Taqwa merupakan wasiat Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang pertama hingga yang terakhir. Taqwa merupakan faktor yang menjadikan manusia dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang bertaqwa, maka Allah SWT akan mengaruniainya Al Furqan, sehingga ia akan mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Barang siapa yang bertaqwa, Allah SWT akan memberikan baginya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Orang yang bertaqwa akan mendapatkan tempat yang aman di akhirat. Sungguh ia akan berada di tempat yang mulia di sisi Allah SWT.
Hakikat taqwa, adalah mencari perisai yang bisa melindungi diri kita dari adzab Allah, yaitu dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Apabila mampu berbuat demikian, maka kita akan menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah. Untuk itu, semestinya kita berhati-hati dalam bertindak, bersikap cermat dan berilmu tentang halal dan haram, selalu melihat setiap perbuatan kita, apakah termasuk perbuatan yang diridhai Allah SWT, atau sebaliknya, apabila perbuatan kita termasuk yang dibenci-Nya, maka kita wajib untuk meninggalkannya. Jangan sampai Allah melihat kita berada dalam keadaan yang tidak Dia sukai.
Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha agar berada dalam keadaan yang diridhai-Nya. Allah senang apabila kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat, taat kepada aturan-Nya, berbakti kepada kedua orang tua, dan tekun menuntut ilmu. Marilah kita selalu berusaha untuk meninggalkan perbuatan yang dibenci Allah SWT. Jangan mendatangi kemaksiatan, tinggalkan perbuatan zina, mencuri, dusta, ghibah, dan fitnah. Dan yang paling besar dari itu semua, yaitu meninggalkan perbuatan syirik; suatu perbuatan dan pelaku kemaksiatan yang paling dibenci oleh Allah SWT, karena Allah tidak ridha disekutukan. Allah hanya ridha, apabila hamba-hamba-Nya beriman dan bertauhid kepada-Nya. Maka, marilah kita menjadi hamba-Nya yang beriman dan bertauhid kepada-Nya.
Allah SWT telah menyeru kita semua dengan firman-Nya; “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang kamu kerjakan.” [QS Al Hasyr (59): 18]. Melalui ayat ini Allah SWT menunjukkan kepada kita dua perkara. Barangsiapa melaksanakan dua perkara ini, maka ia termasuk orang yang bertaqwa.
> Pertama. Muhasabah, yakni mengoreksi. Hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok. Muhasabah sangat membantu seseorang untuk bertaqwa kepada Allah. Barangsiapa melakukan muhasabah, maka ia akan mengetahui ketaatan maupun kemaksiatan yang telah ia kerjakan. Sehingga, apabila ia melakukan ketaatan, hendaklah diteruskan. Dan apabila melakukan kemaksiatan, maka ia wajib untuk berhenti dan meninggalkannya.
Muhasabah juga sangat membantu seseorang istiqamah di jalan Allah, sehingga para salaf berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT.” Barangsiapa yang dihisab oleh Allah SWt, sungguh ia akan mendapatkan siksa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada ‘Aisyah RA; “Barangsiapa yang dihisab oleh Allah, maka sesungguhnya Allah akan mengadzabnya”.
Oleh karena tiu, hendaklah kita selau mengoreksi diri. Apabila kita terjerumus ke dalam kesalahan. Segeralah bertaubat kepada-Nya. Allah sangat senang menerima taubat hamba-Nya. Allah selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat manusia yang telah berbuat kesalahan di waktu siang. Begitu pula Allah selalu membuka tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat seseorang yang telah berbuat kesalahan di waktu malam.
Demikianlah, muhasabah merupakan perkara sangat penting. Oleh karena itu, para salaf selalu bermuhasabah terhadap diri mereka sebagaimana orang yang terjun dalam perdagangan. Apakah ia mendapatkan keuntungan, atau justru mengalami kerugian. Karena itu, marilah kita koreksi diri masing-masing, bekal apa yang telah kita persiapkan untuk menghadap Allah SWT.
Suatu ketika, Sulaiman ibnu ‘Abdil Malik pernah bertanya kepada Abu Hazim, “Mengapa kita merasa benci terhadap kematian dan cinta terhadap dunia?” Maka pertanyaan ini dijawab, “Wahai Amirul Mukminin, hal ini karena kita telah merusak akhirat kita dan memperbagus dunia kita. Tentulah seseorang tidak akan senang untuk pindah dari rumah yang bagus ke rumah yang telah rusak”.
