ini, karena mungkin ada sesuatu yang terlewat. Kita perlu belajar kembali ibarat seorang bayi yang baru dilahirkan dari keluarga Muslim sekalipun, dalam menjalani hidupnya. Sesungguhnya dia hanya berbekal naluri untuk melanjutkan hidupnya sampai menjadi seorang dewasa yang mandiri. Maka dibutuhkan tahapan-tahapan yang memakan waktu relatif panjang untuk memahami hakikat hidup di dunia, dan mempersiapkan diri untuk hidup di hari kemudian.
Betapapun mulianya seorang bayi, apakah dia anak seorang bangsawan, jenderal atau penguasa negeri, ketika lahir tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, misalnya saja dalam urusan makan. Seorang ibu, secara arif naluriah akan memberi makan buah hatinya itu secara bertahap disesuaikan dengan tingkat usia dan kemampuan fisik si bayi.
Hari-hari pertama kelahirannya hanya air susu yang boleh dikonsumsikan. Kemudian di usia empat bulan ditambah dengan bubur susu dan biskuit. Di atas enam bulan diberi tambahan bubur nasi. Setelah berusia satu tahun baru diberikan nasi tim dan kemudian nasi biasa, dan seterusnya. Demikian pula berdakwah kepada mereka yang hidup dalam lingkungan materialistis, individualistis dan hedonis, harus berbeda kiat dan caranya dengan berdakwah kepada ahli masjid dan penuntut / pengamal ilmu (ahlul ilmi).
Apabila kepada seseorang yang hidupnya terjauh dari agama, penuh amalan bid’ah, tradisi, adat, khufarat dan maksiat, kepadanya langsung diberikan dakwah yang salafy (sesuai yang diamalkan para pendahulu yang shalih) tanpa melalui tahapan-tahapan, maka ibarat memberikan makanan masakan Padang kepada bayi yang baru dilahirkan, yang tentu saja dia tidak akan bisa menerimanya. Dia akan memuntahkan, kapok, trauma, tidak mau makan lagi, karena masakan Padang terlalu pedas baginya, dan gigi belum siap mengunyah, dan ususpun belum siap mencernanya.
Kita harus menyadari bahwa menjadikan bangsa ini menjadi bangsa ‘beragama’ dan ‘mengenal Tuhan’, yang perlu diperbaiki adalah kemampuan para ulama untuk menyampaikan dakwah Islam secara tepat, dan memberikan teladan yang benar sesuai apa yang diajarkannya. Para ulama harus bisa menjawab tantangan bahwa bahwa tugas mereka bukan hanya menyampaikan dakwah, melainkan juga memberikan keteladanan dan merumuskan langkah yang tepat dalam penerapannya.
Apakah manfaat ajaran Islam jika tidak bisa diterapkan secara hakiki di kalangan ummat Islam sendiri, sementara ini umara dan ummat Islam menerapkan sistem di bidang sosial, politik dan ekonomi, hukum, dan lainnya, yang bukan dari ajaran Islam? Di sinilah peran para ulama yang harus selalu mengingatkan dan menasihati para umara dan ummat / rakyat apabila terdapat kekeliruan dalam beragama.
Bagaimana kita memandang bangsa lain yang non Muslim tetapi bisa membangun masyarakat dengan tertib dan hidup sejahtera? Alangkah malunya kita memiliki agama Islam yang sempurna tetapi masyarakatnya bobrok. Meskipun Indonesia bukan negara Islam atau negara sekuler yang memberlakukan Syariat Islam bagi pemeluknya, apakah kita tidak merasa perlu menjadikan Syariat Islam diterapkan secara optimal dalam kehidupan bermasyarakat? Bukankah dengan patuhnya ummat Islam melaksanakan syariatnya, maka ummat agama lain akan terlindungi hak-haknya, karena Islam mengajarkan demikian?
Allah SWT berfirman: “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, janganlah berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan .” [QS Al Qashash (28): 77]. Memang tujuan akhir hidup kita adalah akhirat sebagaimana disebutkan dalam suku kalimat pertama ayat di atas.
Namun seperti disebutkan dalam suku kalimat kedua berikutnya dari ayat tersebut, kita tidak boleh lupa bahwa saat ini kita sedang hidup di alam dunia yang mengharuskan bekerja keras mencari bahagian kenikmatan di di dunia agar hidup kita makmur dan sejahtera, sebagaimana disebutkan pada suku kalimat ketiga "berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. Dan pada bagian akhir suku kalimat, kita diperingatkan agar tidak berbuat kerusakan di bumi seperti yang banyak dilakukan manusia saat ini, dan kita merasakan sendiri apa akibatnya.
Kita ambil sebuah contoh kejadian seseorang yang menemukan barang terjatuh dan kemudian mengambilnya dengan maksud memiliki barang temuan yang tidak diketahui pemiliknya itu. Siapa saja yang mengalami kejadian itu seharusnya menasihati dirinya bahwa tindakan itu salah. Mengapa? Kita seyogyanya memikirkan bagaimana cara mengembalikan barang terjatuh itu kepada pemiliknya.
Ini memang bukan perkara yang mudah. Berapa banyak di negeri kita kasus kehilangan barang yang bisa ditemukan kembali oleh pemiliknya? Namun, di negara-negara maju yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, banyak tempat bertuliskan ‘Lost and found’, atau ditulis dalam bahasa negara bersangkutan, yang merupakan tempat menitipkan barang temuan yang bukan miliknya, dan juga merupakan tempat menanyakan atau mengambil barang-barang yang hilang, siapa tahu barangnya ditemukan orang lain dan dititipkan di situ.
Mengapa di negeri kita tidak ada tempat penitipan barang temuan seperti di negara-negara maju? Sebaiknya Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan pengkajian untuk menyusun buku panduan tentang budi pekerti bagi ummat Islam Indonesia agar direkomendasikan kepada departemen pendidikan nasional, dan kemudian bersama-sama menyosialisasikan kepada ummat.
Betapapun baik dan sempurnanya ajaran suatu agama, tanpa metoda pengajaran yang baik dan teladan penerapan yang benar kepada ummatnya, maka ajaran itu hanyalah literatur belaka. Jika demikian, maka agama tidak akan mendukung perkembangan potensi kemanusiaannya melainkan justru sebaliknya akan melumpuhkannya.
Tidak sadarkah kita bahwa meskipun bukan mencuri, barang temuan itu bukanlah milik kita, bukan hak kita untuk memilikinya. Bagaimana rasanya jika barang milik kita hilang dan tak bisa kembali? Sikap diam-diam memiliki sesuatu yang bukan haknya seperti itu pulalah salah satu benih korupsi. Banyak orang yang berpendirian “barang sudah "ditakdirkan’ jatuh, maka itu rizkiku”. Mereka berpikir, itu rizki dari Allah, padahal sebenarnya itu dari syeitan. Mereka lupa bahwa di mana mereka berada, di situ ada dua ‘kamerawan’ Malaikat yang sangat profesional, yang siap membidik perbuatan kita dari pelbagai sudut, dan mereka mengabaikan firman Allah “berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. Memang masih terlalu banyak kesalahan kita sehingga, wajar jika krisis yang kita alami belum kunjung teratasi. [Hermanto]
Fantastik! Ini benar-benar terobosan untuk menetapi as shiraath al mustaqiim.
BalasHapus