Sungguh benar. Banyak di kalangan kita yang sibuk dengan dunia dan lalai berbuat taat kepada Allah. sehingga ia pun mengetahui, tidak ada bagian sedikit pun untuk kehidupan akhirat. Dengan demikian, ia benci dan takut terhadap kematian yang pasti akan mengantarkannya ke akhirat. Adapun orang-orang yang cinta, taat dan selalu mengerjakan perintah-perintah Allah, maka dia tidak takut terhadap kematian. Sehingga tidak mengherankan, tatkala diseru untuk berperang, para salaf yang mengatakan, “Esok hari akan datang kematian yang kita cintai…,” hal ini karena mereka selalu beramal shalih. Dengan amal shalih itu, mereka tidak takut terhadap kematian dan hisab. Maka, jelaslah bagi kita, muhasabah merupakan perkara penting yang sangat membantu seseorang untuk bertakwa kepada Allah SWT.
> Kedua. Muraqabah. Yakni kesadaran seseorang yang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Ketika seseorang merasa enggan berbuat taat, maka iapun sadar bahwa Allah melihatnya, sehingga ia pun akan kembali untuk segera berbuat taat kepada Allah, Ketika seseorang berhasrat melakukan kemaksiatan, maka ia sadar bahwa Allah melihatnya, sehingga ia pun akan berhenti dari keinginannya itu dan segera kembali kepada jalan-Nya.
Demikianlah, muraqabah merupakan hal penting yang sangat membantu seseorang untuk takwa kepada Allah SWT, oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal dengan sabdanya, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada…”
Marilah kita bertaqwa kepada Allah setiap waktu dan di setiap tempat. Ketahuilah, bahwasannya Allah selalu mengawasi setiap gerakan kita. Manusia lupa bahwa di mana mereka berada, di situ ada dua ‘kamerawan’ Malaikat yang sangat profesional, yang siap membidik perbuatan mereka dari pelbagai sudut.
Barangsiapa telah menyadari bahwa Allah SWT selalu mengawasi setiap gerakannya, maka sungguh sangat membantu dirinya dalam bertakwa kepada Allah SWT. Marilah kita memohon kepada Allah SWT, supaya menjadikan kita orang-orang yang bertakwa kepada-Nya saat di keramaian maupun tatkala sendiri.
Dengan senantiasa melakukan muhasabah dan membiasakan muraqabah, akan dapat memudahkan kita untuk menuju taqwa, yang ujungnya adalah mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Allah sangat senang apabila kita menjadi orang-orang yang melaksanakan sunnah-sunnah Nabi-Nya. Oleh karena itu, marilah kita jauhkan diri dari perbuatan bid’ah, tinggalkan setiap larangan Allah. adapun ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya akan menjadi penyebab kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman; “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” [QS Al Infithaar (82): 13-14]
Orang yang banyak berbuat kebaikan (abrar), selalu dalam kenikmatan yang diberikan Allah di dunia maupun di akhirat. Adapun kaum yang banyak berbuat kejahatan (fajir), mereka akan selalu berada dalam kesengsaraan di dunia dan akhirat. Ibnul Qayyum berkata; “Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan menyamakan antara orang-orang yang berbuat taat dengan orang-orang yang maksiat, maka sesungguhnya ia telah berprasangka buruk terhadap Allah SWT.”
Allah SWT berfirman: “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat. [QS Shaad (38): 28]. Jawaban atas pertanyaan dalam ayat Allah tersebut; tentu tidak. Barangsiapa beriman dan bertakwa, maka ia akan mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan. Adapun orang-orang yang suka bermaksiat, maka ia akan mendapatkan kesusahan dan kesempitan.
Allah SWT juga berfirman; “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat". Allah berfirman; "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari inipun kamu dilupakan". [QS Thaahaa (20): 124-126]. Jadi, barangsiapa berpaling dari peringatan Allah dan kataatan kepada Allah SWT, berpaling dari ilmu yang bermanfaat, maka ia seperti orang yang buta. Dan ia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta.
Adapun orang yang beriman kepada Allah, maka akan mendapat pahala yang lebih besar daripada yang dikerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya; “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [QS An Nahl (16): 97].
Orang-orang yang akan dekat dengan Allah SWT, mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagian salaf berkata; “Sesungguhnya ada taman penuh kebahagiaan di dunia ini. Barangsiapa tidak memasukinya, maka ia tidak akan dapat memasuki surga yang ada di akhirat.” Taman yang dimaksud ialah kebahagiaan yang diperoleh dengan ketaatan dan kedekatan dengan Allah SWT.
Demikianlah peringatan untuk kita semua pentingnya senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Kita memohon kepada Allah, semoga menjadikan kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaqwa, dan menutup akhir hayat kita dengan husnul khatimah. Wallahu ‘alam. [Hermanto]
Hakikat taqwa, adalah mencari perisai yang bisa melindungi diri kita dari adzab Allah, yaitu dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Apabila mampu berbuat demikian, maka kita akan menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah. Untuk itu, semestinya kita berhati-hati dalam bertindak, bersikap cermat dan berilmu tentang halal dan haram, selalu melihat setiap perbuatan kita, apakah termasuk perbuatan yang diridhai Allah SWT, atau sebaliknya, apabila perbuatan kita termasuk yang dibenci-Nya, maka kita wajib untuk meninggalkannya. Jangan sampai Allah melihat kita berada dalam keadaan yang tidak Dia sukai.
Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha agar berada dalam keadaan yang diridhai-Nya. Allah senang apabila kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat, taat kepada aturan-Nya, berbakti kepada kedua orang tua, dan tekun menuntut ilmu. Marilah kita selalu berusaha untuk meninggalkan perbuatan yang dibenci Allah SWT. Jangan mendatangi kemaksiatan, tinggalkan perbuatan zina, mencuri, dusta, ghibah, dan fitnah. Dan yang paling besar dari itu semua, yaitu meninggalkan perbuatan syirik; suatu perbuatan dan pelaku kemaksiatan yang paling dibenci oleh Allah SWT, karena Allah tidak ridha disekutukan. Allah hanya ridha, apabila hamba-hamba-Nya beriman dan bertauhid kepada-Nya. Maka, marilah kita menjadi hamba-Nya yang beriman dan bertauhid kepada-Nya.
Allah SWT telah menyeru kita semua dengan firman-Nya; “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang kamu kerjakan.” [QS Al Hasyr (59): 18]. Melalui ayat ini Allah SWT menunjukkan kepada kita dua perkara. Barangsiapa melaksanakan dua perkara ini, maka ia termasuk orang yang bertaqwa.
> Pertama. Muhasabah, yakni mengoreksi. Hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok. Muhasabah sangat membantu seseorang untuk bertaqwa kepada Allah. Barangsiapa melakukan muhasabah, maka ia akan mengetahui ketaatan maupun kemaksiatan yang telah ia kerjakan. Sehingga, apabila ia melakukan ketaatan, hendaklah diteruskan. Dan apabila melakukan kemaksiatan, maka ia wajib untuk berhenti dan meninggalkannya.
Muhasabah juga sangat membantu seseorang istiqamah di jalan Allah, sehingga para salaf berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT.” Barangsiapa yang dihisab oleh Allah SWt, sungguh ia akan mendapatkan siksa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada ‘Aisyah RA; “Barangsiapa yang dihisab oleh Allah, maka sesungguhnya Allah akan mengadzabnya”.
Oleh karena tiu, hendaklah kita selau mengoreksi diri. Apabila kita terjerumus ke dalam kesalahan. Segeralah bertaubat kepada-Nya. Allah sangat senang menerima taubat hamba-Nya. Allah selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat manusia yang telah berbuat kesalahan di waktu siang. Begitu pula Allah selalu membuka tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat seseorang yang telah berbuat kesalahan di waktu malam.
Demikianlah, muhasabah merupakan perkara sangat penting. Oleh karena itu, para salaf selalu bermuhasabah terhadap diri mereka sebagaimana orang yang terjun dalam perdagangan. Apakah ia mendapatkan keuntungan, atau justru mengalami kerugian. Karena itu, marilah kita koreksi diri masing-masing, bekal apa yang telah kita persiapkan untuk menghadap Allah SWT.
Suatu ketika, Sulaiman ibnu ‘Abdil Malik pernah bertanya kepada Abu Hazim, “Mengapa kita merasa benci terhadap kematian dan cinta terhadap dunia?” Maka pertanyaan ini dijawab, “Wahai Amirul Mukminin, hal ini karena kita telah merusak akhirat kita dan memperbagus dunia kita. Tentulah seseorang tidak akan senang untuk pindah dari rumah yang bagus ke rumah yang telah rusak”.
Sungguh benar. Banyak di kalangan kita yang sibuk dengan dunia dan lalai berbuat taat kepada Allah. sehingga ia pun mengetahui, tidak ada bagian sedikit pun untuk kehidupan akhirat. Dengan demikian, ia benci dan takut terhadap kematian yang pasti akan mengantarkannya ke akhirat. Adapun orang-orang yang cinta, taat dan selalu mengerjakan perintah-perintah Allah, maka dia tidak takut terhadap kematian. Sehingga tidak mengherankan, tatkala diseru untuk berperang, para salaf yang mengatakan, “Esok hari akan datang kematian yang kita cintai…,” hal ini karena mereka selalu beramal shalih. Dengan amal shalih itu, mereka tidak takut terhadap kematian dan hisab. Maka, jelaslah bagi kita, muhasabah merupakan perkara penting yang sangat membantu seseorang untuk bertakwa kepada Allah SWT.
> Kedua. Muraqabah. Yakni kesadaran seseorang yang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Ketika seseorang merasa enggan berbuat taat, maka iapun sadar bahwa Allah melihatnya, sehingga ia pun akan kembali untuk segera berbuat taat kepada Allah, Ketika seseorang berhasrat melakukan kemaksiatan, maka ia sadar bahwa Allah melihatnya, sehingga ia pun akan berhenti dari keinginannya itu dan segera kembali kepada jalan-Nya.
Demikianlah, muraqabah merupakan hal penting yang sangat membantu seseorang untuk takwa kepada Allah SWT, oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal dengan sabdanya, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada…”
Marilah kita bertaqwa kepada Allah setiap waktu dan di setiap tempat. Ketahuilah, bahwasannya Allah selalu mengawasi setiap gerakan kita. Manusia lupa bahwa di mana mereka berada, di situ ada dua ‘kamerawan’ Malaikat yang sangat profesional, yang siap membidik perbuatan mereka dari pelbagai sudut.
Barangsiapa telah menyadari bahwa Allah SWT selalu mengawasi setiap gerakannya, maka sungguh sangat membantu dirinya dalam bertakwa kepada Allah SWT. Marilah kita memohon kepada Allah SWT, supaya menjadikan kita orang-orang yang bertakwa kepada-Nya saat di keramaian maupun tatkala sendiri.
Dengan senantiasa melakukan muhasabah dan membiasakan muraqabah, akan dapat memudahkan kita untuk menuju taqwa, yang ujungnya adalah mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Allah sangat senang apabila kita menjadi orang-orang yang melaksanakan sunnah-sunnah Nabi-Nya. Oleh karena itu, marilah kita jauhkan diri dari perbuatan bid’ah, tinggalkan setiap larangan Allah. adapun ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya akan menjadi penyebab kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman; “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” [QS Al Infithaar (82): 13-14]
Orang yang banyak berbuat kebaikan (abrar), selalu dalam kenikmatan yang diberikan Allah di dunia maupun di akhirat. Adapun kaum yang banyak berbuat kejahatan (fajir), mereka akan selalu berada dalam kesengsaraan di dunia dan akhirat. Ibnul Qayyum berkata; “Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan menyamakan antara orang-orang yang berbuat taat dengan orang-orang yang maksiat, maka sesungguhnya ia telah berprasangka buruk terhadap Allah SWT.”
Allah SWT berfirman: “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat. [QS Shaad (38): 28]. Jawaban atas pertanyaan dalam ayat Allah tersebut; tentu tidak. Barangsiapa beriman dan bertakwa, maka ia akan mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan. Adapun orang-orang yang suka bermaksiat, maka ia akan mendapatkan kesusahan dan kesempitan.
Allah SWT juga berfirman; “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat". Allah berfirman; "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari inipun kamu dilupakan". [QS Thaahaa (20): 124-126]. Jadi, barangsiapa berpaling dari peringatan Allah dan kataatan kepada Allah SWT, berpaling dari ilmu yang bermanfaat, maka ia seperti orang yang buta. Dan ia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta.
Adapun orang yang beriman kepada Allah, maka akan mendapat pahala yang lebih besar daripada yang dikerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya; “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [QS An Nahl (16): 97].
Orang-orang yang akan dekat dengan Allah SWT, mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagian salaf berkata; “Sesungguhnya ada taman penuh kebahagiaan di dunia ini. Barangsiapa tidak memasukinya, maka ia tidak akan dapat memasuki surga yang ada di akhirat.” Taman yang dimaksud ialah kebahagiaan yang diperoleh dengan ketaatan dan kedekatan dengan Allah SWT.
Demikianlah peringatan untuk kita semua pentingnya senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Kita memohon kepada Allah, semoga menjadikan kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaqwa, dan menutup akhir hayat kita dengan husnul khatimah. Wallahu ‘alam. [Hermanto]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar